JATIMSATUNEWS.COM, PENDOPO IMAN — Di tengah kehidupan yang semakin riuh, anak muda tidak hanya membutuhkan motivasi untuk meraih kesuksesan. Mereka juga membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak, bertanya tentang tujuan hidup, serta menemukan kembali arah perjalanan dirinya.Pertanyaan sederhana seperti “Untuk apa saya hidup?” justru menjadi salah satu pertanyaan paling mendasar yang perlu dijawab manusia.
Hal tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam kajian bertajuk “Sepenting Apa Sih BERTUHAN Buat Anak Muda ?” yang digelar di Pendopo Iman pada Ahad, 16 Agustus 2026. Kajian yang berlangsung pada sore hingga malam hari tersebut diikuti antusias oleh generasi muda. Dalam kajian tersebut, Ustadz Nur Fajri Romadhon, B.Sh., M.A., mengajak anak muda melihat kembali makna bertuhan bukan sekadar sebagai identitas maupun kewajiban ritual, tetapi sebagai fondasi dalam memahami kehidupan.
Ketika Anak Muda Mulai Bertanya tentang Makna HidupMasa muda merupakan fase ketika seseorang mulai menentukan banyak hal dalam hidupnya. Memilih pendidikan, pekerjaan, lingkungan pergaulan, pasangan, hingga menentukan seperti apa dirinya di masa depan.
Namun di balik berbagai pilihan tersebut, ada pertanyaan yang lebih fundamental: dari mana manusia berasal, untuk apa hidup di dunia, dan ke mana setelah meninggal?Menurut Ustadz Nur Fajri, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat dilepaskan dari pembahasan mengenai Tuhan.
Ketika manusia memahami bahwa dirinya memiliki Pencipta dan kehidupan memiliki tujuan, maka berbagai pengalaman yang terjadi dalam hidup tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang berjalan tanpa makna.Ada alasan untuk bersyukur ketika mendapatkan kesenangan.
Ada alasan untuk bertahan ketika menghadapi kesulitan. Dan ada alasan untuk terus memperbaiki diri ketika menyadari masih banyak kekurangan. Bertuhan Memberikan Kompas dalam Menjalani KehidupanDi tengah perubahan zaman yang begitu cepat, anak muda dapat dengan mudah kehilangan arah.
Standar keberhasilan terus berubah. Apa yang dianggap sukses hari ini bisa berbeda beberapa tahun kemudian.Karena itu, seseorang membutuhkan sesuatu yang lebih mendasar daripada sekadar pencapaian.Ia membutuhkan kompas. Kesadaran bertuhan dapat menjadi salah satu fondasi yang membantu seseorang menentukan ke mana kehidupannya diarahkan.
Dengan memahami tujuan hidup, seseorang tidak hanya bertanya tentang apa yang ingin dicapai, tetapi juga mengapa sesuatu itu ingin dicapai dan untuk apa pencapaian tersebut digunakan. Inilah yang membuat pembahasan tentang bertuhan menjadi relevan bagi generasi muda.Bertuhan bukan berarti berhenti bermimpi.Bertuhan bukan berarti menjauh dari dunia.
Sebaliknya, seseorang tetap dapat memiliki cita-cita besar, bekerja keras, membangun karier, berkarya, dan memberikan manfaat kepada banyak orang.Yang berubah adalah cara memandang semua pencapaian tersebut.
Musibah Tidak Harus Membuat Seseorang Kehilangan HarapanSalah satu manfaat penting dari kesadaran bertuhan adalah perubahan cara seseorang menghadapi berbagai keadaan dalam hidup.Tidak semua perjalanan berjalan sesuai rencana.Ada kegagalan, kehilangan, penolakan, kekecewaan, dan berbagai persoalan yang terkadang membuat seseorang mempertanyakan kehidupannya sendiri.
Dalam perspektif keimanan, musibah tidak harus dipandang sebagai akhir dari segalanya.Sebaliknya, musibah dapat menjadi momen untuk membangkitkan kesadaran, memperkuat diri, dan kembali mendekat kepada Tuhan. Begitu pula ketika mendapatkan kesenangan. Keberhasilan, kesehatan, kelapangan rezeki, dan berbagai kenikmatan hidup tidak seharusnya membuat manusia lupa diri.
