Langsung ke konten
Sabtu, 3 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Kolom

Naik Kelas Menjadi Syakur, Jangan Berhenti pada Alhamdulillah

Miftahul Huda, Dosen Fakultas Syariah UIN Malang mengajak masyarakat untuk tidak hanya Alhamdulillah, tetapi juga naik kelas menjadi Syakur.

Miftahul Huda, Dosen Fakultas Syariah UIN Malang mengajak masyarakat untuk tidak hanya Alhamdulillah, tetapi juga naik kelas menjadi Syakur./dok.istimewa

Miftahul Huda, Dosen Fakultas Syariah UIN Malang mengajak masyarakat untuk tidak hanya Alhamdulillah, tetapi juga naik kelas menjadi Syakur./dok.istimewa

OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: Naik Kelas Menjadi Syakur, Jangan Berhenti pada Alhamdulillah oleh Dr.H.Miftahul Huda, SHI.,M.H., Dosen Fakultas Syariah UIN Malang

Peringatan Lustrum ke XIII tahun 2026 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi momentum untuk tidak sekadar merayakan perjalanan, tetapi juga melakukan refleksi.

Satu tahun pengabdian, penguatan sinergi, dan peneguhan komitmen bersama perlu dilihat sebagai bagian dari proses menuju cita-cita besar: “Sinergi Mewujudkan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Bereputasi Internasional”.

Bahwa cita-cita menjadi perguruan tinggi bereputasi internasional tidak bisa dicapai oleh pimpinan saja. Diperlukan kerja bersama seluruh sivitas akademika dan berbagai mitra.

Pesan itu menemukan relevansinya dalam Taklimat Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, pada momentum tersebut, Jumat (3/10), di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Taklimat Menteri Agama sebagai penguat pesan bahwa perjalanan UIN Malang ke depan membutuhkan kesadaran untuk terus berbenah, memperkuat kolaborasi, dan meningkatkan kualitas, bukan berhenti pada pencapaian yang sudah ada.

Baca juga: Fenomena Zombie Scrolling: Ketika Jempol Menggulir Tanpa Henti, Waktu Pun Terbuang

Ada satu pesan penting yang layak direnungkan: tidak semua orang siap menerima nikmat yang besar.

Kalimat ini sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam.

Sebab, nikmat bukan hanya tentang seberapa besar sesuatu yang diterima, tetapi juga tentang kesiapan hati, keluasan jiwa, dan kemampuan seseorang dalam mengelolanya dengan penuh tanggung jawab.

Ada orang yang ketika diberi ilmu justru semakin rendah hati. Namun, ada pula yang baru mengetahui sedikit sudah merasa paling tahu.

Ada yang ketika memperoleh amanah semakin rajin melayani, tetapi ada pula yang justru merasa harus dilayani.

Begitu pula dengan pujian.

Pujian bisa menjadi hadiah, tetapi sekaligus dapat menjadi ujian. Apresiasi dari orang lain tentu menyenangkan.

Namun, semakin sering seseorang dipuji, semakin besar pula tantangannya untuk menjaga hati.

Di sinilah syukur menemukan maknanya yang lebih dalam.

Ketika memperoleh nikmat, kita lazim mengucapkan alhamdulillah. Ketika mendapatkan keberhasilan, kita memuji Allah.

Ketika menerima sesuatu yang menyenangkan, tahmid menjadi ekspresi spontan seorang Muslim.

Itu baik. Tetapi syukur tidak cukup berhenti di lisan.

Syukur harus memiliki action. Ada tindakan nyata setelah ucapan alhamdulillah.

Sebab, setiap nikmat yang kita terima selalu membawa tanggung jawab untuk digunakan di jalan yang benar dan memberikan manfaat.

Iklan

Karena itu, ada perbedaan antara sekadar mengucapkan syukur dan menjadi pribadi yang syakur.

Dari Alhamdulillah Menjadi Syakur

Syakur berasal dari bahasa Arab dan memiliki makna yang lebih kuat daripada sekadar orang yang berterima kasih biasa (syakir), karena sifat syukur telah mendarah daging dan menjadi kepribadiannya.

Syakur adalah pribadi yang mampu mengelola nikmat. Ilmu yang dimiliki tidak membuatnya merasa paling tahu, tetapi semakin sadar bahwa masih banyak hal yang belum diketahui.

Jabatan tidak membuatnya berjarak, tetapi semakin kuat dorongannya untuk melayani.

