BUKITTINGGI | JATIMSATUNEWS.COM; Suara kicauan burung bersahutan di Jorong Cibuak Ameh, Nagari Pasia, Kabupaten Agam, setiap Jumat sore. Di tengah suasana yang penuh keakraban, para kicau mania alias pencinta burung berkicau berkumpul untuk mengikuti perlombaan mingguan yang diselenggarakan oleh Gantangan NSP Pasia.
Ketika kami mendatangi lokasi kegiatan, sebuah spanduk penyambutan bertuliskan, “Selamat Datang dan Bertanding Para Sahabat Kicau Mania. Kita Jalin Silaturahmi dengan Menjunjung Tinggi Sportivitas.”
Kegiatan Lomba Kicau Burung Mingguan digelar di lokasi ini setiap Hari Jumat yang berlangsung mulai pukul 16.00 hingga 18.00 WIB ini bukan sekadar ajang mengadu kualitas suara burung. Lebih dari itu, Gantangan NSP Pasia perlahan tumbuh menjadi ruang pertemuan, tempat para penghobi dari berbagai daerah menjalin pertemanan, bertukar pengalaman, sekaligus melepas penat dari kesibukan sehari-hari.
“Terdapat semangat yang ingin dibangun oleh komunitas Gantangan NSP Pasia yaitu menjadikan perlombaan sebagai sarana mempererat persaudaraan, bukan semata-mata mengejar kemenangan,” begitu buka pembicaraan Pak Ipung ketika ditemui di lokasi Gantangan NSP Pasia, 6 November 2026.

Trend Perkembangan Kicau Mania
Menurut pengamatan jurnalis RRI Novrima Haryanto, perkembangan lomba burung berkembanga dari hari ke hari. Perkembangan tersebut dinilai dari hadiah yang ditampilkan, dulu dengan hadiah seadanya, sekarang sudah menghadirkan hadiah yang mewah. Selain hobi, Novrima Haryanto menilai perlombaan burung ini merupakan dari pengembangan industri kreatif.
Dalam dunia kicau mania, setiap jenis burung memiliki karakter dan keistimewaan tersendiri. Ada yang menonjol melalui volume suara, variasi lagu, durasi berkicau, hingga gaya penampilannya ketika berada di arena gantangan.
Beberapa jenis burung yang dikenal dalam dunia perlombaan kicau antara lain Murai Batu, Kacer, Cucak Hijau, Lovebird, Kenari, dan Cendet (lifestyle.fin.co.id).
Murai Batu dikenal sebagai salah satu burung primadona karena memiliki suara lantang, variasi kicauan yang kaya, serta gaya bertarung yang menarik. Kacer memiliki karakter suara keras dan tajam, sementara Cucak Hijau dikenal dengan variasi materi kicauan dan kemampuannya membawakan berbagai isian suara.
Lovebird mempunyai ciri khas suara ngekek yang menjadi perhatian tersendiri dalam perlombaan. Kenari dikenal dengan suara merdu dan lagu yang panjang, sedangkan Cendet memiliki kemampuan menirukan berbagai suara sehingga menarik perhatian para penghobi.
Secara umum, penilaian burung berkicau mempertimbangkan beberapa aspek, di antaranya kualitas dan volume suara, variasi lagu atau materi kicauan, durasi serta kontinuitas berkicau, dan gaya penampilan burung.
Burung yang mampu mengeluarkan suara dengan jelas, memiliki variasi kicauan yang baik, serta tampil aktif dan konsisten selama perlombaan tentu mempunyai nilai tersendiri.
Pada jenis burung tertentu, gaya atau gerakan ketika berkicau juga menjadi perhatian juri. Pengamatan dilakukan selama burung berada di gantangan, kemudian hasil penilaian digunakan untuk menentukan peserta dengan penampilan terbaik.
Setiap jenis burung memiliki karakter penilaian yang berbeda, sehingga ketentuan teknis mengikuti kelas dan aturan yang diterapkan penyelenggara.
Di sinilah sportivitas diuji. Bukan hanya bagi peserta yang berharap menang, tetapi juga bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan perlombaan.
Pak Ipung : Mari Bersilaturahmi Bersama Kicau Mania NSP Pasia
Pengelola kegiatan, Pak Ipung, menyampaikan ajakan terbuka kepada seluruh komunitas burung berkicau, khususnya yang berada di wilayah Bukittinggi dan Agam, serta Sumatera Barat pada umumnya, untuk datang dan menjalin silaturahmi bersama keluarga besar Kicau Mania NSP Pasia.

