OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: Menantang Tatapan Kosong: Menakar Dampak Screen Time terhadap Daya Fokus di Kelas oleh Siti Nurzaenab, M.Pd (GURU PAI SMPN 25 Kota Malang)
Setiap guru yang mengajar di era digital mungkin pernah menjumpai pemandangan ini: tubuh siswa berada di kelas, tetapi perhatiannya seolah melayang entah ke mana.
Ketika diajak berdiskusi, sebagian siswa lambat merespons. Saat membaca teks yang agak panjang, mereka lekas kehilangan minat.
Pemandangan ini mengundang pertanyaan mendasar: apakah anak-anak kita masih mampu memberi perhatian secara utuh di tengah dunia yang terus berebut perhatian mereka?
Baca juga: Terjebak Skripsi dan TikTok: Ketika Mahasiswa Mulai Cemas Menatap Masa Depan
Sorotan
Tantangan Guru Masa Kini
Screen Time dan Fokus Belajar Siswa di Kelas
Sebagai Guru Pendidikan Agama Islam (PAI), saya melihat persoalan penurunan fokus siswa di kelas ini bukan sekadar tantangan akademis, melainkan juga tantangan dalam menumbuhkan tafakkur. Sebuah kemampuan berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran dari kehidupan.
Sebab, pendidikan agama tidak cukup berhenti pada kemampuan menghafal ayat, memahami materi, atau menjawab soal.
Lebih dari itu, pendidikan harus menuntun siswa untuk menghayati nilai, membangun kesadaran, dan menjadikan ilmu sebagai pedoman hidup.
Di sinilah pentingnya menakar dampak screen time atau durasi penggunaan layar terhadap daya fokus siswa di kelas.
Persoalannya bukan semata-mata berapa lama (screen time) anak menatap gawai, melainkan bagaimana kebiasaan tersebut berkaitan dengan kemampuan menyimak, membaca, berpikir mendalam, dan bertahan dalam proses belajar.
Baca juga: Generasi Z dan Jebakan Social Comparison: Ketika Hidup Menjadi Ajang Perbandingan
Teknologi bukan Musuh Pendidikan
Teknologi bukan musuh pendidikan. Namun, penggunaannya perlu diarahkan agar kemudahan mengakses informasi tidak mengurangi kesanggupan anak untuk memahami makna.
Kehidupan digital menawarkan video singkat, permainan, dan konten yang terus berganti. Anak dapat berpindah dari satu rangsangan ke rangsangan lain hanya dengan satu sentuhan.
Sementara itu, proses belajar membutuhkan kesabaran. Memahami makna ayat Al-Qur’an, membaca dengan tartil, mendalami persoalan akhlak, atau merenungkan kebesaran Allah tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa.
Semua itu membutuhkan perhatian, ketekunan, dan kesediaan untuk berhenti sejenak agar pikiran memperoleh ruang untuk memahami. Di sinilah screen time perlu dikelola dengan baik.
Dampak Screen Time Berlebihan
Penggunaan layar (screen time) yang berlebihan, terutama ketika mengganggu tidur dan aktivitas belajar, patut menjadi perhatian bersama.
Di kelas, tantangannya dapat terlihat ketika siswa mudah teralihkan, kurang bertahan membaca teks panjang, atau kesulitan mengikuti pembahasan yang membutuhkan pemikiran bertahap.
Namun, kita perlu bersikap bijak: konsentrasi siswa juga dipengaruhi kondisi emosional, lingkungan keluarga, kualitas tidur, dan metode pembelajaran.
Karena itu, tugas guru bukan sekadar menyalahkan gawai karena screen time siswa melebihi batas wajar, melainkan memahami persoalan secara menyeluruh dan mencari jalan keluar yang mendidik.
Baca juga: Ketika Istri Menjadi Pencari Nafkah: Bagaimana Membagi Beban Rumah Tangga secara Adil?
Perspektif Islam
Dalam perspektif Islam, perhatian dan kesungguhan memiliki makna penting. Konsep tafakkur mengajak manusia menggunakan akal untuk merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah, sedangkan khusyuk mengajarkan kesungguhan dan kehadiran hati dalam ibadah.
