ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM – Sore itu, di bulan April, udara Kota London terasa cukup dingin, dengan suhu sekitar 17 derajat Celsius. Bagi warga lokal dan para pengunjung yang terbiasa dengan udara dingin, suhu tersebut mungkin bukan sesuatu yang berarti. Mereka tampak nyaman berjalan-jalan tanpa mengenakan jaket. Namun, bagi saya, udara sore itu sudah cukup membuat tubuh menggigil.
Mengenakan jaket lama berwarna cokelat kopi susu, saya berdiri di depan Park Plaza London Westminster Bridge, hotel yang menjadi tempat kami menginap selama sepekan. Sesekali, senyum mengembang di wajah saya saat memperhatikan teman-teman dari berbagai negara yang sedang asyik berfoto.
Setelah sesi foto usai, ketua asosiasi yang berasal dari Inggris mulai berbicara. Ia memberi instruksi agar kami bersiap berjalan dan mengikutinya. Kurang lebih, begini yang disampaikannya, “Kita akan makan malam di sebuah restoran di Leake Street Arches. Tempatnya tidak jauh dari hotel ini. Kita akan berjalan kaki ke sana. Ikuti saya!”
Saya pun melangkah santai mengikuti rombongan. Sesekali, saya mengabadikan suasana jalanan Kota London dengan kamera ponsel. Foto-foto itu kelak akan menjadi kenang-kenangan bahwa saya pernah menelusuri jalanan kota yang terkenal dengan ikon Big Ben dan Sungai Thames ini bersama teman-teman dari Asosiasi AMFPA.
AMFPA merupakan sebuah asosiasi yang mewadahi para pelukis yang berkarya dengan menggunakan mulut dan kaki. Berada di tengah teman-teman dengan semangat dan kemampuan berkarya yang luar biasa ini tentu menjadi pengalaman tersendiri bagi saya.

Leake Street Arches: Lorong Grafiti Penuh Warna di Jantung London
Terletak di pusat kota London, tak jauh dari London Eye, Leake Street Arches menjadi ruang pertemuan bagi para seniman, masyarakat lokal, dan wisatawan. Lorong ini dikenal sebagai ruang ekspresi seni grafiti yang legal. Para seniman bebas menuangkan ide dan kreativitas mereka melalui lukisan di dinding-dinding terowongan tanpa perlu khawatir diusir petugas.
Di sini, pengunjung tidak hanya bisa menikmati karya seni, tetapi juga berinteraksi langsung dengan para seniman, bahkan ikut ambil bagian dalam melukis. Menariknya, wajah terowongan ini selalu berubah. Lukisan yang hari ini menghiasi dinding bisa saja berganti menjadi karya baru keesokan harinya. Sebuah tulisan grafiti yang tampak sederhana, misalnya, dapat berubah menjadi karya penuh warna dengan teknik freehand.
Menjelajahi lorong grafiti ini serasa memasuki dunia yang berbeda, dunia yang dipenuhi warna dan ekspresi tanpa batas. Hampir tak ada bagian dinding yang luput dari sapuan cat. Beragam lukisan menghiasi permukaan terowongan, menciptakan pemandangan yang begitu semarak. Sorot lampu yang jatuh pada sejumlah karya membuat warna dan detail setiap goresan terlihat semakin jelas, sementara bagian lorong lainnya tampak temaram. Perpaduan terang dan redup itu menghadirkan suasana yang unik sekaligus dramatis. Sebuah pemandangan yang sungguh memikat.

Leake Street Arches: Ketika Grafiti Menghidupkan Sebuah Kawasan
Terletak di bawah jalur kereta api Stasiun Waterloo, Leake Street dulunya merupakan pangkalan taksi yang melayani penumpang Eurotunnel. Namun, setelah layanan kereta Eurostar dipindahkan ke Stasiun St Pancras pada 2007, pangkalan taksi ini tidak lagi digunakan. Terowongan Leake Street pun perlahan terbengkalai.
Perubahan mulai terjadi pada 2008. Dengan izin dari Network Rail, seniman jalanan Banksy menyelenggarakan festival seni grafiti bertajuk The Cans Festival. Banksy mengundang para seniman grafiti dari berbagai negara untuk menuangkan kreativitas mereka di sepanjang terowongan. Selama tiga hari penyelenggaraan, festival ini berhasil menarik perhatian lebih dari 30.000 pengunjung. Terowongan yang sebelumnya terbengkalai pun menjelma menjadi ruang seni jalanan yang menarik perhatian publik.
Festival tersebut menjadi titik balik bagi Leake Street. Kehadiran seni grafiti secara bertahap mengubah wajah kawasan ini. Lingkungan menjadi lebih hidup, aktivitas sosial meningkat, dan ruang yang sebelumnya kurang terawat mulai memiliki fungsi baru. Transformasi ini juga turut mendorong terciptanya lingkungan yang lebih positif dan mengurangi berbagai persoalan sosial, termasuk kejahatan dan perilaku antisosial.
Seiring perkembangannya, kawasan Leake Street semakin ramai dengan kehadiran restoran dan kafe yang menarik. Pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati karya seni, tetapi juga bisa bersantai sambil menyantap aneka makanan dan minuman, ditemani alunan musik yang menambah semarak suasana.
Menjelajahi Leake Street bukan sekadar menikmati karya seni di dinding-dinding terowongan. Lebih dari itu, tempat ini mengajarkan bagaimana kebersamaan dan kolaborasi dapat menjadi kekuatan untuk menciptakan perubahan. Keterlibatan seniman, penduduk lokal, fotografer, pengunjung, hingga pengelola kawasan menjadikan Leake Street sebagai ruang publik yang dinamis dan terus berkembang.
Gagasan ini sebenarnya bisa kita terapkan di berbagai kota di Indonesia. Pemerintah dan masyarakat dapat menyediakan ruang terbuka yang legal dan terkelola dengan baik bagi para seniman grafiti untuk menuangkan ide dan imajinasinya. Selama ini, kita mungkin kerap menyaksikan seniman grafiti dikejar petugas ketika sedang melukis di dinding kosong, jembatan, atau sudut-sudut kota lainnya.
Padahal, ketika tersedia ruang yang tepat untuk berekspresi, kreativitas mereka dapat disalurkan secara lebih positif. Grafiti tidak harus selalu dipandang sebagai vandalisme. Dengan pengelolaan yang baik, seni jalanan justru bisa menjadi daya tarik baru, menghidupkan kawasan yang sebelumnya terbengkalai, mengundang lebih banyak pengunjung, sekaligus membuka ruang interaksi antarmasyarakat.
Leake Street membuktikan bahwa sebuah lorong yang terlupakan pun bisa memiliki kehidupan baru. Terkadang, yang dibutuhkan bukanlah menghapus kreativitas dari ruang publik, melainkan menyediakan ruang agar kreativitas itu tumbuh dan memberi manfaat bagi banyak orang. (SRD-Madiun)


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.