Kesenangan justru dapat menjadi pengingat untuk bersyukur dan tidak terjebak dalam kesombongan. Dengan demikian, iman memberikan cara pandang yang lebih utuh terhadap kehidupan: ketika mendapatkan sesuatu, manusia belajar bersyukur; ketika kehilangan sesuatu, manusia belajar bersabar dan mengambil pelajaran.
Bertuhan Bukan Sekadar Kewajiban, tetapi KebutuhanPesan penting dari kajian tersebut adalah bahwa bertuhan tidak cukup dipahami sebatas menjalankan kewajiban agama.Lebih dari itu, bertuhan menjadi kebutuhan dasar manusia untuk memiliki pandangan hidup yang kokoh.Ketika seseorang memiliki fondasi tersebut, ia memiliki pijakan untuk terus memperbaiki dirinya.
Ia belajar bahwa kehidupan bukan hanya tentang mendapatkan sebanyak mungkin, tetapi juga tentang menjadi manusia yang lebih baik.Bukan hanya tentang seberapa tinggi pencapaian seseorang, tetapi juga tentang bagaimana pencapaian tersebut memberikan manfaat.
Dan bukan hanya tentang bagaimana manusia menjalani hari ini, tetapi juga bagaimana ia mempersiapkan kehidupan setelah dunia. Bertumbuh Tidak Harus Selalu dengan Langkah BesarPesan tersebut menjadi semakin relevan karena proses memperbaiki diri tidak selalu harus dimulai dengan perubahan besar.
Terkadang, pertumbuhan dimulai dari hal sederhana, mau kembali belajar, mau mendengarkan nasihat, mau mengakui kesalahan, mau memperbaiki ibadah, mau meluangkan waktu untuk merenungkan kehidupan. Dan yang terpenting, mau terus berjalan meskipun perlahan. Karena menjadi lebih baik bukan perlombaan siapa yang paling cepat. Yang lebih penting adalah memastikan seseorang tetap berada di jalan yang benar dan terus bergerak menuju kebaikan.
Pendopo Iman sebagai Ruang Bertumbuh dan Merawat KeimananSemangat menghadirkan ruang untuk belajar dan bertumbuh tersebut menjadi bagian dari aktivitas Pendopo Iman, yang membawa semangat untuk mendekat kepada ilmu sekaligus mendekap keimanan. Pendopo Iman menjadi salah satu ruang yang mempertemukan masyarakat, khususnya generasi muda, dengan kajian dan pembelajaran keislaman dalam suasana yang lebih dekat dan terbuka.
Di balik pembinaan Pendopo Iman terdapat sosok Ustadz Umaier Khaz, dai yang aktif dalam pengembangan ruang dakwah dan pembelajaran. Kehadiran ruang seperti Pendopo Iman menjadi bagian dari upaya menghadirkan dakwah yang dapat menjadi tempat anak muda untuk belajar, berdiskusi, dan perlahan memperkuat keimanannya.
Semangat tersebut juga berjalan bersama gagasan Pusat Dakwah Jalan Pelan sebuah pendekatan yang mengajak manusia untuk tidak berhenti bergerak menuju kebaikan, meskipun dilakukan secara bertahap.
Bagi masyarakat yang ingin mengetahui kajian dan kegiatan terbaru, informasi agenda Pendopo Iman dapat diikuti melalui akun Instagram @pendopoiman, sementara informasi dari Ustadz Umaier Khaz dapat diikuti melalui @umaierkhaz.Sebab perjalanan menemukan makna hidup tidak selalu membutuhkan jawaban yang rumit.
Kadang seseorang hanya perlu berhenti sejenak dan kembali mengajukan tiga pertanyaan:Dari mana saya berasal?Untuk apa saya hidup?Ke mana saya akan kembali?Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana itulah seseorang dapat mulai menemukan kembali arah hidupnya.
Dan mungkin, bertumbuh bukan tentang menjadi manusia yang sempurna dalam waktu singkat, melainkan tentang terus berjalan, terus belajar, dan semakin dekat kepada Tuhan di setiap langkahnya.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.