NGAWI | JATIMSATUNEWS.COM: Suasana penuh kehangatan dan nuansa pedesaan menyelimuti pengajian Muslimat NU Widodaren Ngawi pada Kamis (5/11) di Dusun Bulak Pepe, Desa Banyubiru, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi.
Pengajian “Jumat Pahing” ini juga menghadirkan Grup Hadrah Al-Mu’min Lansia Ceria.
Ribuan jemaah pun tumpah ruah menghadiri acara pengajian akbar yang digelar oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Widodaren di kawasan yang akrab disebut Kampung Kerbau.
Baca juga: Pengajian Rutin PAC Fatayat NU Widodaren Ngawi, Ning Ulum Ajak Mbak Yu Fatayat Ngaji Majemuk
Sorotan
Pengajian Muslimat NU Widodaren Ngawi
Doorprize Caping Anyam Bambu

Acara yang sarat akan nilai keislaman dan kearifan lokal ini makin meriah dengan dibagikannya doorprize unik bagi para pengembala kerbau setempat.
Para pengembala yang hadir mendapatkan hadiah berupa caping atau topi anyam bambu, sebuah simbol kedekatan tradisi agraris dan masyarakat desa.
Pengajian akbar ini menghadirkan penceramah kondang asal Grobogan, Jawa Tengah, KH. Fakih Mabekrur atau yang akrab disapa Kyai Alap-alap.
Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya menumbuhkan dan menyuburkan rasa syukur dalam setiap lini kehidupan.
“Semua yang terjadi di muka bumi ini adalah fadhol atau keutamaan, rahmat atau kasih sayang, serta wujud welas asih dari Gusti Allah SWT yang patut kita syukuri setiap saat,” pesan KH. Fakih di hadapan para jemaah yang khidmat mendengarkan.

Kehadiran Muslimat NU di tengah masyarakat pedesaan ini turut mendapat apresiasi tinggi dari Kepala Desa Banyubiru, Hj. Kundari, M.Ag.
Ia menyambut baik kegiatan keagamaan yang tidak hanya memperkuat tali silaturahmi, tetapi juga mengangkat potensi serta kebersamaan warga di Kampung Kerbau.
Sementara itu, Ketua PAC Muslimat NU Widodaren, Dina Anwary, dalam sambutannya memaparkan secara mendalam mengenai pokok utama peran dan eksistensi perempuan Muslimat di era modern.
Menurutnya, perempuan Muslimat memiliki tanggung jawab besar dalam mencetak generasi masa depan yang berkualitas, yang dimulai dari dapur dan ruang tamu rumah.
“Perempuan Muslimat harus hadir sebagai penjaga tradisi dan akidah Ahlussunnah wal Jamaah, menjadi penggerak sosial dan ekonomi di tengah masyarakat, serta senantiasa menjadi teladan yang bijak dalam bermedia sosial,” tegas Dina Anwary.

Baca juga: Masa Depan Masih Suci, KH Tugiono Bashori Sambut HSN 2026 di Pengajian Muslimat NU Widodaren Ngawi
Keteladanan dan Semangat Kemandirian Ranting Bulakpepe

Satu momen yang paling menyita perhatian dalam kegiatan ini adalah kisah inspiratif dari Ketua Ranting Muslimat Bulakpepe, Bu Surati.
Di usianya yang menginjak 66 tahun, ia tetap menunjukkan semangat luar biasa dan dedikasi tinggi dalam berkhidmah di jalan NU.
Dedikasi kepengurusan ini juga dibuktikan jauh hari sebelum acara puncak. Pada malam tirakatan malam Rabu (4/11/2026), jajaran pengurus terpantau siaga hingga larut malam. Dina Anwary bahkan turun langsung pada pukul 12 malam untuk memastikan kelancaran persiapan acara.
Hebatnya lagi, kemandirian menjadi napas utama kegiatan ini. Seluruh kebutuhan konsumsi, termasuk pembuatan 2.000 bungkus langsangan (nasi bungkus tradisional), dikelola secara mandiri oleh warga Ranting Bulakpepe di rumah Bu Surati.
Biaya pengajian rutin Jumat Pahing di Kampung Kerbau ini murni bersumber dari swadaya ibu-ibu Muslimat dan warga setempat melalui iuran wajib ringan sebesar Rp2.000 setiap bulannya.
Kemeriahan dan kekhidmatan acara ini turut didukung penuh oleh kehadiran seluruh Badan Otonom (Banom) dan lembaga NU di Kecamatan Widodaren.
Kepolisian dan Barisan Serbaguna (Banser) juga tampak sigap mengamankan jalannya acara hingga selesai, memastikan seluruh rangkaian kegiatan di Kampung Kerbau ini berjalan aman, tertib, dan membawa berkah bagi sesama.***
Jurnalis: Qony


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.