Langsung ke konten
Sabtu, 29 Agustus 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Dosen FUSI UIN Malang Ikuti Halaqah Penguatan Kepemimpinan Ulama Perempuan sebagai Pra-Kongres KUPI 3

Nur Mahmudah, MA, mengikuti Halaqah Penguatan Kepemimpinan Ulama Perempuan yang dilaksanakan di Yogyakarta pada 19–21 Agustus 2026.

Dr. Hj. Nur Mahmudah, MA, Dosen FUSI UIN Malang saat berbicara dalam Halaqah Penguatan Kepemimpinan Ulama Perempuan di Yogyakarta, sebagai bagian dari Pra-Kongres KUPI 3.

Dr. Hj. Nur Mahmudah, MA, Dosen FUSI UIN Malang saat berbicara dalam Halaqah Penguatan Kepemimpinan Ulama Perempuan di Yogyakarta, sebagai bagian dari Pra-Kongres KUPI 3. (Foto: Humas UIN Malang)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Dosen Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam (FUSI) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Hj. Nur Mahmudah, MA, mengikuti Halaqah Penguatan Kepemimpinan Ulama Perempuan yang dilaksanakan di Yogyakarta pada 19–21 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Pra-Kongres Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) ke-3 yang akan dilaksanakan pada tahun 2027.

Halaqah tersebut menjadi ruang strategis bagi ulama perempuan, akademisi, dan para penggerak keulamaan perempuan untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan, membangun jejaring, serta memperkuat sinergi dalam merespons berbagai persoalan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.


Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah mempersiapkan peserta sebagai tim perumus hasil Musyawarah Keagamaan KUPI pada Kongres KUPI 3. Musyawarah Keagamaan menjadi salah satu forum penting KUPI dalam mempertemukan khazanah keilmuan Islam dengan pengalaman perempuan dan realitas sosial untuk merumuskan pandangan keagamaan atas berbagai persoalan kontemporer.

Keterlibatan Dr. Hj. Nur Mahmudah, MA sekaligus menjadi bagian dari kontribusi akademisi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam memperkuat keulamaan perempuan dan produksi pengetahuan keislaman yang responsif terhadap pengalaman perempuan.
Nur Mahmudah mengungkapkan rasa antusias sekaligus kehormatannya dapat mengikuti kegiatan tersebut sebagai wakil dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Baca juga: Grand Final Duta FITK 2026, Mahasiswa Unjuk Prestasi, Karakter, dan Kepemimpinan

Baca juga: PILOT PGMI 2026 Bekali Mahasiswa Baru dengan Kepemimpinan dan Organisasi

“Saya sangat antusias dan merasa terhormat dapat menjadi bagian dari kegiatan ini sebagai wakil UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Bagi saya, halaqah ini menjadi ruang penting untuk membangun sinergi antar ulama perempuan sekaligus memperkuat kontribusi keilmuan dalam membaca teks keagamaan dan realitas sosial kemasyarakatan,” ungkapnya.

Menurutnya, sinergi antarulama perempuan penting untuk menghadirkan pembacaan keagamaan yang mampu mempertemukan teks dan realitas. Dalam konteks tersebut, Trilogi KUPI—Ma’ruf, Mubadalah, dan Keadilan Hakiki— menjadi pijakan penting dalam membaca teks keagamaan sekaligus memahami realitas sosial kemasyarakatan.

“Trilogi KUPI, yaitu Ma’ruf, Mubadalah, dan Keadilan Hakiki, memberikan kerangka penting dalam membaca teks sekaligus realitas sosial kemasyarakatan. Kerangka ini membantu agar pengetahuan dan pandangan keagamaan tidak berhenti pada teks, tetapi juga mampu merespons pengalaman nyata dan persoalan yang dihadapi masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan, keterlibatan dalam halaqah tersebut bukan hanya menjadi kesempatan untuk memperkuat kapasitas personal, tetapi juga menjadi bagian dari proses membangun jejaring dan sinergi keilmuan di antara ulama perempuan.

Bagi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, keterlibatan tersebut juga menjadi bentuk penguatan peran perguruan tinggi dalam mengembangkan kajian Islam yang kritis, kontekstual, dan responsif terhadap dinamika masyarakat. Dalam bidang Al-Qur’an dan Tafsir, pengalaman perempuan dan realitas sosial memiliki posisi penting dalam proses produksi pengetahuan keagamaan.

Halaqah Penguatan Kepemimpinan Ulama Perempuan diharapkan menjadi salah satu tahapan penting dalam mempersiapkan pelaksanaan Kongres KUPI ke-3. Para peserta dipersiapkan tidak hanya secara organisatoris, tetapi juga secara intelektual dan metodologis untuk terlibat dalam Musyawarah Keagamaan KUPI 3 yang akan dilaksanakan pada 2027.

Melalui rangkaian Pra-Kongres ini, KUPI terus memperkuat tradisi keilmuan yang menempatkan ulama perempuan sebagai subjek aktif dalam produksi pengetahuan keagamaan, sekaligus memperluas kontribusinya dalam merespons berbagai persoalan sosial kemasyarakatan melalui perspektif Islam yang berkeadilan.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.