Langsung ke konten
Sabtu, 12 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Opini

PORSI Jawara II 2026 PTKIN Jawa-Madura: UIN Malang Buktikan Mental Juara di Pekalongan

Miftahul Huda, Dosen Fakultas Syariah UIN Malang mengulas tentang mental juara kontingen UIN Malang di Porsi Jawara II Pekalongan 2026.

Miftahul Huda, Dosen Fakultas Syariah UIN Malang mengulas tentang mental juara kontingen UIN Malang di Porsi Jawara II Pekalongan 2026./dok.istimewa

Miftahul Huda, Dosen Fakultas Syariah UIN Malang mengulas tentang mental juara kontingen UIN Malang di Porsi Jawara II Pekalongan 2026./dok.istimewa

OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: PORSI JAWARA II PTKIN Jawa-Madura: UIN Malang Buktikan Mental Juara di Pekalongan oleh Dr.H.Miftahul Huda, M.H

Menjadi Jawara II dalam PORSI PTKIN Jawa-Madura yang diikuti 18 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) pada 9–13 September 2026 di UIN K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan bukanlah pencapaian biasa.

Prestasi tersebut menjadi capaian membanggakan bagi kontingen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sekaligus menunjukkan konsistensi dan daya saing mahasiswa UIN Malang di tingkat PTKIN se-Jawa dan Madura.

Prestasi ini menunjukkan peningkatan yang membanggakan dibandingkan dengan capaian Jawara I pada tahun 2023 di UIN Jember.

Baca juga: Porsi Jawara II 2026 di Pekalongan: Ketika Menjadi Juara Tak Cukup dengan Medali

Kontingen UIN Malang Tampil di PORSI Jawara II Pekalongan

Di balik posisi tersebut, ada perjuangan panjang, kerja keras, doa, dan mental bertanding yang luar biasa dari kontingen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Mereka datang ke Pekalongan bukan sekadar sebagai peserta. Mereka membawa nama, marwah, dan kehormatan almamater.

Berhadapan dengan 17 PTKIN lainnya, kontingen UIN Malang membuktikan bahwa mahasiswa UIN Malang memiliki kemampuan untuk bersaing, berprestasi, dan berdiri di jajaran teratas.

Prestasi ini tentu tidak lahir dari perjuangan kontingen semata. Ada dukungan penuh dari Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., yang terus memberikan perhatian, doa, motivasi, dan kepercayaan kepada para mahasiswa yang berjuang membawa nama almamater.

Dukungan tersebut juga hadir secara langsung dari para Wakil Dekan III bidang kemahasiswaan yang turut mendampingi.

Mereka juga memberikan motivasi dan dukungan kepada kontingen selama kompetisi.

Kehadiran pimpinan fakultas di tengah perjuangan mahasiswa menjadi bukti nyata bahwa prestasi mahasiswa merupakan bagian penting dari perhatian dan komitmen UIN Malang.

Tidak kalah penting, Tim Pusat Kemahasiswaan UIN Malang memberikan dukungan penuh sejak proses persiapan hingga pelaksanaan kompetisi.

Pendampingan, koordinasi, pelayanan, dan dukungan teknis menjadi bagian penting yang membantu kontingen fokus bertanding dan memberikan kemampuan terbaik.

Inilah ekosistem prestasi yang dibangun bersama. Rektor memberikan dukungan dari tingkat universitas, pimpinan fakultas hadir mendampingi, Tim Pusat Kemahasiswaan bekerja memastikan berbagai kebutuhan kontingen, sementara mahasiswa, pelatih, dan official berjuang di arena pertandingan.

Mental Juara Bukan Hanya Tentang Menang

Perjalanan menuju posisi kedua tentu tidak selalu mudah. Ada pertandingan yang berlangsung ketat, tekanan, rasa lelah, kegembiraan, dan tentu saja kekecewaan.

Bahkan, dalam salah satu cabang, muncul keberatan terhadap hasil penilaian yang kemudian ditempuh melalui mekanisme arbitrase.

Bagi saya, dinamika tersebut justru memberikan pelajaran penting tentang bagaimana seorang juara seharusnya bersikap.