Keberhasilan tidak membuatnya lupa diri, tetapi mendorongnya untuk memberi manfaat lebih luas. Inilah makna naik kelas yang sesungguhnya.

Naik kelas bukan hanya bertambahnya jabatan, gelar, kekayaan, popularitas, atau pengaruh.

Naik kelas adalah ketika kapasitas hati bertambah seiring dengan bertambahnya nikmat yang diterima.

Semakin banyak ilmu, semakin luas kerendahan hati. Semakin besar amanah, semakin besar tanggung jawab.

Semakin tinggi posisi, semakin kuat semangat melayani. Dan semakin banyak pujian yang diterima, semakin hati-hati kita menjaga diri.

Di sinilah manusia perlu memperbesar kapasitas menerima. Bukan hanya kapasitas intelektual, tetapi juga kapasitas spiritual dan emosional.

Jangan sampai nikmat bertambah lebih cepat daripada kedewasaan kita dalam mengelolanya. 

Jangan sampai ilmu bertambah, tetapi kerendahan hati berkurang.  Jangan sampai jabatan meningkat, tetapi semangat melayani menurun. 

Jangan sampai popularitas tumbuh, tetapi kemampuan mengendalikan diri justru melemah.

Sebab, setiap peningkatan kapasitas kehidupan selalu membawa konsekuensi tanggung jawab yang lebih besar.

Hal yang sama berlaku ketika kita menerima pujian.

Tidak salah orang lain memberikan apresiasi. Kita juga tidak perlu menolak setiap pujian.

Namun, pujian perlu dikembalikan kepada Allah sebagai sumber segala kelebihan.

Ketika dipuji karena ilmu, ingat bahwa masih jauh lebih banyak yang belum kita ketahui.

Ketika dipuji karena keberhasilan, ingat bahwa ada banyak tangan yang ikut bekerja.

Ketika dipuji karena jabatan, ingat bahwa jabatan adalah amanah yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban.

Iklan

Dengan cara pandang seperti itu, pujian tidak membuat kita terbang terlalu tinggi dan kritik tidak membuat kita jatuh terlalu dalam.

Syukur pun membutuhkan kebijaksanaan dalam mengekspresikannya.

Tidak semua nikmat harus dipertontonkan.

Tak Semua Nikmat Dipertontonkan

Ada nikmat yang cukup kita rasakan. Ada yang boleh kita ceritakan sebagai inspirasi. Dan ada pula yang paling baik kita buktikan melalui tindakan.

Sebab, syukur yang matang bukan sekadar terlihat dari apa yang kita ucapkan, tetapi dari apa yang kita lakukan setelah menerima nikmat.

Dalam konteks kelembagaan, pesan ini menjadi sangat relevan. Keberhasilan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tidak seharusnya berhenti sebagai sesuatu yang dirayakan.

Setiap capaian justru perlu menjadi energi untuk memperkuat sinergi, meningkatkan kualitas pengabdian, dan memperluas manfaat.

Sebuah keberhasilan selalu membawa pertanyaan lanjutan: setelah mendapatkan nikmat ini, apa yang akan kita lakukan?

Pertanyaan sederhana itu sesungguhnya menentukan kualitas syukur kita.

Jika ilmu membuat kita semakin rendah hati, itulah syukur. Jika jabatan membuat kita semakin kuat melayani, itulah syukur.

Jika keberhasilan membuat kita semakin bermanfaat, itulah syukur. Jika pujian membuat kita semakin mawas diri, itu pun syukur.

Maka, jangan berhenti pada alhamdulillah. Mari naik kelas menjadi syakur.

Sebab, nikmat bukan hanya sesuatu yang harus kita syukuri, tetapi juga amanah yang harus kita buktikan melalui tindakan.

Barangkali, ukuran syukur bukan seberapa sering kita mengucapkan alhamdulillah, melainkan seberapa jauh alhamdulillah itu mengubah cara kita berpikir, bersikap, dan melayani.

Dengan demikian, semakin besar nikmat yang diterima, semakin besar pula tuntutan untuk menjadi manusia yang lebih rendah hati, lebih bertanggung jawab, dan semakin banyak memberi manfaat.

Sebab naik kelas yang sesungguhnya bukanlah sekadar naik posisi, melainkan naik kapasitas hati.

Bukan sekadar bertambah nikmat, tetapi bertambah manfaat.

Ukuran keberhasilan bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang diangkat, melainkan seberapa banyak kebaikan yang mampu ia hadirkan setelah sampai di atas.(Editor: YAN)

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.