OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: Generasi Z dan Jebakan Social Comparison: Ketika Hidup Menjadi Ajang Perbandingan oleh Dr. H. Miftahul Huda, S.H.I., M.H., Dosen Fakultas Syariah UIN Malang
Di tengah derasnya arus pencapaian orang lain di media sosial, generasi muda perlu belajar menghargai proses, mengelola waktu, dan berjuang membangun masa depan sendiri.
Generasi Z tumbuh di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan media sosial. Setiap hari, kita disuguhi potongan kehidupan orang lain melalui Instagram, maupun TikTok.
Mulai dari keberhasilan meraih beasiswa, pencapaian akademik, karier yang menjanjikan, hingga gaya hidup yang tampak sempurna. Tanpa disadari, kehidupan orang lain begitu mudah menyita perhatian, sementara kita kerap lupa mengembangkan diri sendiri.
Baca juga: Urip Mung Sawang-sinawang: Menemukan Kedamaian dalam Rasa Syukur
Table of Contents
Gen Z dan Social Comparison
Kebiasaan membuka ponsel sesaat setelah bangun tidur hingga menjelang tidur kembali telah menjadi bagian dari keseharian. Niatnya sekadar melihat notifikasi, tetapi tanpa terasa waktu berlalu berjam-jam.
Persoalannya bukan hanya berapa lama kita menatap layar, melainkan bagaimana paparan kehidupan orang lain memengaruhi cara kita memandang diri sendiri.
Ketika teman berhasil meraih beasiswa, kita merasa tertinggal. Saat seseorang seusia kita memperoleh pekerjaan bergaji tinggi, kita mulai meragukan kemampuan diri.
Inilah fenomena social comparison, yakni kecenderungan membandingkan keadaan, kemampuan, atau pencapaian diri dengan orang lain.
Ada satu hal yang terus mengusik pikiran saya setelah menyimak ceramah Lora Muhammad Ismael Amin Al-Kholili, pengasuh Pondok Pesantren Al Muhajirun As-Salafi Alkholili, Bangkalan, dalam kegiatan UIN Maliki Bersholawat pada 22 Oktober 2026.
Bertempat di Sport Center kampus 1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, kegiatan tersebut dihadiri ribuan mahasantri yang larut dalam suasana selawat dan nasihat keagamaan.
Di antara pesan yang disampaikan, beliau mengangkat persoalan social comparison, yakni kecenderungan seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain.
Bagi saya, tema social comparison ini bukan sekadar persoalan psikologis yang dekat dengan kehidupan anak muda, melainkan juga refleksi penting tentang bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri di tengah dunia yang semakin kompetitif.
Terlebih di era media sosial, ketika keberhasilan, pencapaian, dan kebahagiaan orang lain begitu mudah terlihat, kita sering kali tanpa sadar menjadikan kehidupan orang lain sebagai tolok ukur untuk menilai keberhasilan diri sendiri.
Pesan tersebut mengajak kita merenungkan satu pertanyaan penting: sudah seberapa banyak waktu kita gunakan untuk memperbaiki diri, dan seberapa banyak justru habis untuk mengamati kehidupan orang lain?
Baca juga: Naik Kelas Menjadi Syakur, Jangan Berhenti pada Alhamdulillah
Terjebak dalam Perbandingan Sosial
Pada dasarnya, membandingkan diri tidak selalu buruk. Kita dapat belajar dari keberhasilan orang lain, mengevaluasi kekurangan, dan menemukan motivasi untuk berkembang.
Namun, perbandingan menjadi masalah ketika pencapaian orang lain dijadikan ukuran mutlak untuk menilai keberhasilan diri sendiri.
Media sosial memperbesar risiko tersebut karena apa yang ditampilkan sering kali hanya sisi terbaik kehidupan seseorang.
Kita melihat keberhasilan, kebahagiaan, dan pencapaian, tetapi tidak selalu mengetahui kegagalan, tekanan, serta pengorbanan di baliknya.
