PASURUAN | JATIMSATUNEWS.COM: Prigen Coffee Fest 2026 tidak sekadar diproyeksikan sebagai ajang kompetisi bagi barista dan pelaku industri kopi. Event yang dijadwalkan berlangsung pada 16–17 Oktober 2026 tersebut diarahkan menjadi ruang tumbuh bagi ekosistem kopi, UMKM, komunitas, hingga ekonomi kreatif di Kabupaten Pasuruan.
Hal tersebut disampaikan Direktur CV. Abipraya Cempaka Anggeng, Tri Cahyo Putra, dalam acara Caping Gunung- Road to Prigen Coffee Fest 2026, Senin (21/9/2026).
Tri Cahyo mengatakan, penyelenggaraan Prigen Coffee Fest diharapkan mampu menggerakkan ekosistem kopi secara menyeluruh, mulai dari sektor hulu hingga hilir.
“Prigen Coffee Fest adalah sebuah event yang kami dukung untuk setiap tahun selalu ada. Kami berharap ekosistem ini mampu tidak hanya mengangkat kita, tetapi juga mengangkat mulai dari hulu sampai hilir,” ujar Tri Cahyo.
Menurutnya, Prigen Coffee Fest 2026 tidak hanya berbicara mengenai kompetisi bagi para profesional kopi maupun barista. Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan menjadi bagian dari pergerakan budaya, UMKM, serta ekonomi kreatif.
Tri Cahyo menyebut setidaknya terdapat tiga aspek yang ingin diperkuat melalui kegiatan tersebut, yakni pergerakan budaya, pergerakan UMKM, dan pergerakan ekonomi kreatif melalui sebuah event yang melibatkan banyak pihak.
“Ini bukan hanya kompetisi. Ini menjadi sebuah ekosistem pergerakan. Yang pertama budaya, kedua pergerakan UMKM, dan yang ketiga pergerakan ekonomi kreatif,” katanya.
Ia menilai ekonomi kreatif menjadi salah satu sektor yang memiliki peluang untuk terus berkembang seiring perubahan zaman. Karena itu, keberadaan pelaku UMKM, komunitas, pelaku kopi, serta berbagai produk kreatif lokal perlu mendapatkan ruang untuk berkembang.
Tri Cahyo juga mengapresiasi dukungan media partner, coffee enthusias dan seluruh pihak yang terlibat dalam Prigen Coffee Fest 2026.
Ia berharap media turut membantu menyuarakan berbagai potensi yang ada di sekitar kawasan Prigen, tidak hanya mengenai kopi, tetapi juga produk lokal, wisata, budaya, komunitas, dan berbagai potensi ekonomi kreatif lainnya.
“Kami mohon bantuan media untuk menyuarakan mereka semua. Tidak hanya coffee fest-nya, tidak hanya hutan, tidak hanya kopi di daerah Lestari, tetapi nanti akan banyak sekali yang bisa diangkat,” tuturnya.
Hadirkan Donny Kusuma, Baverage Expert yang telah Profesional 18 Tahun.
Salah satu perhatian dalam rangkaian menuju Prigen Coffee Fest 2026 adalah kehadiran Donny Kusuma, profesional di industri kopi yang disebut telah berkecimpung sekitar 18 tahun.
Dalam sesi Caping Gunung, Donny berbagi pengalaman mengenai kompetisi kopi, khususnya persiapan menghadapi kompetisi es kopi susu. Dan menjadi salah satu juri di es kopi susu kompetisi di PCF 2026 ini.
Donny menegaskan bahwa kompetisi pada dasarnya harus dinikmati.
“Competition is all about fun,” ujar Donny.
Menurutnya, kompetisi bukan hanya mengenai mengejar posisi juara. Peserta juga perlu menjadikannya sebagai ruang belajar, mengeksplorasi rasa, menguji kemampuan, sekaligus mendapatkan pengalaman baru.
Salah satu hal penting yang ditekankan Donny kepada calon peserta kompetisi adalah kemampuan menemukan keseimbangan rasa.
Ia menjelaskan, minuman yang baik bukanlah minuman yang hanya menonjolkan satu rasa. Kopi, susu, maupun elemen lain di dalam minuman harus dapat berpadu secara seimbang.
“Kuncinya cuma satu, balancing, keseimbangan rasa. Sama halnya dengan keseimbangan alam. Suatu minuman harus seimbang, bukan hanya ada salah satu yang dominan atau menjadi superior, tetapi semuanya harus selaras dan seimbang,” jelasnya.