Keduanya memiliki konteks yang berbeda, tetapi mengingatkan kita bahwa manusia tidak seharusnya menjalani kehidupan secara dangkal dan tergesa-gesa.
Ilmu perlu dipahami, direnungkan, dan diamalkan. Inilah salah satu tugas penting guru PAI: membantu siswa bergerak dari sekadar mengetahui menuju kesadaran dan penghayatan.
Tindakan Guru
Lantas, apa yang dapat dilakukan guru? Pertama, membangun pembelajaran yang menghidupkan perhatian.
Guru PAI dapat mengajak siswa mendiskusikan persoalan akhlak yang dekat dengan kehidupan mereka, menghubungkan kandungan ayat dengan pengalaman sehari-hari, atau memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan menyampaikan pendapat.
Kedua, melatih ketekunan secara bertahap melalui kegiatan membaca, menulis refleksi, berdialog, dan menyelesaikan tugas tanpa terus-menerus berpindah perhatian.
Ketiga, memberikan teladan dalam menggunakan teknologi secara bijak. Kita tidak cukup meminta siswa meletakkan gawai jika kita sendiri belum menunjukkan pentingnya hadir sepenuhnya dalam interaksi.
Baca juga: Fatima al-Fihriya dan Konferensi Perempuan Dunia: Merayakan Sejarah atau Membuka Pintu Peradaban?
Ikhtiar Guru dan Peran Penting Orang Tua
Namun, ikhtiar guru tidak akan optimal tanpa dukungan keluarga. Dalam pendidikan Islam, keluarga dikenal sebagai madrasatul ula, tempat pendidikan pertama dan utama bagi anak.
Orang tua memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan penggunaan gawai yang sehat, menjaga waktu istirahat, dan menyediakan ruang interaksi tanpa gangguan layar.
Kesepakatan antara sekolah dan keluarga perlu dibangun melalui komunikasi yang terbuka, bukan saling menyalahkan.
Tujuannya bukan menjauhkan anak dari teknologi, melainkan membantu mereka mengembangkan kendali diri dan tanggung jawab.
Kita juga perlu mengingat bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan larangan.
Anak perlu diajak memahami mengapa perhatian harus dijaga, mengapa tidur cukup itu penting, dan mengapa membaca atau berdialog membutuhkan kesabaran.
Ketika siswa memahami alasan di balik suatu aturan, mereka memiliki kesempatan untuk membangun kesadaran dari dalam dirinya.
Pendidikan yang berhasil bukan hanya membuat anak patuh ketika diawasi, tetapi menumbuhkan kemampuan memilih yang baik ketika tidak ada orang yang mengawasi.
Baca juga: Bukan Sekadar Reuni: Saatnya Alumni Bergerak dan Berkontribusi
Tantangan era Digital
Bagi guru PAI, tantangan era digital sejatinya juga merupakan panggilan untuk memperbarui cara mendidik tanpa kehilangan arah dan nilai.
Kita tidak harus mengalahkan teknologi dengan membuat pelajaran selalu ramai atau serba instan. Kita justru perlu menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna, menumbuhkan rasa ingin tahu, menguatkan akhlak, dan memberi ruang bagi siswa untuk berpikir.
Sebab, keberhasilan pendidikan agama tidak hanya terlihat dari jawaban yang benar di atas kertas, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran, kebijaksanaan, dan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari.
Menyelamatkan daya fokus generasi ini adalah jihad pendidikan yang nyata hari ini. Ini bukan perjuangan seorang guru sendirian, melainkan ikhtiar bersama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Mari mematikan layar sejenak, bukan untuk memusuhi teknologi, melainkan untuk menghidupkan kembali pikiran, menghadirkan hati, dan menumbuhkan kesungguhan dalam belajar.
Sebab, anak-anak kita tidak hanya membutuhkan akses terhadap informasi, tetapi juga pendampingan agar mampu memahami dan mengamalkannya.
Di tengah dunia yang berlomba merebut perhatian mereka, marilah kita menjadi guru yang membantu mereka menemukan kembali makna perhatian, kedalaman ilmu, dan kemuliaan akhlak.
Dari ruang kelas yang sederhana, semoga tumbuh generasi yang bukan hanya cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga bijak mengarungi kehidupan.***
Editor: YAN


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.