Langsung ke konten
Minggu, 20 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Menuju 2 Dekade: Bedah Sejarah Pagar Nusa Donomulyo, Dari Latihan di Masjid hingga Kaderisasi Atlet

Pengurus Pagar Nusa Kabupaten Malang mengulik sejarah Pagar Nusa Donomulyo di halaman Masjid Baitul Kharim, Sumberoto, Sabtu (19/9).

Pengurus Pagar Nusa Donomulyo dan Pagar Nusa Kabupaten Malang bercengkerama di teras Masjid Baitul Kharim, Sumberoto, Sabtu (19/9)./dok.ROF

Pengurus Pagar Nusa Donomulyo dan Pagar Nusa Kabupaten Malang bercengkerama di teras Masjid Baitul Kharim, Sumberoto, Sabtu (19/9)./dok.ROF

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Sebuah jurus tidak lahir begitu saja. Di balik gerakan yang tampak sederhana, ada proses panjang: latihan yang berulang, guru yang sabar, atlet yang ditempa, serta sejarah yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Semangat itulah yang terasa dalam kegiatan Persamaan Jurus Baku dan Bedah Sejarah Pagar Nusa Donomulyo, yang digelar Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pagar Nusa Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Sabtu (19/9/2026).

Kegiatan berlangsung mulai pukul 14.00 WIB di halaman Masjid Baitul Kharim, Panggungwaru, Tugurejo, Sumberoto, Kecamatan Donomulyo.

Selain menyamakan pemahaman teknik jurus, kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas spiritual kader sekaligus mengajak peserta memahami kembali perjalanan Pagar Nusa di Donomulyo.

Baca juga: Pagar Nusa Kabupaten Malang Tunjukkan Konsistensi Prestasi di Bupati Cup 2026

Bedah Sejarah Pagar Nusa Donomulyo

Hadir dalam kegiatan itu Ketua MWC NU Kecamatan Donomulyo KH Farhanudin, Rais Syuriyah NU Kecamatan Donomulyo Gus Muhyidin.

Ketua PAC Pagar Nusa Kecamatan Donomulyo Muhammad Hanif Zukhrofi, Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Malang Saiful Anam, serta Ustaz Noor Efendi pengasuh Pondok Pesantren Karimurozaq Donomulyo sekaligus sesepuh Pagar Nusa.

Noor Efendi kemudian menjadi narasumber utama dalam sesi bedah sejarah.

Ia membawa peserta menelusuri perjalanan pencak silat di Donomulyo, dari masa ketika latihan masih dilakukan secara sederhana hingga berkembang menjadi pembinaan atlet dan kader.

Berawal dari Masjid dan Mushala

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari para sesepuh, Noor Efendi menjelaskan bahwa sebelum 2008 sebenarnya aktivitas latihan pencak silat sudah ada di Donomulyo.

Namun, pada waktu itu latihan belum terstruktur seperti sekarang.

Latihan masih dilaksanakan di mushala dan masjid. Selain sebagai kegiatan olahraga dan bela diri, aktivitas tersebut juga menjadi bagian dari media syiar.

Materi yang diajarkan ketika itu antara lain berkaitan dengan tenaga dalam, karomah, dan materi spiritual lainnya.

Dari lingkungan yang sederhana itulah perjalanan pencak silat di Donomulyo perlahan berkembang.

Tahun 2008 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Noor Efendi.

Ia melamar sebagai tenaga pendidik dengan membawa sertifikat Jawa Timur. Namun, pada awalnya ia hanya diterima untuk mengajar kegiatan ekstrakurikuler.

Kesempatan kemudian datang ketika dua guru IPA sedang cuti kehamilan. Karena Noor Efendi memiliki latar belakang pendidikan IPA, ia kemudian diminta mengajar mata pelajaran tersebut.

Dari lingkungan pendidikan itu, pembinaan atlet mulai berkembang lebih serius.

Delapan Atlet dan Latihan Empat–Lima Kali Seminggu

Salah satu pengalaman yang diceritakan Noor Efendi adalah ketika mengikuti event Dies Natalis UIN.