Ketika merasa ada persoalan, perjuangkan melalui jalur yang benar.

Ketika hasil belum sesuai harapan, terima dengan lapang dada. Dan apa pun hasil akhirnya, tetap jaga sportivitas serta kehormatan almamater.

Inilah mental juara.

Mental juara bukan hanya keberanian untuk tampil ketika semua berjalan sesuai harapan. Mental juara adalah keberanian untuk tetap tegak ketika menghadapi situasi yang tidak mudah.

Iklan

Mampu mengendalikan emosi, menghormati lawan, menghargai keputusan, sekaligus berani menyampaikan keberatan melalui mekanisme yang tersedia. Itulah sikap yang menunjukkan kedewasaan dalam berkompetisi.

Sebab, kemenangan sejati tidak hanya diukur dari apa yang kita dapatkan di podium, tetapi juga dari bagaimana kita menjalani proses untuk sampai ke sana.

Rival di Arena, Saudara di Luar Pertandingan

Kompetisi memang membutuhkan rivalitas. Tanpa rivalitas, sulit lahir dorongan untuk memberikan kemampuan terbaik.

Namun, rivalitas tidak boleh berubah menjadi permusuhan.

Mahasiswa yang hari ini berdiri sebagai lawan di lapangan, esok hari bisa saja menjadi rekan kerja, mitra penelitian, sahabat, bahkan bagian dari jejaring yang bersama-sama membangun Indonesia.

Karena itu, setiap perjumpaan dalam PORSI JAWARA sesungguhnya merupakan investasi sosial.

Ketika mahasiswa dari berbagai PTKIN bertemu, mereka tidak hanya bertukar kemampuan dalam kompetisi.

Mereka juga bertukar cerita, budaya, pengalaman, gagasan, dan cara pandang.

Identitas daerah dan kampus tetap melekat. Kita boleh bangga dengan almamater masing-masing. Kita boleh berjuang sekuat tenaga untuk menjadi yang terbaik.

Namun, setelah pertandingan berakhir, kita kembali kepada identitas yang jauh lebih besar:

Kita adalah generasi muda Indonesia. Di arena kita boleh menjadi rival.

Di lapangan kita berjuang menjadi yang terbaik. Tetapi di luar pertandingan, kita adalah saudara.

Inilah salah satu nilai penting dari sebuah kompetisi. Ia mempertemukan orang-orang yang mungkin sebelumnya tidak saling mengenal, lalu menghadirkan ruang untuk membangun persahabatan dan jejaring yang dapat terus tumbuh jauh setelah kompetisi selesai.

Medali memang penting. Ia menjadi simbol dari kerja keras, disiplin, ketekunan, dan pencapaian.

Namun, ada sesuatu yang jauh lebih panjang umurnya daripada medali: pengalaman, persahabatan, jejaring, keberanian, sportivitas, dan persaudaraan.

Medali suatu saat mungkin tersimpan di lemari. Piala suatu saat mungkin menjadi bagian dari sejarah.

Tetapi persahabatan yang lahir dari sebuah perjuangan bersama dapat terus hidup dan berkembang menjadi kolaborasi yang memberi manfaat jauh lebih besar.

Menang, Menang, Menang! Jawara Pasti Juara!

Ada satu semangat yang terus dibawa kontingen UIN Malang selama perjuangan di arena:

UIN Maliki Malang: Menang, Menang, Menang! Jawara Pasti Juara!

Jargon tersebut bukan sekadar seruan untuk membakar semangat sebelum pertandingan.

Di dalamnya ada keyakinan, optimisme, keberanian, dan tekad untuk memberikan yang terbaik.

Iklan

Menang bukan semata-mata tentang mengalahkan lawan. Menang adalah ketika kita mampu mengalahkan rasa takut.

Menang adalah ketika kita mampu melawan rasa lelah. Menang adalah ketika kita tetap percaya diri di tengah tekanan.

Menang adalah ketika kita mampu menjaga sportivitas dalam persaingan.

Dengan semangat itu, “Jawara Pasti Juara” bukan hanya sebuah jargon, tetapi menjadi energi untuk terus memberikan yang terbaik dalam setiap pertandingan dan setiap proses perjuangan.

