Langsung ke konten
Jumat, 21 Agustus 2026
Headline Relik Dmitry Donskoy Ditemukan Utuh di Kremlin, Putin Tinjau Makam
Nasional

Bershalawat dan Merawat Tradisi Keagamaan, Warga Belung Antusias Sambut Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H

Warga Belung Malang antusias bershalawat menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Masjid Ar Ridlo, Jumat (21/8).

Warga Belung Malang antusias bershalawat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah./dok.istimewa

Warga Belung Malang antusias bershalawat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah./dok.istimewa

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Antusiasme terlihat dari masyarakat Desa Belung, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, dalam kegiatan menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.

Pengurus Hari Besar Islam (PHBI) Masjid Ar Ridlo Belung menggelar agenda ini pada Jumat (21/8).

Kegiatannya berlangsung sekitar pukul 12.00 WIB, selepas salat Jumat, sehingga jamaah dan masyarakat dari berbagai unsur dapat langsung mengikutinya dengan semangat.

Baca juga: Bu Nyai Hasyim Muzadi dan Wabup Kediri Hadiri Silaturahmi Maulid Nabi ISNU UB

Shalawat Bagian dari Kesadaran Muslim

Sejumlah tokoh agama, tokoh Nahdlatul Ulama (NU), tokoh masyarakat, serta warga desa turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Ceramah utama dari KH Drs. Syaifudin Zuhri, yang mengajak jamaah memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Menurut dia, shalawat bukan sekadar rangkaian ucapan pujian, melainkan bagian dari kesadaran spiritual seorang Muslim dalam menempatkan Nabi sebagai teladan kehidupan.

“Semua makhluk membutuhkan syafaat Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Karena itu, memperbanyak shalawat bukan hanya soal memperbanyak lafaz, tetapi bagaimana hati kita kembali terhubung dengan keteladanan Rasulullah,” ujar KH Syaifudin Zuhri.

Ia menjelaskan, kecintaan kepada Nabi semestinya tidak berhenti pada simbol dan seremoni.

Shalawat idealnya melahirkan perubahan perilaku: semakin lembut dalam berbicara, semakin jujur dalam bertindak, semakin peduli terhadap sesama, serta semakin mampu mengendalikan ego.

Secara filosofis, kecintaan kepada Rasulullah dapat dipahami sebagai proses menghadirkan nilai kenabian dalam kehidupan sehari-hari.

Shalawat menjadi jembatan antara pengetahuan agama dan pengamalan akhlak.

Seseorang tidak cukup hanya mengetahui siapa Nabi Muhammad SAW, tetapi juga dituntut meneladani cara beliau memperlakukan manusia, membangun persaudaraan, dan menghadapi perbedaan.

Shalawat Sambut Maulid Nabi Tradisi Baik

Takmir Masjid Ar Ridlo, Gus Abdul Hamid Sobri atau Gus Hamid, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari agenda rutin yang telah dijalankan pengurus takmir sebelumnya.

“Kegiatan ini meneruskan agenda dan tradisi baik para pengurus takmir sebelumnya. Kami berharap kegiatan semacam ini terus berjalan secara istiqamah dan menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat,” kata Gus Hamid.

Menurutnya, keberlanjutan kegiatan keagamaan tidak hanya bergantung pada pengurus masjid.

Partisipasi masyarakat menjadi unsur penting agar masjid tidak sekadar menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang tumbuhnya pengetahuan, kebersamaan, dan kebudayaan masyarakat.

Pandangan senada dari H. Syamsu Duha, yang akrab dipanggil Abah Duha dari PC DMI.

Ia mengapresiasi kegiatan yang mempertemukan pengurus masjid, pemerintah desa, masyarakat, serta warga NU tersebut.

“Kami merespons baik kegiatan ini. Ini merupakan bentuk kolaborasi antara pengurus takmir masjid, Pemerintah Desa Belung, masyarakat, dan warga NU yang secara kultural memang menjadi bagian besar dari kehidupan masyarakat Belung,” ujarnya.

Menurut Abah Duha, kegiatan keagamaan seperti peringatan Nabi Muhammad SAW memiliki makna yang lebih luas daripada seremoni keagamaan.

Tradisi tersebut dapat menjadi ruang untuk merawat hubungan sosial sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan yang hidup di tengah masyarakat.

“Agama tidak tumbuh di ruang kosong. Agama hidup bersama kebudayaan masyarakat. Ketika nilai agama bertemu dengan budaya yang baik, lahirlah tradisi yang mampu menjaga ingatan kolektif, memperkuat persaudaraan, sekaligus membentuk karakter masyarakat,” katanya.

Dalam perspektif tersebut, kegiatan keagamaan menjadi salah satu cara masyarakat membangun peradaban dari bawah.

Masjid tidak hanya menjadi pusat ritual, tetapi juga ruang sosial tempat nilai, pengetahuan, dan kebersamaan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Baca juga: Negeriku Tergulung

Tradisi Maulid Nabi Muhammad sebagai Refleksi

Tradisi memperingati Nabi Muhammad SAW dapat menjadi momentum refleksi.

Masyarakat tidak hanya mengingat sejarah kehidupan Rasulullah, tetapi juga menguji kembali sejauh mana nilai kasih sayang, keadilan, persaudaraan, kejujuran, dan penghormatan kepada sesama telah hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Shalawatan di Masjid Ar Ridlo juga mendapat perhatian dari berbagai unsur masyarakat dan organisasi keagamaan.

Hadir di antaranya Saiful Anam, Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Malang; H. Zainuri, Ketua Tanfidziyah MWC NU Poncokusumo; H. Drs. Turmudzi; K. Syaifudin Romli; unsur DKM Kecamatan Poncokusumo; serta sejumlah tokoh NU dan tokoh masyarakat di Kecamatan Poncokusumo.

Kehadiran berbagai elemen masyarakat itu menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan masih memiliki daya rekat sosial yang kuat.

Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, ruang-ruang perjumpaan semacam ini menjadi penting untuk menjaga komunikasi, memperkuat solidaritas, dan mencegah kehidupan sosial berjalan semakin individualistis.

Bagi masyarakat Belung, antusiasme jamaah dalam kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa keberagamaan masih menjadi bagian penting dari kehidupan sosial.

Tradisi keagamaan tidak hanya dipertahankan sebagai warisan masa lalu, tetapi dapat terus dihidupkan sebagai sarana pendidikan karakter dan pembentukan kesadaran bersama.

Pada akhirnya, pesan utama peringatan tersebut kembali pada makna shalawat: mencintai Nabi Muhammad SAW berarti berusaha menghadirkan akhlak beliau dalam kehidupan nyata.

Sebab, ukuran kecintaan kepada Rasulullah bukan semata-mata seberapa sering nama beliau disebut, tetapi seberapa jauh keteladanan beliau mengubah cara manusia memperlakukan Tuhan, sesama, lingkungan, dan dirinya sendiri.(ROF)

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.