Foto : Pak Ipung, Pengelola Gantangan NSP Pasia
“Kegiatan mingguan ini terbuka bagi seluruh pencinta burung berkicau tanpa memandang daerah asal maupun latar belakang masing-masing,” begitu penjelasan laki-laki sehat berbadan gempal itu.
Ajakan tersebut bukan hanya untuk mereka yang ingin mengikuti perlombaan, tetapi juga bagi para penghobi yang ingin sekadar berkumpul, bertukar pengalaman, memperluas pergaulan, dan membangun keakraban.
“Gantangan NSP Pasia dapat menjadi salah satu tempat berkumpulnya komunitas burung berkicau di Sumatera Barat, sehingga hubungan persaudaraan antarpenghobi semakin kuat,” begitu harapan Pak Ipung.
Ia juga menyampaikan harapan agar kegiatan ini dapat terus berkembang dan memperoleh dukungan dari berbagai pihak.
Suasana Kunjungan Gantangan NSP Pasia
Lebih kurang 100 orang peserta dan pengunjung memadati lokasi tersebut. Pesertanya tidak hanya berasal dari sekitar Bukittinggi dan Kabupaten Agam. Sejumlah penghobi juga datang dari Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Solok, Padang Panjang, hingga Pasaman.
Jarak antardaerah tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk datang. Ada kebanggaan tersendiri ketika bisa membawa burung andalan ke arena perlombaan, bertemu sesama penghobi, dan menyaksikan langsung kemampuan burung-burung yang memiliki karakter suara berbeda.
Di tengah keasyikan lomba mingguan ini, kami mengamati berbagai peserta dan pengunjung mulai memadati lokasi gantangan. Hujan sebentar tak mengapa, hal itu tidak menyurutkan antusiasme pengunjunga untuk mengikuti perlombaan atau hanya sekedar jadi penonton.
Antusiasme peserta terlihat dari berbagai kalangan. Salah satunya Aciak, pengunjung sekaligus peserta lomba mingguan yang tampak bersemangat ketika mendaftarkan burung kesayangannya untuk mengikuti perlombaan.

Foto : Aciak Peserta Lomba Kicau Mania Gantangan NSP Pasia
Bagi Aciak, datang ke Gantangan NSP Pasia bukan sekadar membawa burung untuk berkompetisi. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk melepaskan kepenatan setelah menjalani rutinitas sehari-hari.
“Senang saja bisa berkumpul dengan rekan-rekan sesama penghobi, menikmati suasana perlombaan, dan menyaksikan burung-burung andalan beradu kualitas suara,” senyum ceria Aciak ketika ditanya.
Menariknya, Aciak juga dikenal di lingkungan komunitas sebagai toke jangkrik. Sebutan tersebut melekat pada aktivitasnya sebagai salah satu pelaku usaha penyedia pakan burung yang turut menjadi bagian dari ekosistem dunia kicau mania.
Sementara dukungan terhadap kegiatan Gantangan NSP Pasia juga datang dari Aldi Hamsar, salah seorang pengunjung yang memiliki perhatian terhadap perkembangan komunitas pencinta burung berkicau.

