Langsung ke konten
Senin, 5 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Pendidikan

Sembilan Pintu Menuju Ruang Kelas yang Memahami Cara Siswa Belajar Judul: Teori Belajar dan Pembelajaran (Seri Kuliah Ringkas)

Sembilan Pintu Menuju Ruang Kelas yang Memahami Cara Siswa Belajar Judul: Teori Belajar dan Pembelajaran (Seri Kuliah Ringkas) Penulis: Teguh Triwiyanto

Sampul buku Teori Pembelajaran

Sampul buku Teori Pembelajaran (Foto: Dok. Pri Sri Lestari)

RESENSI BUKU | JATIMSATUNEWS.COM: Sembilan Pintu Menuju Ruang Kelas yang Memahami Cara Siswa Belajar
Judul: Teori Belajar dan Pembelajaran (Seri Kuliah Ringkas)
Penulis: Teguh Triwiyanto
Penerbit: Erlangga
Tahun Terbit: 2023
Tebal: 172 halaman
ISBN: 978-623-180-070-1

Kegelisahan di Balik Lahirnya Buku
Pernahkah kita bertemu guru yang hafal seluruh materi pelajaran, tetapi entah kenapa muridnya tetap tidak paham? Atau sebaliknya, guru yang penjelasannya sederhana, namun berhasil membuat satu kelas penuh tiba-tiba mengangguk bersamaan? Bedanya bukan pada seberapa banyak yang mereka tahu, melainkan pada seberapa dalam mereka memahami bagaimana proses belajar itu sendiri bekerja di kepala manusia. Pertanyaan semacam inilah yang coba dijawab Teguh Triwiyanto, Associate Professor di Universitas Negeri Malang, lewat buku Teori Belajar dan Pembelajaran yang terbit di bawah label Seri Kuliah Ringkas Penerbit Erlangga.
Buku ini lahir dari kegelisahan yang sangat konkret: Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mewajibkan setiap pendidik memiliki kompetensi pedagogik, tetapi literatur teori belajar yang tersedia kerap terlalu tebal dan berat untuk mahasiswa kependidikan yang baru mengenal dunia psikologi pembelajaran. Triwiyanto mencoba menjembatani jarak itu dengan menyusun sembilan bab yang disusun rapi bak anak tangga, masing-masing membawa pembaca naik satu tingkat lebih dekat pada pemahaman utuh tentang belajar dan mengajar.
Sembilan Bab yang Tersusun seperti Anak Tangga
Bab pertama membuka dengan hakikat belajar dan pembelajaran, sebelum bab kedua menghadirkan etalase besar berbagai aliran teori belajar: behavioristik, kognitif, gestalt, humanistik, konstruktivistik, teori Gagné, teori kognitif sosial, taksonomi Bloom, hingga isu yang lebih kontemporer seperti connectivism learning dan distance learning. Bab-bab berikutnya bergerak lebih praktis, membahas model pembelajaran seperti Kolb dan VARK, strategi serta teknik mengajar, motivasi belajar, perencanaan pembelajaran, pelaksanaan di kelas, sampai evaluasi dan penilaian. Buku ditutup secara reflektif pada bab kesembilan yang mengajak calon guru merenungkan profesionalismenya sendiri, lengkap dengan perbandingan sistem pendidikan guru di Finlandia, Singapura, Cina, dan Indonesia sebagai cermin.
Yang membuat buku ini terasa berbeda dari buku teori pada umumnya adalah konsistensi strukturnya. Setiap bab dibuka dengan Deskripsi Singkat, Relevansi, dan Tujuan Pembelajaran, layaknya rencana perkuliahan yang sudah matang, lalu ditutup dengan Rangkuman dan Evaluasi berupa pertanyaan reflektif untuk menguji pemahaman. Sentuhan yang cukup segar untuk sebuah buku cetak adalah kehadiran tautan video YouTube di akhir setiap bab, semacam usaha penulis menjembatani keterbatasan halaman kertas dengan kebutuhan generasi mahasiswa yang lebih akrab dengan tayangan audiovisual ketimbang paragraf panjang.