Ia mengirimkan delapan atlet untuk mengikuti event tersebut.

Persiapannya tidak ringan. Latihan dilakukan empat hingga lima kali dalam seminggu. Pada waktu tertentu, latihan bahkan dilakukan di pantai.

Dari atlet yang dikirim tersebut, dua anak berhasil menjadi juara.

Prestasi itu menjadi bagian dari pengalaman penting dalam perjalanan pembinaan.

Latihan tidak lagi sekadar dilakukan untuk mengisi waktu, tetapi mulai diarahkan pada pembentukan atlet yang siap mengikuti pertandingan.

Pada 2010-2011, Noor Efendi kemudian mengajar di MAN Sumberoto.

Tahun 2012, beberapa atlet dikirim ke Malang dan SMK Negeri 12 Singosari. Dari proses tersebut, para atlet binaannya kemudian mulai ditata untuk melatih di sejumlah lembaga di sekitar Donomulyo.

Iklan

Noor Efendi menyebut terdapat sekitar sembilan lokasi yang kemudian menjadi tempat para atlet tersebut melatih. Di sinilah pola kaderisasi mulai terlihat.

Atlet yang sebelumnya mendapatkan pembinaan kemudian kembali menjadi pelatih bagi generasi berikutnya.

Dari Atlet Menjadi Pelatih

Pada 2017, Noor Efendi melanjutkan aktivitas pembinaan di SMK Nurul Huda Bantur.

Setelah sekitar enam bulan menjalani latihan, ia mengirimkan atlet binaannya untuk mengikuti O2SN.

Hasilnya, tiga atlet berhasil meraih juara tingkat seni.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan pembinaan yang lebih panjang.

Prestasi tidak hanya diukur dari jumlah kejuaraan yang dimenangkan, tetapi juga dari kemampuan melahirkan generasi baru yang mampu melanjutkan proses latihan.

Pada 2020, PAC Pagar Nusa Donomulyo mulai terbentuk.

Para atlet kemudian aktif di rayon masing-masing serta di sejumlah lembaga pendidikan.

Setahun berikutnya, pada 2021, Noor Efendi mendapat informasi mengenai latihan Gasmi di Tugurejo.

Ia kemudian berusaha merangkul dan membina organisasi tersebut.

Menurut Noor Efendi, langkah itu juga dilakukan karena dirinya mendapat amanah untuk ikut membantu menjaga organisasi tersebut.

Pagar Nusa yang Terus Berkembang

Ketua PAC Pagar Nusa Kecamatan Donomulyo Muhammad Hanif Zukhrofi melihat perjalanan tersebut sebagai bagian dari perkembangan Pagar Nusa di wilayah Donomulyo.

“Alhamdulillah, Pagar Nusa berkembang pesat di Donomulyo, terbukti baik dari segi prestasi maupun jumlah kita yang semakin bertambah,” ujarnya.

Pertumbuhan itu menjadi tantangan tersendiri bagi organisasi.

Semakin banyak anggota berarti semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan proses pembinaan berjalan dengan baik. Karena itu, peningkatan kualitas teknik dan spiritual menjadi bagian penting dari agenda kaderisasi.

Persamaan jurus baku menjadi salah satu cara untuk menyamakan pemahaman teknik antarkader.

Sementara bedah sejarah menjadi ruang untuk memastikan generasi baru mengetahui akar perjalanan organisasi yang mereka ikuti.

“Pagar Nusa adalah Pagarnya NU dan Bangsa”

Ketua MWC NU Kecamatan Donomulyo KH Farhanudin menyampaikan kebanggaannya atas keberadaan Pagar Nusa di Donomulyo.

“Saya bangga dengan adanya Pagar Nusa di Donomulyo ini,” katanya.

Ia berharap Pagar Nusa selalu hadir dalam berbagai kegiatan NU di Kecamatan Donomulyo.

