Langsung ke konten
Sabtu, 29 Agustus 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Jelantah Tak Lagi Dibuang, Mahasiswa KKN Ajak Ibu PKK Ngadirejo Bikin Lilin dari Minyak Jelantah

Foto Bersama dalam Kegiatan Sosialisasi Pembuatan Lilin Aromaterapi Bersama Ibu-Ibu PKK Ngadirejo. (Sumber: Dokumentasi KKN UMM Kelompok 190, 2026)

Foto Bersama dalam Kegiatan Sosialisasi Pembuatan Lilin Aromaterapi Bersama Ibu-Ibu PKK Ngadirejo. (Sumber: Dokumentasi KKN UMM Kelompok 190, 2026)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Minyak jelantah yang selama ini kerap berakhir di saluran pembuangan atau sekadar dibuang begitu saja, kini tampil dalam wujud berbeda di tangan ibuibu PKK Desa Ngadirejo. Limbah dapur tersebut diolah menjadi lilin aromaterapi berwarna-warni lewat kegiatan sosialisasi dan demonstrasi yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 190 Universitas Muhammadiyah Malang  di Balai Desa Ngadirejo, Selasa (18/8/2026).

Kegiatan ini menghadirkan ibu-ibu PKK sebagai peserta sekaligus praktisi langsung. Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan mengenai pemanfaatan minyak jelantah, tetapi juga ikut mempraktikkan setiap tahap pembuatan lilin, mulai dari pencampuran bahan hingga proses menghias hasil akhirnya.

Dari Limbah Dapur Menjadi Produk Bernilai Guna

Minyak jelantah merupakan limbah rumah tangga yang hampir selalu dihasilkan dari aktivitas memasak sehari-hari. Jika dibuang sembarangan, minyak bekas ini berpotensi mencemari lingkungan, terutama saluran air. Namun, di balik statusnya sebagai limbah, minyak jelantah sebenarnya masih dapat diolah kembali menjadi produk lain apabila melalui proses yang tepat.

Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN menggagas sosialisasi pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan dasar pembuatan lilin aromaterapi. Tujuannya adalah memberikan pengetahuan sekaligus keterampilan praktis kepada ibu-ibu PKK, agar minyak jelantah tidak lagi dipandang sekadar limbah yang harus dibuang, melainkan bahan yang masih memiliki peluang untuk diolah kembali di lingkungan rumah tangga.

Koordinator kegiatan, Bela, mengatakan ide ini muncul karena minyak jelantah hampir selalu ada di setiap rumah tangga, namun jarang dimanfaatkan kembali.

“Hampir semua ibu-ibu pasti punya minyak bekas dari masak sehari-hari, tapi kebanyakan langsung dibuang aja. Makanya kami coba kenalkan satu alternatif sederhana, diolah jadi lilin aromaterapi, biar minyak itu nggak cuma jadi limbah,” ujarnya.

Minyak Jelantah Diolah Sebelum Digunakan

Sebelum sampai ke tahap sosialisasi, minyak jelantah yang digunakan dalam kegiatan ini telah melalui proses persiapan terlebih dahulu. Mahasiswa KKN memanaskan minyak jelantah menggunakan arang sebagai bagian dari proses untuk membantu mengurangi bau khas minyak bekas.

Minyak yang telah melalui tahap persiapan tersebut kemudian dibawa dan disediakan langsung dalam kegiatan sosialisasi, sehingga ibu-ibu PKK dapat langsung mengikuti proses pembuatan lilin tanpa perlu melalui tahap pengolahan awal dari nol.

Demonstrasi Pembuatan Lilin Aromaterapi

Inti kegiatan dimulai saat mahasiswa KKN memperagakan langsung proses pembuatan lilin di hadapan ibu-ibu PKK. Dalam demonstrasi ini, minyak jelantah yang telah dipersiapkan dicampurkan dengan bahan pembentuk lilin atau acid, menggunakan perbandingan tiga banding satu, yakni tiga bagian minyak jelantah berbanding satu bagian bahan pembentuk lilin.

Proses pencampuran dilakukan secara bertahap agar seluruh peserta dapat mengamati dengan jelas bagaimana kedua bahan tersebut menyatu, dari yang semula berupa cairan minyak hingga berubah menjadi adonan yang siap dibentuk. Cara ini dipilih agar ibuibu PKK tidak hanya mengetahui hasil akhirnya, tetapi juga memahami proses yang berlangsung di setiap tahap.

Dari Cetakan hingga Jadi Lilin Aromaterapi

Setelah adonan siap, proses dilanjutkan dengan mencetak campuran tersebut menggunakan cetakan yang telah disiapkan. Di tahap ini, ibu-ibu PKK mulai terlibat lebih aktif, tidak hanya menyaksikan tetapi juga mengambil bagian dalam proses pembuatan.

Pada tahap akhir, peserta diberi kesempatan untuk menghias dan mewarnai lilin sesuai kreativitas masing-masing. Sentuhan personal inilah yang membuat setiap lilin yang dihasilkan memiliki tampilan berbeda satu sama lain, meski berasal dari bahan dasar yang sama. Minyak jelantah yang semula hanya limbah dapur pun berubah wujud menjadi lilin aromaterapi dengan bentuk dan tampilan yang lebih menarik.

Praktek Pembuatan Lilin Aromaterapi

Kegiatan ini tidak berhenti pada penyampaian informasi seputar limbah minyak jelantah semata. Mahasiswa KKN sengaja merancang sosialisasi ini dengan porsi demonstrasi dan praktik yang lebih besar, agar peserta benar-benar memahami proses pengolahan, bukan sekadar mengetahui konsepnya secara teori.

Melalui pendekatan ini, sosialisasi pembuatan lilin aromaterapi menjadi bentuk edukasi mengenai pengelolaan limbah rumah tangga sekaligus pengenalan keterampilan sederhana yang berpotensi untuk terus dikembangkan oleh ibu-ibu PKK di lingkungan mereka sendiri.

Lewat kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap ibu-ibu PKK Desa Ngadirejo dapat menambah pengetahuan dan keterampilan dalam melihat minyak jelantah bukan lagi sebagai limbah yang harus dibuang, melainkan sebagai bahan yang masih bisa dimanfaatkan lewat proses pengolahan yang tepat. Dari satu sosialisasi sederhana di Balai Desa Ngadirejo, semangat untuk lebih kreatif mengelola limbah rumah tangga pun mulai ditanamkan.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.