Bahasa yang Lugas dan Penulis yang Kredibel
Kelugasan bahasa juga menjadi nilai tambah. Triwiyanto tidak berusaha tampil rumit demi terkesan akademis. Ia memilih jalan yang lebih ramah: menjelaskan konsep berat seperti teori kognitif sosial Bandura atau taksonomi Bloom dengan kalimat yang bisa dicerna mahasiswa semester awal sekalipun. Bagi mahasiswa kependidikan yang sedang dikejar tenggat menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, buku setebal 172 halaman ini terasa seperti peta ringkas yang menyelamatkan waktu, dibandingkan harus menjelajahi belasan buku tebal satu per satu.
Bagian yang menurut saya paling membumi justru ada di Bab 7, saat buku ini masuk ke ruang kelas sungguhan lewat pembahasan pelaksanaan pembelajaran. Di sana, Triwiyanto menekankan pelibatan siswa secara aktif, demokratis, mendidik, memotivasi, mendorong kreativitas, dan dialogis, sebuah pengingat sederhana namun sering dilupakan bahwa mengajar bukan sekadar menuntaskan materi, melainkan membangun relasi dua arah di dalam kelas. Kredibilitas penulis pun tidak main-main. Selain mengajar di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, Triwiyanto telah menulis lebih dari selusin buku lain seputar manajemen dan kebijakan pendidikan, mulai dari Krisis Tata Kelola Pendidikan Indonesia hingga Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran. Rekam jejak ini membuat buku ringkas ini tidak terasa seperti rangkuman tergesa-gesa, melainkan hasil endapan pengalaman panjang seorang akademisi pendidikan.
Keterbatasan dan Kelayakan Buku untuk Dibaca
Namun, sebuah peta ringkas tetap punya keterbatasan wajar: ia unggul menunjukkan arah, tetapi tidak selalu menunjukkan setiap lekuk jalan. Sembilan bab besar yang dijejalkan dalam kurang dari 150 halaman isi membuat sejumlah topik berat, seperti connectivism learning atau teori kognitif sosial, hanya kebagian ruang tipis, jauh dari kompleksitas aslinya. Pada beberapa bagian, terutama saat membahas hakikat belajar dalam konteks peradaban masyarakat di Bab 1, alur argumentasi terasa meloncat dan menyelipkan istilah yang cukup asing untuk buku pedagogik, seperti frasa “algoritma pengoptimalan” dan “ruang parametrik”, tanpa penjelasan yang cukup untuk pembaca awam. Rujukan pada bagian ini juga didominasi sumber-sumber asing yang belum sepenuhnya dikontekstualisasikan dengan realitas pendidikan Indonesia, sehingga pembaca perlu usaha ekstra untuk menautkannya dengan pengalaman di ruang kelas sehari-hari.
Terlepas dari catatan itu, kehadiran buku ini tetap punya tempatnya sendiri. Ia tidak berpretensi menjadi rujukan teoretis paling dalam, melainkan lebih pas diposisikan sebagai pintu masuk: bacaan pertama sebelum mahasiswa menyelam ke sumber-sumber primer yang lebih rinci. Bagi mahasiswa kependidikan yang tengah menempuh mata kuliah Teori Belajar dan Pembelajaran, guru yang ingin menyegarkan kembali dasar-dasar pedagogiknya, atau siapa pun yang penasaran mengapa satu metode mengajar bisa berhasil di satu kelas tetapi gagal di kelas lain, buku ini layak masuk daftar bacaan. Yang perlu diingat, sembilan bab ini sebaiknya dibaca bukan sebagai titik akhir pencarian, melainkan sebagai gerbang awal untuk terus bertanya: benarkah kita sudah cukup memahami bagaimana orang lain belajar?

