Langsung ke konten
Jumat, 28 Agustus 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Menteri PPPA Ketua PP Muslimat NU Hj. Arifatul Choiri Fauzi Buka Seminar Nasional dan Bahtsul Masail APMNU, Sukseskan Muktamar NU ke-35

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) bersama Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU, Hj.

Sambutan Ketua PP Muslimat NU, Dra. Hj. Arifah Choiri Fauzi, M.Si., di Aula SMK Negeri 1 Jombang (28/08).

Sambutan Ketua PP Muslimat NU, Dra. Hj. Arifah Choiri Fauzi, M.Si., di Aula SMK Negeri 1 Jombang (28/08).

JOMBANG | JATIMSATUNEWS.COM: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) bersama Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU, Hj. Arifatul Choiri Fauzi, M.Si, membuka Seminar Nasional dan Bahtsul Masail yang digelar Asosiasi Profesor Muslimat Nahdlatul Ulama (APMNU) di Jombang, Kamis (27/8/2026).

Kegiatan bertema “Mewujudkan Generasi Cerdas Digital dan Lingkungan Nir Kekerasan Seksual” dilaksanakan di SMAN 1 Jombang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan untuk menyukseskan Muktamar NU ke-35.

Seminar nasional i dihadiri para profesor APMNU dari berbagai provinsi, para bu nyai, serta jajaran pengurus dan kader Muslimat NU.

Baca juga: Pengajian Jumat Pahing PAC Muslimat NU Widodaren Ngawi Dihadiri 25 Ribu Jamaah

Baca juga: Muharram Bahagia, PAC Muslimat NU Widodaren Ngawi Santuni 23 Anak Yatim dengan Voucher Belanja Gratis

Dalam agenda tersebut, APMNU mengangkat sejumlah isu strategis, mulai dari positive parenting, penggunaan Artificial Intelligence (AI) secara bijak, kesehatan perempuan, pola asuh anak hingga strategi pencegahan kekerasan seksual.

Ketua PP Muslimat NU, Hj. Arifatul Choiri Fauzi, menyampaikan apresiasi kepada APMNU yang telah mengambil peran penting dalam memperkuat tradisi intelektual di lingkungan Muslimat NU.“Apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kami sampaikan kepada Asosiasi Profesor Muslimat NU yang telah mengambil peran untuk memperkuat tradisi intelektual sekaligus menghadirkan kontribusi pemikiran untuk menjawab berbagai persoalan,” ujarnya.

Menurut Hj Arifatul, forum tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai ruang diskusi akademik, tetapi menghasilkan gagasan yang bisa diterapkan secara nyata untuk kepentingan umat, bangsa dan negara.

“Forum ini tidak berhenti di ruang diskusi, tetapi menjadi bagian untuk memperkuat organisasi dan merumuskan gagasan yang bermanfaat nyata bagi umat, bangsa dan negara,” tegasnya.

Hj Arifatul menekankan pentingnya ketahanan keluarga dalam menghadapi tantangan perkembangan teknologi dan perubahan sosial.Menurutnya, keluarga merupakan benteng pertama bagi anak karena menjadi tempat pertama untuk mendapatkan kasih sayang, pendidikan moral, nilai agama dan pembentukan akhlak.Namun, di tengah derasnya arus digital, keluarga membutuhkan benteng yang lebih kuat.

“Yang kita butuhkan saat ini adalah pagar hati. Ini perlu ditanamkan oleh orang tua sejak anak berada di rumah, yaitu pondasi agama dan akhlakul karimah,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa anak-anak saat ini tumbuh dalam ekosistem digital yang memungkinkan mereka mengakses informasi dalam hitungan detik tanpa batas geografis.Karena itu, generasi muda NU tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi.

“Mereka harus menjadi pencipta teknologi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Orang tua, kata Arifatul, harus hadir memberikan pendampingan positif kepada anak, termasuk membantu memilih dan memilah informasi, mengenali konten berbahaya serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.Dorong Pencegahan Kekerasan SeksualPersoalan kekerasan seksual juga menjadi perhatian serius dalam Seminar Nasional dan Bahtsul Masail APMNU.

Arifatul menjelaskan, penanganan kekerasan membutuhkan perubahan paradigma dari pendekatan reaktif menjadi preventif.

Jika paradigma lama lebih banyak bergerak setelah kasus terjadi, paradigma baru harus mengedepankan pencegahan sejak awal.“Paradigma yang baru lebih kepada preventif atau pencegahan sejak awal. Pada posisi korban, kita berpihak kepada korban untuk dipercaya, dilindungi dan didampingi,” jelasnya.Menurutnya, pencegahan, perlindungan, penegakan hukum dan pemulihan korban harus berjalan secara bersamaan.Keluarga, sekolah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat dan pemerintah memiliki peran masing-masing dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak.

Arifatul juga menempatkan APMNU sebagai salah satu kekuatan intelektual Muslimat NU.Ia berharap para profesor yang tergabung dalam APMNU mampu mengolah berbagai persoalan masyarakat menjadi kajian berbasis riset dan data, kemudian melahirkan pandangan keagamaan yang responsif terhadap perkembangan zaman.“Gagasan yang dimunculkan harus berbasis riset dan data, meninggalkan asumsi dan bergerak dengan fakta yang terjadi,” katanya.Menurutnya, kekuatan APMNU terletak pada kemampuan akademiknya yang tetap berpijak pada tradisi keilmuan Islam.Para profesor diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi yang dapat diterjemahkan menjadi program perlindungan anak, penguatan keluarga, model pendidikan maupun kebijakan publik.“APMNU ini menjadi dapur intelektualnya Muslimat NU, yang bisa memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan yang ada di masyarakat,” tegas Arifatul.

Arifatul berharap sinergi antara Muslimat NU, APMNU dan berbagai elemen masyarakat dapat memperkuat keluarga sebagai fondasi bangsa.Keluarga yang kuat, menurutnya, akan melahirkan perempuan yang berdaya serta anak-anak yang terlindungi dan tumbuh dengan karakter yang kuat.Ia juga mengajak seluruh peserta untuk menjadikan forum tersebut sebagai ruang berdiskusi secara kritis dan objektif sehingga menghasilkan keputusan dan rekomendasi yang benar-benar bermanfaat.“Mudah-mudahan output kegiatan hari ini bisa berjalan lancar dan keputusan yang dihasilkan dapat memberikan manfaat,” ujarnya.

Bagian dari Khidmah Muktamar NU ke-35Seminar Nasional dan Bahtsul Masail APMNU menjadi salah satu rangkaian kegiatan Muslimat NU dalam menyambut dan menyukseskan Muktamar NU ke-35 di Jombang.

Selain seminar nasional, APMNU juga melakukan soft launching website APMNU.org dan buku karya para profesor Muslimat NU.Rangkaian tersebut kemudian dilanjutkan dengan Bahtsul Masail yang membahas persoalan keagamaan dan sosial secara multidisipliner, terutama berkaitan dengan keluarga, perempuan dan anak.Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan kontribusi nyata para profesor Muslimat NU yang datang dari berbagai daerah untuk mengabdikan keilmuan mereka dalam momentum besar Muktamar NU ke-35.Dengan mengusung semangat “Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi Menuju Indonesia Emas 2045”, APMNU dan Muslimat NU menegaskan bahwa penguatan keluarga, pendidikan, perlindungan anak dan kecerdasan digital merupakan investasi penting untuk masa depan bangsa.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.