“Kami harap setiap kegiatan NU nanti Pagar Nusa selalu hadir memeriahkan acara tersebut. Karena Pagar Nusa adalah pagarnya NU dan bangsa,” ujarnya.

Harapan tersebut sekaligus menempatkan Pagar Nusa dalam ruang kaderisasi NU di tingkat lokal, tidak hanya sebagai organisasi pencak silat, tetapi juga sebagai bagian dari kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat.

Rais Syuriyah NU Kecamatan Donomulyo Gus Muhyidin juga hadir dalam kegiatan tersebut.

Iklan

Kehadiran para pengurus NU bersama jajaran Pagar Nusa memperlihatkan pentingnya hubungan antara pencak silat, pendidikan kader, dan lingkungan ke-NU-an.

Pagar Nusa Donomulyo saat latihan dan berfoto bareng di halaman Masjid Baitul Kharim Sumberoto, Donomulyo, Kabupaten Malang pada Sabtu (19/9)./dok.ROF
Pagar Nusa Donomulyo saat latihan dan berfoto bareng di halaman Masjid Baitul Kharim Sumberoto, Donomulyo, Kabupaten Malang pada Sabtu (19/9)./dok.ROF

Teknik yang Bertemu dengan Akidah

Kegiatan ini tidak berhenti pada persoalan teknik.

Fokus yang ingin dibangun adalah mencetak kader Pagar Nusa yang mantap dalam teknik jurus sekaligus memiliki landasan akidah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

Dalam kerangka itu, pencak silat dipahami sebagai bagian dari proses pendidikan manusia.

Kader perlu memiliki kemampuan fisik, tetapi juga membutuhkan adab, spiritualitas, dan pemahaman terhadap nilai-nilai keagamaan.

Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Malang Saiful Anam dalam pesannya turut menekankan pentingnya berkah dalam kehidupan.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan seorang kader tidak semata ditentukan oleh kemampuan yang dimiliki, tetapi juga oleh bagaimana kemampuan itu digunakan.

Kemampuan teknik harus berjalan bersama adab. Prestasi perlu disertai kerendahan hati. Dan ilmu yang diperoleh dari guru diharapkan membawa manfaat bagi orang lain.

Mengingat Sejarah untuk Mengambil Hikmah

Di titik inilah bedah sejarah menjadi penting.

Sejarah tidak hanya berfungsi mencatat kapan sebuah organisasi terbentuk atau siapa yang pernah menjadi pelaku di dalamnya. Sejarah juga menyimpan pengalaman tentang bagaimana sebuah tradisi bertahan dan berkembang.

Perjalanan yang diceritakan Noor Efendi memperlihatkan proses tersebut.

Dari latihan di masjid dan mushala, kemudian masuk ke lingkungan pendidikan. Dari sana lahir atlet, lalu atlet menjadi pelatih.

Proses itu kemudian berjalan beriringan dengan pembentukan PAC Pagar Nusa Donomulyo.

Kini generasi berikutnya berada pada tahap untuk meneruskan mata rantai tersebut.

Karena itu, belajar sejarah menjadi bagian dari kaderisasi.

Dengan memahami perjalanan para pendahulu, kader diharapkan dapat mengambil hikmah sekaligus memahami tanggung jawab yang mereka emban.

Jurus boleh terus dipelajari dan disempurnakan. Organisasi juga akan terus berkembang mengikuti zaman.

Namun, di balik semua itu terdapat satu hal yang tidak kalah penting: menjaga nilai, adab, akidah, dan kesinambungan kaderisasi.

Dari halaman Masjid Baitul Kharim, Pagar Nusa Donomulyo kembali mengingatkan bahwa seorang pesilat tidak hanya belajar bagaimana bergerak menghadapi lawan.

Ia juga belajar bagaimana mengendalikan diri, menghormati guru, menjaga persaudaraan, dan menggunakan kemampuan untuk memberi manfaat.

Sebab pada akhirnya, sejarah bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Sejarah adalah bekal agar generasi hari ini tahu dari mana mereka berasal dan ke mana nilai-nilai perjuangan itu hendak dibawa.(ROF)

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.