Foto : Aldi Hamsar, Pengunjung Gantangan NSP Pasir, Bakal Calon Sponsor Lomba
Aldi menyampaikan bahwa dirinya bersama rekan-rekan sponsor dan para pendukung kegiatan siap memberikan dukungan, baik secara moril maupun materil, apabila Gantangan NSP Pasia kembali menggelar perlombaan.
“Kegiatan seperti ini patut mendapat perhatian dan dukungan bersama. Selain menjadi hiburan bagi para penghobi, perlombaan juga menghadirkan ruang positif untuk mempererat persaudaraan antarkomunitas,” begitu penjelasan Aldi.
Ia berharap, dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, agenda perlombaan yang diselenggarakan Gantangan NSP Pasia dapat terus berkembang, semakin ramai dikunjungi peserta dari berbagai daerah, dan mampu menghadirkan kegiatan berskala lebih besar.
Ada satu hal menarik yang terasa ketika menyaksikan suasana perlombaan di Cibuak Ameh. Para peserta datang dari latar belakang sosial dan ekonomi yang berbeda-beda.
Ada pengusaha, pedagang, pekerja, hingga masyarakat biasa yang memiliki kecintaan sama terhadap burung berkicau.
Namun, begitu memasuki arena perlombaan, perbedaan itu seolah tidak lagi menjadi persoalan.
Tidak ada ukuran siapa yang kaya atau miskin, siapa yang terpandang atau tidak terpandang. Semua hadir dengan kedudukan yang sama sebagai sahabat sesama pencinta burung.
Di arena gantangan, perhatian mereka tertuju pada burung yang sedang berlomba. Mereka saling menyapa, berbincang, memberikan apresiasi, dan sesekali bercanda ketika menyaksikan penampilan burung andalan masing-masing.
Suasana semacam ini menjadi nilai lebih dari kegiatan tersebut. Sebab, di tengah kehidupan sosial yang terkadang masih dibatasi oleh perbedaan status dan latar belakang, Gantangan NSP Pasia justru menghadirkan ruang perjumpaan yang lebih egaliter.
Kualitas kicauan menjadi perhatian, sedangkan persaudaraan menjadi sesuatu yang ingin terus dipertahankan.
Bidik Lomba Burung Kicau Mania Berskala Sumbar pada Desember 2026
Di balik kegiatan rutin setiap Jumat sore, Gantangan NSP Pasia juga menyimpan rencana untuk menyelenggarakan perlombaan burung berkicau dengan skala yang lebih besar pada Desember 2026.
“Agenda tersebut diharapkan dapat menjadi momentum berkumpulnya lebih banyak komunitas dan penghobi burung berkicau dari berbagai wilayah di Sumatera Barat,” begitu Pak Ipung menjelaskan ambisi komunitasnya.
Setelah menghirup kopi sejenak, Ipung menjelaskan penyelenggaraan lomba berskala lebih besar tentu membutuhkan persiapan dan dukungan pembiayaan yang memadai. Maka dukungan sponsor menjadi salah satu kebutuhan penting agar rencana tersebut dapat diwujudkan.
Dukungan dari pihak sponsor diharapkan dapat membantu penyediaan hadiah, fasilitas peserta, kebutuhan teknis perlombaan, serta berbagai keperluan penyelenggaraan lainnya.
“Agenda Desember mendatang bukan hanya menjadi perlombaan biasa, tetapi juga menjadi pertemuan besar para pencinta burung berkicau yang mengedepankan sportivitas dan silaturahmi,” Ipung berharap.
Dari Cibuak Ameh untuk Persaudaraan Kicau Mania
Pada akhirnya, ada sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar kemenangan dalam sebuah perlombaan.
Bagi sebagian peserta, membawa pulang gelar juara tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Namun, bagi sebagian lainnya, bisa hadir setiap Jumat sore, bertemu kawan lama, mengenal penghobi baru, dan menikmati suasana kebersamaan sudah menjadi kepuasan yang tidak kalah berarti.
Gantangan NSP Pasia memperlihatkan bahwa sebuah hobi dapat berkembang menjadi kekuatan sosial yang menyatukan masyarakat dari berbagai daerah di Sumatera Barat.
Dari Cibuak Ameh, sebuah pesan sederhana terus digaungkan mari merawat hobi, menjaga sportivitas, dan mempererat silaturahmi. diantara riuh suara burung yang saling bersahutan, ada persaudaraan yang tumbuh, keakraban yang terjalin, dan kebersamaan yang jauh lebih berharga daripada sekadar perebutan gelar juara.
Baca Juga :
- Pilkada Gaje dan Pemerintahan Daerah Koruptif, Ketika Demokrasi Kehilangan Arah dan Kekuasaan Menjauh dari Rakyat
- Diskursus Penegakan Hukum, Kompromi Antara Kualitas Pembatasan Rokok Dan Pajak Reklame
- Kewenangan Legislasi Tumpul, DPD RI Dalam Diskursus Konstitusi UUD Tahun 1945
- Sengkarut Fort De Kock dalam Diskusi Publik di Adagio, Uji 7 Rekomendasi Penyelesaian Sengketa
- Ekspedisi Kebudayaan Batuta Institute Tahun 2026, Nilai Keadaban Vihara Puri Tri Agung Bangka Belitung




Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.