Langsung ke konten
Sabtu, 29 Agustus 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Kolom

Meneladani Kepribadian Rasulullah SAW.

Tahun 1448 H penting untuk mengambil keteladanan atau studi tiru dari manusia mulia Rasulullah SAW.. Salah satu keteladanan yang bisa di tiru: kejujuran

Syaifu Nu’man, S.Ag ,Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Malang

Syaifu Nu’man, S.Ag ,Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Malang

KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: Pada peringatan kelahiran nabi Muhammad Saw. Tahun 1448 H penting untuk mengambil keteladanan atau studi tiru dari manusia mulia Rasulullah SAW.. Salah satu keteladanan yang bisa di tiru: kejujuran, tanggungjawab, tranparan, dan cerdas. Dengan harapan bangsa ini dapat meniru karakter Rasulullah SAW. untuk mengatasi korupsi, pengangguran, tindak kejahatan, diskriminasi, kurangnya rasa empati, arogansi kekuasaan, penindasan, ketidakadilan, tipisnya rasa memiliki NKRI.

Dengan prinsip keteladanan yang telah di tancapkan Nabi Muhammad SAW. meliputi: karakter kejujuran, tanggungjawab, akuntabilitas, dan cerdas yang telah menyatu dalam diri-Nya baik perkataan, hati maupun perbuatan. telah membawa keberhasilan dalam membangun komunikasi pada publik., seperti :
Nabi Muhammad SAW. memperoleh kesuksesan ketika masih kecil diberi kepercayaan mengembala kambing, ketika diajak berdagang, dan memperoleh kepercayaan sebagai pegawai khatidjah, serta sukses menjadi pemimpin keluarga maupun menjadi pemimpin negara.

Kesuksesan Rasulullah SAW. Tidak terjadi secara instan, ada perjalanan yang panjang dan berliku serta memerlukan kerja keras untuk mencapainya. Hal demikian dapat dicermati secara geologis, beliau dilahirkan di kota Makkah Mukarramah, negeri ini alamnya tandus, gersang, kering, tidak ada pertanian, dan udara sangat panas. Untuk mencari kebutuhan hidup tidak mengandalkan sumberdaya alam, tapi mengantungkan pada kekuatan yang bersumber manusia.

Baca juga: Tahun baru, kepribadian baru

Baca juga: Mengajarkan dan Meningkatkan Kreativitas, Mahasiswa KKN-T 03 Desa Jarak Memperkenalkan Karya Seni Kolase Kepada Siswa-siswi SDN 01 Jarak

Menyadari kondisi alam di jazirah Arabia, beliau tidak gampang putus asa dan menyerah kepada keadaan, Nabi Muhammad Saw memacu prestasi hidup dengan mengoptimalkan potensi diri dengan mengandalkan sifat jujur, amanah, tabligh dan fathonah yang tercerminkan pada prilakunya sesuai firmannya dalam Qs. Al Ahzab ayat 21:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Bentuk kepribadian Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW. membangun kepribadian yang tangguh, kuat dan militan bukan bermodalkan uang yang banyak, mengandalkan jabatan, tetapi ketangguhan beliau bermodalkan pada 4 prinsip :