Untuk IdentitasSri Lestari, S.Si., M.Pd. NIM. : 260132960687 Jurusan. : S3 Manajemen Pendidikan Institusi : Universitas Negeri Malang Pekerjaan : Kepala Sekolah SMP IT Asy-Syadzili Pakis Malang
Untuk IdentitasSri Lestari, S.Si., M.Pd. NIM. : 260132960687 Jurusan. : S3 Manajemen Pendidikan Institusi : Universitas Negeri Malang Pekerjaan : Kepala Sekolah SMP IT Asy-Syadzili Pakis Malang (Foto: Dok.pri. Sri Lestari)

Sembilan Pintu Menuju Ruang Kelas yang Memahami Cara Siswa Belajar
Judul: Teori Belajar dan Pembelajaran (Seri Kuliah Ringkas)
Penulis: Teguh Triwiyanto
Penerbit: Erlangga
Tahun Terbit: 2023
Tebal: 172 halaman
ISBN: 978-623-180-070-1

Iklan

Baca juga: Belajar Hari Ini Berkarya Esok Hari Bekal Keterampilan untuk Masa Depan

Baca juga: Melihat Langsung Pembelajaran ICP PBA, Mahasiswa UIN Walisongo Kunjungi Kelas FTIK UIN Malang

Kegelisahan di Balik Lahirnya Buku
Pernahkah kita bertemu guru yang hafal seluruh materi pelajaran, tetapi entah kenapa muridnya tetap tidak paham? Atau sebaliknya, guru yang penjelasannya sederhana, namun berhasil membuat satu kelas penuh tiba-tiba mengangguk bersamaan? Bedanya bukan pada seberapa banyak yang mereka tahu, melainkan pada seberapa dalam mereka memahami bagaimana proses belajar itu sendiri bekerja di kepala manusia. Pertanyaan semacam inilah yang coba dijawab Teguh Triwiyanto, Associate Professor di Universitas Negeri Malang, lewat buku Teori Belajar dan Pembelajaran yang terbit di bawah label Seri Kuliah Ringkas Penerbit Erlangga.
Buku ini lahir dari kegelisahan yang sangat konkret: Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mewajibkan setiap pendidik memiliki kompetensi pedagogik, tetapi literatur teori belajar yang tersedia kerap terlalu tebal dan berat untuk mahasiswa kependidikan yang baru mengenal dunia psikologi pembelajaran. Triwiyanto mencoba menjembatani jarak itu dengan menyusun sembilan bab yang disusun rapi bak anak tangga, masing-masing membawa pembaca naik satu tingkat lebih dekat pada pemahaman utuh tentang belajar dan mengajar.
Sembilan Bab yang Tersusun seperti Anak Tangga
Bab pertama membuka dengan hakikat belajar dan pembelajaran, sebelum bab kedua menghadirkan etalase besar berbagai aliran teori belajar: behavioristik, kognitif, gestalt, humanistik, konstruktivistik, teori Gagné, teori kognitif sosial, taksonomi Bloom, hingga isu yang lebih kontemporer seperti connectivism learning dan distance learning. Bab-bab berikutnya bergerak lebih praktis, membahas model pembelajaran seperti Kolb dan VARK, strategi serta teknik mengajar, motivasi belajar, perencanaan pembelajaran, pelaksanaan di kelas, sampai evaluasi dan penilaian. Buku ditutup secara reflektif pada bab kesembilan yang mengajak calon guru merenungkan profesionalismenya sendiri, lengkap dengan perbandingan sistem pendidikan guru di Finlandia, Singapura, Cina, dan Indonesia sebagai cermin.
Yang membuat buku ini terasa berbeda dari buku teori pada umumnya adalah konsistensi strukturnya. Setiap bab dibuka dengan Deskripsi Singkat, Relevansi, dan Tujuan Pembelajaran, layaknya rencana perkuliahan yang sudah matang, lalu ditutup dengan Rangkuman dan Evaluasi berupa pertanyaan reflektif untuk menguji pemahaman. Sentuhan yang cukup segar untuk sebuah buku cetak adalah kehadiran tautan video YouTube di akhir setiap bab, semacam usaha penulis menjembatani keterbatasan halaman kertas dengan kebutuhan generasi mahasiswa yang lebih akrab dengan tayangan audiovisual ketimbang paragraf panjang.