Dengan demikian, peringkat kedua bukanlah kegagalan untuk menjadi yang pertama.

Justru, posisi tersebut menjadi bukti bahwa kontingen UIN Malang telah memberikan perjuangan terbaik di antara 18 PTKIN yang bertanding.

Kita boleh belum menjadi yang pertama, tetapi kita telah menunjukkan bahwa kita layak berada di jajaran para juara.

Jawara II Bukan Akhir Perjuangan

Karena itu, Jawara II dalam PORSI PTKIN Jawa-Madura bukan sekadar angka dalam klasemen.

Ia adalah bukti bahwa kerja keras, disiplin, ketekunan, dukungan, dan doa tidak pernah sia-sia.

Apresiasi kepada Kontingen dan Seluruh Pihak Pendukung Persiapan

Di balik prestasi tersebut ada mahasiswa yang berlatih hingga lelah, pelatih yang sabar mendampingi.

Kemudian, ofisial yang memastikan semuanya berjalan dengan baik, pimpinan fakultas yang hadir memberikan dukungan.

Bahkan, Tim Pusat Kemahasiswaan yang bekerja di balik layar, serta seluruh keluarga besar UIN Malang yang terus memberikan energi positif.

Kepada seluruh kontingen UIN Malang, jangan melihat posisi kedua sebagai jarak dari juara pertama.

Lihatlah sebagai puncak dari perjuangan luar biasa yang telah kalian lalui sekaligus pijakan untuk melangkah lebih tinggi.

Hari ini kalian belajar bertanding. Hari ini kalian belajar menang.

Hari ini kalian juga belajar menghadapi dinamika dan kekecewaan.

Semua itu adalah bagian dari proses menjadi pribadi yang lebih matang.

Kalian telah membuktikan bahwa mahasiswa UIN Malang bukan hanya mampu berkompetisi, tetapi mampu berkompetisi dengan keberanian, integritas, sportivitas, dan mental juara.

Iklan

Terima kasih kepada Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., selaku Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, atas dukungan dan kepercayaan yang luar biasa kepada para mahasiswa.

Terima kasih kepada para Wakil Dekan III bidang kemahasiswaan yang hadir langsung mendampingi dan memberikan dukungan kepada kontingen.

Terima kasih pula kepada Tim Pusat Kemahasiswaan UIN Malang atas kerja keras, pendampingan, koordinasi, dan dukungan penuh yang diberikan sejak proses persiapan hingga kompetisi berlangsung.

Dan tentu saja, terima kasih kepada seluruh mahasiswa, pelatih, official, pendamping, serta sivitas akademika UIN Malang yang telah memberikan doa, dukungan, dan energi positif bagi perjuangan kontingen.

Kepada seluruh peserta PORSI dari 18 PTKIN se-Jawa dan Madura, terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan ini.

Kita mungkin datang membawa warna almamater yang berbeda. Kita mungkin bertanding untuk menjadi yang terbaik.

Tetapi kita pulang membawa satu hal yang sama: pengalaman sebagai generasi yang belajar berkompetisi, belajar menghargai, dan belajar membangun persaudaraan.

Jawara hari ini bukan hanya tentang siapa yang berada di peringkat pertama atau kedua.

Jawara adalah mereka yang mampu bertanding dengan gagah, menang dengan rendah hati, menerima hasil dengan lapang dada, menghormati lawan, dan tetap menjaga persaudaraan setelah pertandingan berakhir.

Terus bertumbuh. Terus berprestasi. Terus membangun jejaring.

Terus jaga persaudaraan. Dan teruslah membawa nama baik UIN Malang di mana pun berada.

UIN Maliki Malang: Menang, Menang, Menang! Jawara Pasti Juara!

Karena juara sejati bukan hanya tentang siapa yang berdiri paling tinggi di podium. Tetapi, tentang siapa yang mampu memberikan yang terbaik dalam setiap proses perjuangan dan tetap menjadi manusia yang baik setelah pertandingan selesai.

UIN Malang membuktikan: kita datang untuk bertanding, kita berjuang dengan integritas, kita pulang membawa prestasi, dan kita membangun persaudaraan.(Editor: YAN)

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.