JOMBANG | JATIMSATUNEWS.COM: Peran perempuan dalam mencegah dan menangkal radikalisme berbasis agama menjadi salah satu perhatian penting dalam rangkaian Seminar Nasional dan Bahtsul Masail Asosiasi Profesor Muslimat Nahdlatul Ulama (APMNU) di Jombang, Kamis (28/8/2026).
Salah satu gagasan akademik yang mengemuka dituangkan dalam karya Prof. Dr. Umi Sumbulah, profesor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, berjudul “Domestic and Cultural Bulwarks: The Strategic Role of Muslimat Nahdlatul Ulama in Mitigating Religion-Based Radicalism in Indonesia.”
Karya tersebut menjadi salah satu produk keilmuan yang diluncurkan APMNU dalam rangkaian kegiatan Muktamar ke-35 NU. Kajian ini secara khusus menempatkan Muslimat NU sebagai kekuatan strategis di tingkat akar rumput dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap ideologi ekstremisme.
Baca juga: Pengajian Jumat Pahing PAC Muslimat NU Widodaren Ngawi Dihadiri 25 Ribu Jamaah
Prof. Umi melihat adanya perubahan signifikan dalam lanskap radikalisme agama di Indonesia selama satu dekade terakhir. Perempuan yang sebelumnya lebih sering dipandang sebagai kelompok pendukung pasif, kini dalam sejumlah kasus justru dapat terlibat sebagai pelaku aktif.
Perubahan tersebut, menurut kajian Prof. Umi, membutuhkan strategi pencegahan yang tidak hanya mengandalkan pendekatan keamanan ataupun kebijakan pemerintah yang bersifat top-down.
Sebaliknya, penguatan masyarakat dari tingkat paling dasar menjadi sangat penting. Dalam konteks tersebut, Muslimat NU dinilai memiliki modal sosial yang besar karena mempunyai jaringan organisasi yang luas dan dekat dengan keluarga serta komunitas masyarakat.
Tiga Strategi Muslimat NU
Melalui penelitian kualitatif berbasis kajian pustaka dan analisis dokumen formal, Prof. Umi mengidentifikasi setidaknya tiga strategi yang dapat menjadi kekuatan Muslimat NU dalam mencegah radikalisme.
Pertama, penguatan pendidikan keluarga melalui madrasah ula.
Keluarga menjadi benteng pertama dalam membangun karakter dan pemahaman keagamaan anak. Pendidikan agama yang moderat sejak lingkungan keluarga dinilai penting untuk membangun daya tahan generasi muda terhadap narasi ekstremisme.
Kedua, membangun narasi tandingan melalui Majelis Taklim.
Majelis Taklim tidak hanya menjadi ruang pembelajaran keagamaan, tetapi juga dapat menjadi ruang membangun narasi keislaman yang moderat, damai, inklusif, serta berakar pada budaya masyarakat Indonesia.
Ruang-ruang keagamaan berbasis komunitas tersebut dapat menjadi instrumen penting untuk melawan narasi ekstrem yang berpotensi berkembang melalui lingkungan sosial maupun ruang digital.
Ketiga, membangun ketahanan ekonomi melalui koperasi.
Menurut kajian tersebut, pemberdayaan ekonomi juga tidak dapat dipisahkan dari strategi pencegahan radikalisme. Penguatan ekonomi perempuan dan keluarga melalui koperasi dapat membantu mengurangi kerentanan finansial yang berpotensi dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok ekstrem.
Muslimat NU sebagai Benteng Budaya
Prof. Umi menempatkan Muslimat NU bukan hanya sebagai organisasi perempuan keagamaan, tetapi sebagai cultural bulwark atau benteng budaya dalam menjaga ketahanan sosial masyarakat.
Jaringan Muslimat NU yang bersentuhan langsung dengan keluarga, majelis taklim, pendidikan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat menjadi modal sosial yang sangat besar.
Posisi tersebut sekaligus memungkinkan Muslimat NU menjadi mitra informal negara dalam pencegahan radikalisme.
Jika negara bekerja melalui kebijakan dan program formal, organisasi masyarakat seperti Muslimat NU dapat memperkuat upaya tersebut melalui pendekatan sosial, kultural, keagamaan, dan kekeluargaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kajian ini juga menawarkan perspektif penting bahwa perempuan jangan hanya ditempatkan sebagai objek dalam agenda pencegahan radikalisme.
Sebaliknya, perempuan harus dipandang sebagai agen perubahan yang memiliki kemampuan untuk membangun ketahanan keluarga dan komunitas.
Profesor Perempuan Harus Berdampak

Gagasan Prof. Umi Sumbulah tersebut sejalan dengan semangat APMNU yang mendorong para profesor perempuan Muslimat NU agar tidak hanya produktif dalam bidang akademik, tetapi juga menghadirkan karya yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Dalam rangkaian kegiatan di Jombang, APMNU meluncurkan tiga produk keilmuan sebagai bagian dari penguatan kontribusi profesor perempuan Muslimat NU.
Peluncuran tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan kekuatan akademik dengan kebutuhan masyarakat. Sekitar 210 profesor perempuan yang tergabung dalam APMNU memiliki latar belakang keilmuan yang beragam sehingga dapat memberikan kontribusi melalui berbagai perspektif dalam menjawab persoalan bangsa.
Karya Prof. Umi Sumbulah menjadi salah satu contoh bagaimana keilmuan dapat diarahkan untuk membaca persoalan sosial secara lebih mendalam.
Radikalisme tidak semata-mata dipandang sebagai persoalan keamanan, tetapi juga sebagai persoalan pendidikan, keluarga, budaya, ekonomi, dan ketahanan sosial.
Dari keluarga, majelis taklim hingga koperasi, kajian tersebut menawarkan pesan bahwa pencegahan radikalisme dapat dibangun dari ruang-ruang kehidupan masyarakat yang paling dekat dengan perempuan.
Melalui penguatan peran tersebut, Muslimat NU diharapkan semakin mampu menjadi kekuatan masyarakat sipil yang menjaga moderasi beragama sekaligus memperkuat ketahanan keluarga dan komunitas di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.