Bahasa yang Lugas dan Penulis yang Kredibel
Kelugasan bahasa juga menjadi nilai tambah. Triwiyanto tidak berusaha tampil rumit demi terkesan akademis. Ia memilih jalan yang lebih ramah: menjelaskan konsep berat seperti teori kognitif sosial Bandura atau taksonomi Bloom dengan kalimat yang bisa dicerna mahasiswa semester awal sekalipun. Bagi mahasiswa kependidikan yang sedang dikejar tenggat menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, buku setebal 172 halaman ini terasa seperti peta ringkas yang menyelamatkan waktu, dibandingkan harus menjelajahi belasan buku tebal satu per satu.
Bagian yang menurut saya paling membumi justru ada di Bab 7, saat buku ini masuk ke ruang kelas sungguhan lewat pembahasan pelaksanaan pembelajaran. Di sana, Triwiyanto menekankan pelibatan siswa secara aktif, demokratis, mendidik, memotivasi, mendorong kreativitas, dan dialogis, sebuah pengingat sederhana namun sering dilupakan bahwa mengajar bukan sekadar menuntaskan materi, melainkan membangun relasi dua arah di dalam kelas. Kredibilitas penulis pun tidak main-main. Selain mengajar di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, Triwiyanto telah menulis lebih dari selusin buku lain seputar manajemen dan kebijakan pendidikan, mulai dari Krisis Tata Kelola Pendidikan Indonesia hingga Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran. Rekam jejak ini membuat buku ringkas ini tidak terasa seperti rangkuman tergesa-gesa, melainkan hasil endapan pengalaman panjang seorang akademisi pendidikan.
Keterbatasan dan Kelayakan Buku untuk Dibaca
Namun, sebuah peta ringkas tetap punya keterbatasan wajar: ia unggul menunjukkan arah, tetapi tidak selalu menunjukkan setiap lekuk jalan. Sembilan bab besar yang dijejalkan dalam kurang dari 150 halaman isi membuat sejumlah topik berat, seperti connectivism learning atau teori kognitif sosial, hanya kebagian ruang tipis, jauh dari kompleksitas aslinya. Pada beberapa bagian, terutama saat membahas hakikat belajar dalam konteks peradaban masyarakat di Bab 1, alur argumentasi terasa meloncat dan menyelipkan istilah yang cukup asing untuk buku pedagogik, seperti frasa “algoritma pengoptimalan” dan “ruang parametrik”, tanpa penjelasan yang cukup untuk pembaca awam. Rujukan pada bagian ini juga didominasi sumber-sumber asing yang belum sepenuhnya dikontekstualisasikan dengan realitas pendidikan Indonesia, sehingga pembaca perlu usaha ekstra untuk menautkannya dengan pengalaman di ruang kelas sehari-hari.
Terlepas dari catatan itu, kehadiran buku ini tetap punya tempatnya sendiri. Ia tidak berpretensi menjadi rujukan teoretis paling dalam, melainkan lebih pas diposisikan sebagai pintu masuk: bacaan pertama sebelum mahasiswa menyelam ke sumber-sumber primer yang lebih rinci. Bagi mahasiswa kependidikan yang tengah menempuh mata kuliah Teori Belajar dan Pembelajaran, guru yang ingin menyegarkan kembali dasar-dasar pedagogiknya, atau siapa pun yang penasaran mengapa satu metode mengajar bisa berhasil di satu kelas tetapi gagal di kelas lain, buku ini layak masuk daftar bacaan. Yang perlu diingat, sembilan bab ini sebaiknya dibaca bukan sebagai titik akhir pencarian, melainkan sebagai gerbang awal untuk terus bertanya: benarkah kita sudah cukup memahami bagaimana orang lain belajar?

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.