  1. Pertama, sifat shidiq /jujur, berkata benar, yang di miliki Rasulullah SAW. berdampak pada karier beliau, mulai usia anak-anak, memperoleh kepercayaan untuk mengembala kambing guna menghidupi dirinya, masuk usia remaja oleh pamannya Abu Thalib di ajak berdagang, Kemudian sosok Muhammad sebagai pemuda yang mempunyai kepribadian yang jujur keponakan dari Abu Thalib ini terdengar oleh siti khatidjah seorang pengusaha yang kaya. Dan akhirnya khatidjah jatuh hati atas kepribadian yang dimiliki Nabi Muhammad, kemudian mengangkat sebagai pegawainya dan mendapat kepercayaan khatidjah sang saudagar kaya untuk memasarkan produk dagangannya, subhanallah keberuntungan yang diperoleh berlipat-lipat dan khatidjah sangat senang bisnisnya berkembang dengan pesat, dan menjadikan Muhammad sebagai istri. Keluarga beliau bahagia dan harmonis. Lalu Allah memberi kepercayaan kepada Muhammad sebagai Rasulullah Saw. keteladanan yang bisa diambil pemimpin berani menjadi contoh berkata jujur kepada rakyat, tidak berdusta, tidak melakukan pembohongan kepada publik.dan berani mengakui kesalahan, dan yang di pimpin berani menyampaikan aspirasi secara santun dan tidak menyakiti. majikan memberi upah sesuai UMR, buruh bekerja dengan benar, tokoh agama bisa menjadi penuntun umat, pendidk berinovasi untuk mencerdaskan siswa. Dan sejenisnya.
  2. Kedua, Amanah itu sesuatu yang dipercayakan atau yang dititipkan kepada seseorang, baik berupa harta, rahasia, tugas dan tanggungjawab, yang wajib di jaga dan disampaikan kepada yang berhak. Kepribadian ini telah melekat pada diri Rasulullah Saw. yang setiap waktu diberikan amanah oleh siapapun selalu menjalankannya dengan baik dan penuh tanggungjawab. diceritakan dalam sebuah hadis:
    “Dari Abdullah Ibn Abdul Hamzah mengatakan: “Aku telah membeli sesuatu dari nabi sebelum menerima tugas kenabian dan karena masih ada urusan, maka aku menjanjikan untuk mengantar padanya, tetapi lupa, tapi teringat tiga hari kemudian akupun pergi ke tempat tersebut dan menemukan nabi masih di sana.” Nabi berkata , “Engkau telah
    membuatku resah, aku berada disini selama tiga hari menuggumu” (HR. Abu Daud). Dalam menjaga sikap amanah ( kepercayaan) NabiMuhammad SAW. menunggu tiga hari, Nabi Muhammad Saw. Juga menjalankan modal para janda, dan harta milik para anak yatim piatu dengan pembagian kesepakatan antara kedua belah pihak . Dalam Islam kita kenal dengan istilah “Sirkah” bagi hasil antara pemilik modal dan pelaku usaha. Kerjasama ini tertuang dalam QS. Shad (38):24): “Daud berkata: “Sesungguhnya dia telah berbuat lalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat lalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini”. Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertobat”. Dalam konteks sekarang, apabila pelaku usaha mendapat kepercayaan untuk menjalankan usaha dari pemilik modal melaksanakan penuh rasa tanggungjawab sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Dan pembagian keuntungan berbasis keadilan yang tidak saling menindas.
  3. Ketiga, Tabligh. Adalah sifat keterbukaan dalam transaksi agar terhindar dari penipuan. Rasulullah SAW. menyampaikan : “Dari Aisyah pernah berkata, “Rasulullah SAW. Dan Abu Bakar pernah mengontrak (tenaga) orang sebagai penunjukk jalan, sedangkan orang tersebut beragama seperti agamanya orang kafir Qurais. Kemudian beliau memberikan kedua kendaraannya kepada orang tersebut. Beliau lalu mengambil janji orang teresebut (agar berada ) di gua Tsur setelah tiga malam, dengan membawa kendaraan beliau pada waktu subuh”. Dari ungkapan hadis ini nabi Muhammad SAW. Mengajarkan tranparansi dalam Setiap transaksi yang meliputi: tranparansi dalam mengelola keuangan negara karena uang negara itu pajak dari rakyat, tranparansi keuangan perusahaan, pemberian upah buruh sesuai kinerjanya, tranparansi dalam pengelolaan keuangan keluaga.
  4. Keempat, Fathanah (cerdas). Sikap ini diperlukan membangun kecerdasan kepribadian berbasis tauhid dan berdemensi sosial dengan menampilkan agama Islam yang ramah, santun, mencari teman bukan mencari musuh sebagaimana nabi mendakwahkan Islam di Makkah di benci dan dihina beliau senyum bahkan mendoakan yang menganiaya, dan yang menghina itu akhirnya tertarik masuk Islam seperti Umar bin Khattab masuk Islam bukan dengan peperangan dan kekerasan. Orang seperti Umar bin khattab itu saat ini juga banyak seperti orang orientalis yang mempelajari Islam akhirnya juga masuk Islam. Maka sikap sabar nabi itu merupakan kecerdasan yang di miliki beliau tidak perlu adanya pertumpahan darah, dengan dakwah menampilkan keperibadian yang inpiratif penuh ide inovatif, imajinatif, kreatif, komunikatif, tranformatif. dapat membawa keberhasilan. Seperti masuknya Islam ke Jawa bukan perang, tetapi dengan jalan damai. Sesuai firman-Nya Qs. al-Isra’ (17):7): “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”.

Untuk dapat meneladani kepribadian Rasulullah SAW. seyogyannya menanamkan sikap cinta yang kuat kepada baginda Nabi Muhammad SAW. sebagai panuntan dan idola umat manusia sebagai wujud keimanan kepada Allah SWT. yang menginternalisasi dalam jiwa bacaan sahadat, : “Tidak ada Tuhan yang disembah kecuali hanyalah Allah SWT” Landasan Tauhid ini sejalan dengan pemikiran Muhammad Iqbal (2003:109) yang menyatakan adanya kesetiaan kepada Allah SWT. sebagai spiritual paling utama dalam semua segi kehidupan. Dan menolak prinsip mullahisme, mitisisme, dan raja-raja muslim yang berkuasa demi kepentingan dinasti. kemudian sahadat kedua bersaksi kepada kanjeng Nabi Muhammad SAW. sebagai utusan Allah SWT. Dan berjuang meneladani kepribadian-Nya meliputi kejujuran, amanah, fathanah, dan tabligh.

Oleh karenanya, sangat penting untuk ditampilkan sifat kepribadian Nabi SAW. saat mengajak manusia menuju jalan kebaikan dan kebenaran bisa dilakukan tanpa perlu adanya anarkisme, teror dan pertumpahan darah, serta pemaksaan. Studi tiru kepribdian Nabi SAW. menjadi sagat relevan untuk mengurai problematika negeri ini yang beragam agama, budaya, ras, suku, maupun kepentingan.yang bersebarangan. Wallahu a’lam bisshawab

Penulis : Syaifu Nu’man, S.Ag
Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Malang

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.