KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: Muktamar bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan atau penyusunan program organisasi. Muktamar adalah ruang untuk melakukan muhasabah, membaca perubahan zaman, sekaligus merumuskan arah perjuangan masa depan. Karena itu, Muktamar NU ke-35 di Jombang menjadi momentum penting bagi Nahdlatul Ulama untuk kembali meneguhkan jati diri: merawat tradisi, menguatkan kemandirian, dan membangun peradaban.
Tiga gagasan tersebut bukanlah slogan yang berdiri sendiri. Ketiganya merupakan satu kesatuan visi. Tradisi menjadi akar, kemandirian menjadi kekuatan, sedangkan peradaban menjadi tujuan.
Merawat Tradisi, Bukan Membekukan Masa Lalu
NU lahir dari tradisi keilmuan Islam yang panjang. Pesantren, kiai, santri, madrasah, masjid, majelis taklim, serta berbagai praktik keagamaan masyarakat merupakan ekosistem yang membentuk karakter Nahdliyin. Tradisi keilmuan seperti talaqqi, tafaqquh fiddin, musyawarah, bahtsul masail, dan penghormatan terhadap ulama merupakan kekayaan yang tidak boleh hilang di tengah arus modernisasi.
Namun, merawat tradisi tidak berarti mempertahankan masa lalu secara apa adanya. Tradisi harus mampu berdialog dengan perubahan zaman. Kaidah al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah mengajarkan pentingnya mempertahankan nilai lama yang baik sekaligus mengambil pembaruan yang lebih baik.
Di era kecerdasan buatan, digitalisasi, perubahan iklim, globalisasi, dan transformasi sosial, tradisi NU harus hadir dengan wajah yang relevan. Santri harus menguasai kitab kuning sekaligus teknologi digital. Pesantren harus kuat dalam ilmu agama sekaligus literasi sains, kewirausahaan, lingkungan, dan teknologi. Dengan demikian, tradisi tidak menjadi museum masa lalu, tetapi menjadi energi untuk menghadapi masa depan.
Menguatkan Kemandirian
Kemandirian merupakan syarat penting bagi organisasi dan masyarakat yang ingin memiliki daya tawar. NU memiliki modal sosial yang luar biasa besar: jaringan pesantren, madrasah, perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga ekonomi, koperasi, organisasi perempuan, pemuda, mahasiswa, serta komunitas profesional.
Modal sosial tersebut perlu dikonsolidasikan menjadi kekuatan ekonomi dan pengetahuan.
Kemandirian ekonomi umat harus menjadi agenda strategis. Warga NU jangan hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen. Pesantren jangan hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga dapat berkembang menjadi pusat kewirausahaan dan pemberdayaan masyarakat. Digitalisasi dapat dimanfaatkan untuk memperluas pasar produk pesantren dan UMKM warga NU.
Kemandirian juga berarti kemandirian intelektual. NU harus terus melahirkan ilmuwan, akademisi, profesional, teknokrat, pengusaha, dan pemimpin yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus kompetensi global. Santri masa depan harus mampu berbicara bahasa agama dan bahasa ilmu pengetahuan secara bersamaan.
Kemandirian bukan berarti berjalan sendirian. Justru kemandirian memungkinkan NU membangun kemitraan yang lebih setara dengan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, masyarakat sipil, dan komunitas internasional.
Membangun Peradaban
Pada akhirnya, merawat tradisi dan menguatkan kemandirian harus bermuara pada pembangunan peradaban. Peradaban bukan hanya tentang gedung yang megah, teknologi yang canggih, atau pertumbuhan ekonomi. Peradaban adalah tentang manusia yang berilmu, berakhlak, adil, toleran, produktif, dan mampu menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.
Di sinilah NU memiliki tanggung jawab sejarah. Islam yang dikembangkan NU harus mampu menjadi kekuatan moral bagi bangsa. Islam rahmatan lil ‘alamin harus diwujudkan dalam kehidupan nyata: menjaga persaudaraan, merawat kebinekaan, membela kelompok lemah, memperkuat pendidikan, menjaga lingkungan, dan membangun ekonomi yang berkeadilan.
Peradaban masa depan membutuhkan manusia yang tidak tercerabut dari nilai spiritual, tetapi juga tidak gagap menghadapi teknologi. Karena itu, paradigma Islam wasathiyah perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam pendidikan, ekonomi, politik kebangsaan, kebudayaan, lingkungan, dan kehidupan sosial.
Muktamar NU ke-35 di Jombang hendaknya menjadi momentum untuk melihat NU bukan hanya sebagai organisasi besar, tetapi sebagai gerakan peradaban. Gerakan yang akarnya kokoh, ekonominya mandiri, ilmunya berkembang, kadernya unggul, dan kontribusinya semakin luas.
Merawat tradisi berarti menjaga jati diri. Menguatkan kemandirian berarti membangun daya juang. Membangun peradaban berarti menghadirkan kemaslahatan.
Semoga Muktamar NU ke-35 melahirkan keputusan-keputusan strategis yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga kesinambungan khidmah NU bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Dari Jombang, mari meneguhkan kembali pesan besar itu: tradisi yang dirawat, kemandirian yang diperkuat, dan peradaban yang terus dibangun.
Oleh: Prof. Dr. H. Triyo Supriyatno, M.Ag


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.