TOKOH | JATIMSATUNEWS.COM: Dunia bioteknologi dan rekayasa genetika terus berkembang memberikan solusi nyata bagi industri dan kelestarian lingkungan hidup. Di garis depan inovasi tersebut, terdapat nama Farida Rahayu, seorang Peneliti Ahli Madya di Pusat Riset Rekayasa Genetika yang mendedikasikan karirnya untuk menggali potensi luar biasa dari mikroorganisme.
Perjalanan akademis Farida bermula dari bangku S1 Biologi di FMIPA Universitas Brawijaya pada tahun 1996 hingga 2000, berlanjut ke S2 Fakultas Teknologi Pertanian di kampus yang sama pada 2005 hingga 2007. Pencariannya akan ilmu kemudian membawanya melanglang buana hingga meraih gelar Doktoral (S3) di bidang Molecular Biotechnology dari Hiroshima University, Jepang, yang ditempuhnya dari tahun 2014 hingga 2019.
“Secara umum, bidang riset yang saya tekuni berada pada irisan antara bioteknologi molekuler, mikrobiologi, rekayasa genetika, bioproses, dan pemanfaatan mikroorganisme untuk aplikasi industri maupun lingkungan,” ungkap Farida saat menceritakan fokus utamanya sebagai peneliti.
Baca juga: Tragedi Kecelakaan Merenggut M.Mahes Nur Farida, Siswa MTSN 5 Pasuruan
Sejak awal karirnya, Farida mengaku selalu lekat dengan pengembangan bioproses yang melibatkan rekayasa proses maupun genetika. Memasuki tahun 2025, ia berfokus mengembangkan produksi glutation, sebuah “master antioksidan” yang tersusun dari asam amino glutamat, sistein, dan glisin. Ia menjelaskan bahwa senyawa ini sangat potensial diaplikasikan di bidang pangan, kesehatan, dan bioteknologi.
“Konsep yang kami gunakan adalah bioproses terintegrasi. Beberapa tahapan mulai dari bahan baku, perlakuan biomassa, ekstraksi, hingga menjadi produk dirancang sebagai satu rangkaian yang saling terhubung. Pendekatan semacam ini sangat penting untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya sekaligus mengurangi limbah,” terangnya lebih lanjut.
Tidak berhenti di situ, pada tahun 2025 Farida juga mulai merambah penelitian Desain Microbial Biostimulant untuk merestorasi lahan perkebunan pisang yang endemik terkena layu Fusarium. Ia memaparkan bahwa pendekatan ini memanfaatkan metagenomik untuk melihat potensi gen dalam lingkungan tanpa perlu mengisolasi mikroorganisme satu per satu, serta metabolomik untuk menganalisis senyawa yang dihasilkan.
“Jadi, pendekatannya bukan sekadar menambahkan pupuk, tetapi memanfaatkan aktivitas biologis mikroorganisme yang menguntungkan melalui pendekatan metagenomik dan metabolomik untuk mendukung restorasi lahan yang terdampak layu Fusarium,” jelas inovator bioteknologi tersebut.
Kiprahnya dalam mencari sumber energi alternatif juga telah dimulai sejak tahun 2023 melalui penelitian bakteri rekombinan termofilik asetogen lokal sebagai agen hayati penghasil bioetanol generasi kedua dari biomassa. Ia merancang bakteri rekombinan ini agar mampu bekerja optimal di suhu tinggi.
“Karakter termofilik ini sangat menarik untuk aplikasi industri karena beberapa proses biokonversi memang dilakukan pada kondisi temperatur yang tinggi,” imbuhnya.
Di sisi pelestarian lingkungan, Farida juga tengah menggali potensi bioremediasi bakteri ligninolitik. Sistem enzimatik bakteri pembelah lignin ini dinilai sangat berpotensi mendegradasi senyawa kompleks.
Hal ini, menurut Farida, diaplikasikan untuk mereduksi keberadaan logam berat serta melakukan dekolorisasi atau penghilangan warna pada limbah cair beracun dari industri tekstil, farmasi, hingga rumah sakit.
Sebagai bukti nyata dari deretan inovasinya, Farida telah mengantongi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa paten terkait desain plasmid DNA bakteri termoasetogen lokal.
“Dalam paten ini kami mengkonstruksi plasmid DNA sebagai vektor yang membawa gen target untuk dimasukkan ke dalam sel bakteri guna mengubah genetik bakteri tersebut,” tuturnya.
Menutup penjelasannya, Farida menegaskan bahwa muara dari seluruh riset yang ia lakukan adalah sebuah harapan besar, yakni bagaimana mikroorganisme, rekayasa genetika, dan teknologi bioproses dapat disinergikan untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi, sekaligus memberikan solusi berkelanjutan bagi persoalan lingkungan.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.