Bagi Donny, keseimbangan tersebut menjadi salah satu kunci untuk menghasilkan minuman yang enak.
“Minuman yang enak atau makanan yang enak adalah rasa yang seimbang,” imbuhnya.
Tidak Ada Rumus Instan, Latihan Jadi Kunci
Lantas, berapa lama seorang peserta membutuhkan waktu untuk menemukan formula rasa yang tepat?
Donny menjelaskan, tidak ada patokan waktu yang sama bagi setiap orang. Semuanya bergantung pada proses eksplorasi dan latihan masing-masing.
Menurut dia, peserta dapat menemukan keseimbangan dengan melakukan perubahan pada rasio bahan secara bertahap.
“Masalah berapa lama, sebenarnya tinggal dia mengulik saja. Tinggal rasionya diubah. Yang biasanya menggunakan satu banding sepuluh, bisa dua banding sepuluh, tiga banding sepuluh. Cari saja mana yang pas, itu yang dipakai,” paparnya.
Karena itu, semakin sering melakukan latihan, peserta akan semakin memahami karakter rasa dan menemukan komposisi yang sesuai.
Latihan juga menjadi bagian penting bagi peserta yang ingin masuk posisi teratas dalam kompetisi.
Dalam kompetisi es kopi susu, peserta tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis membuat kopi. Mereka juga harus mampu memahami karakter bahan, mengolah rasa, serta memastikan setiap komponen berada dalam komposisi yang tepat.
Es Kopi Susu Jadi Ruang Eksplorasi Rasa
Pembahasan es kopi susu dalam Caping Gunung juga memperlihatkan bahwa kopi tidak berhenti pada satu karakter rasa.
Donny menjelaskan, proses eksplorasi dapat menghasilkan transformasi rasa dari sesuatu yang sebelumnya tidak muncul menjadi karakter baru yang dapat dinikmati.
Eksplorasi tersebut menjadi menarik karena setiap peserta memiliki peluang menemukan formulasi rasa masing-masing.
“Dari rasa yang ada di sini bisa transformasi rasa yang berubah. Dari rasa yang tidak ada menjadi ada,” katanya.
Konsep tersebut sejalan dengan semangat Prigen Coffee Fest 2026 yang membuka ruang bagi pelaku kopi untuk terus bereksperimen dan mengembangkan produk.
Selain kompetisi, penyelenggara juga mengajak pelaku UMKM dan pemilik produk lokal untuk memanfaatkan ruang yang tersedia selama kegiatan.
Tri Cahyo menyampaikan, siapa pun yang memiliki produk dan ingin memperkenalkannya dalam kegiatan tersebut dapat berkoordinasi dengan panitia.
“Kalau Anda punya produk, kalau bisa masuk di sini, kenapa tidak. Silakan didiskusikan,” ujarnya.
Panggung Utama hingga Komunitas Kreatif
Prigen Coffee Fest 2026 juga disiapkan dengan konsep yang melibatkan berbagai komunitas dan pelaku ekonomi kreatif.
Tri Cahyo menyebut akan ada dua venue utama yang disiapkan. Sementara itu, panggung utama akan menjadi ruang hiburan yang lebih besar dengan menghadirkan musik tropical forest serta komunitas dan band dari Pasuruan maupun Pandaan.
Panggung tersebut juga dibuka bagi komunitas yang ingin berpartisipasi mengisi kegiatan selama event berlangsung.
Dengan konsep tersebut, Prigen Coffee Fest 2026 diharapkan tidak hanya menjadi tempat bertemunya para pelaku kopi, tetapi juga menjadi ruang interaksi masyarakat, UMKM, komunitas, wisata, budaya, dan ekonomi kreatif.
Event pada 16–17 Oktober 2026 itu sekaligus menjadi upaya memperkuat identitas Prigen sebagai salah satu kawasan yang memiliki potensi besar dalam pengembangan kopi dan ekonomi kreatif.
Dari hulu hingga hilir, dari petani dan produk kopi hingga barista, UMKM, komunitas dan konsumen, seluruh mata rantai tersebut diharapkan dapat bertemu dalam satu ekosistem.
Prigen Coffee Fest 2026 pun tidak berhenti pada secangkir kopi. Di baliknya ada cerita tentang kreativitas, budaya, UMKM, komunitas, dan upaya membangun ekosistem ekonomi kreatif yang dapat terus bergerak dan berkembang.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.