Langsung ke konten
Kamis, 13 Agustus 2026
Headline Ketua Perbasi Sekaligus Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Muhammad Zaini Persiapkan Atlet Hadapi Popda 2026, Target Juara
Artikel

Bukan Penganggur Terdidik, Melainkan Ekonomi yang Belum Terdidik

Prof Triyo Supriyatno, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: Angka pengangguran lulusan perguruan tinggi terus naik, begitu data Badan Pusat Statistik. Tapi benarkah masalahnya ada pada terlalu banyak orang berpendidikan? Atau justru pada terlalu sedikitnya pekerjaan berkualitas yang bisa menyerap mereka?

Pertanyaan ini penting diajukan. Jangan sampai publik terjebak pada kesimpulan bahwa pendidikan tinggi adalah bagian dari masalah. Jangan pula meningkatnya jumlah sarjana ditafsirkan seolah Indonesia “kelebihan orang pintar”. Yang terjadi mungkin justru sebaliknya: Indonesia belum cukup mampu membangun ekosistem ekonomi yang bisa memanfaatkan kepintaran itu.

Kenaikan angka pengangguran lulusan perguruan tinggi versi BPS memang tidak boleh diabaikan. Tapi statistik itu perlu dibaca lebih hati-hati. Pengangguran terdidik bukan sekadar soal pendidikan yang tidak nyambung dengan pasar kerja. Ia cermin dari struktur ekonomi, kualitas pertumbuhan, transformasi industri, kebijakan ketenagakerjaan, sampai kemampuan negara menciptakan pekerjaan produktif.

Jangan buru-buru menyalahkan sarjana karena tidak mendapat pekerjaan. Yang lebih pantas dipertanyakan: mengapa pertumbuhan ekonomi belum cukup menghasilkan pekerjaan yang sepadan dengan kualitas sumber daya manusia yang terus meningkat?

Perdebatan publik selama ini cenderung memandang pendidikan lewat kacamata supply and demand semata. Perguruan tinggi mencetak lulusan, pasar kerja yang menentukan siapa yang terserap. Begitu lulusan tidak terserap, universitas dituding mencetak terlalu banyak sarjana atau tidak sesuai kebutuhan industri. Cara pandang seperti ini terlalu sederhana.

Pendidikan bukan sekadar “pabrik tenaga kerja” yang harus tunduk pada permintaan pasar. Universitas mengemban mandat yang jauh lebih besar: membangun pengetahuan, memperkuat daya pikir kritis, membentuk karakter, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan menciptakan inovasi. Kalau pasar kerja butuh keterampilan tertentu hari ini, memang perguruan tinggi harus adaptif. Tapi universitas tidak boleh sepenuhnya tunduk pada kebutuhan pasar jangka pendek. Pekerjaan yang tersedia hari ini belum tentu masih ada sepuluh tahun mendatang. Pendidikan tinggi justru harus menyiapkan manusia yang mampu menciptakan pekerjaan baru saat pekerjaan lama menghilang.

Karena itu, keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup diukur dari berapa banyak lulusannya yang menjadi pekerja. Perlu juga ditanyakan: berapa banyak yang menjadi wirausahawan, berapa yang menciptakan lapangan kerja, berapa yang menjadi inovator, peneliti, profesional independen, pekerja kreatif, penggerak komunitas, atau pembangun usaha sosial. Persoalannya bukan “terlalu banyak sarjana”. Persoalannya, terlalu sedikit ekosistem yang memungkinkan sarjana mengubah pengetahuan menjadi nilai ekonomi dan sosial.

Pertumbuhan ekonomi kerap diperlakukan sebagai obat mujarab bagi pengangguran. Logikanya sederhana: ekonomi tumbuh, investasi naik, perusahaan berkembang, lapangan kerja pun bertambah. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Pertumbuhan ekonomi bisa saja berjalan tanpa disertai penciptaan pekerjaan berkualitas dalam jumlah memadai. Teknologi, otomatisasi, efisiensi produksi, dan perubahan struktur industri bisa membuat perusahaan menghasilkan lebih banyak dengan tenaga kerja yang justru lebih sedikit.