Akibatnya, kita membandingkan kehidupan kita yang penuh persoalan dengan potongan kehidupan orang lain yang tampak sempurna.
Padahal, setiap orang memiliki latar belakang, kesempatan, dan perjalanan hidup yang berbeda.
Ada yang lebih dahulu menyelesaikan pendidikan, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Ada yang segera memperoleh pekerjaan, sementara yang lain harus menghadapi berbagai penolakan sebelum menemukan kesempatan.
Dari sinilah keberadaan social comparison dapat menimbulkan dampak psikologis negatif dan perlu mendapat perhatian serta diantisipasi.
Baca juga: Terjebak Skripsi dan TikTok: Ketika Mahasiswa Mulai Cemas Menatap Masa Depan
Waktu untuk Bertumbuh, Bukan Sekadar Menonton
Waktu merupakan sumber daya yang tidak dapat diputar kembali. Karena itu, energi yang kita habiskan untuk merasa tertinggal sebaiknya dialihkan menjadi langkah nyata untuk berkembang.
Membaca buku, memperdalam ilmu, mempelajari keterampilan baru, membangun relasi yang sehat, dan menyelesaikan tanggung jawab merupakan investasi bagi masa depan.
Kita tidak harus langsung mencapai keberhasilan besar. Kemajuan sering kali berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Mulailah dengan membatasi penggunaan media sosial, menyusun prioritas harian, dan menetapkan target yang realistis. Gunakan teknologi untuk belajar dan mencari inspirasi, bukan untuk terus-menerus mengukur harga diri.
Dalam perspektif Islam, kita juga diingatkan melalui firman Allah Swt. dalam Surah An-Nisa ayat 32. “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa [4] petikan ayat)
Ayat ini relevan dengan pembahasan social comparison karena mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam iri hati terhadap pencapaian dan karunia orang lain.
Sebaliknya, kita diajak untuk mensyukuri apa yang dimiliki, terus berusaha, dan memohon karunia Allah Swt.
Dalam konteks Generasi Z, keberhasilan teman atau orang lain di media sosial seharusnya menjadi inspirasi untuk berkembang, bukan alasan untuk merendahkan diri sendiri. Dengan demikian, pencapaian orang lain menjadi sumber pembelajaran, bukan alasan untuk merendahkan diri.
Baca juga: Menikah Bukan Sekadar Kapan, tetapi Sudah Siap?
Membangun Masa Depan dengan Kesungguhan
Generasi Z memiliki peluang besar di tengah kemajuan teknologi. Akses terhadap ilmu pengetahuan, pelatihan, jaringan profesional, dan kesempatan berkarya semakin terbuka.
Namun, peluang tersebut hanya bermakna jika diiringi kesadaran, kedisiplinan, dan kesungguhan dalam memanfaatkannya.
Semangat ini sejalan dengan pesan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., yang dalam sambutannya pada UIN Maliki Bersholawat memotivasi mahasantri agar bersungguh-sungguh dalam belajar dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
Belajar bukan sekadar memperoleh nilai akademik atau menyelesaikan pendidikan. Lebih dari itu, belajar merupakan proses membangun kompetensi, membentuk karakter, dan mempersiapkan diri agar mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kesuksesan pun tidak semata-mata diukur dari kekayaan, jabatan, popularitas, atau pencapaian yang dipamerkan di media sosial.
Ilmu yang bermanfaat, tanggung jawab, kemandirian, akhlak yang baik, dan kontribusi kepada masyarakat juga merupakan bagian penting dari keberhasilan hidup.
Dengan demikian, kita tidak dapat mengendalikan seberapa cepat orang lain mencapai impiannya.
Namun, kita dapat menentukan bagaimana menggunakan waktu, memperbaiki kebiasaan, meningkatkan kemampuan, dan mempersiapkan masa depan sendiri.
Jangan sampai kita terlalu sibuk menyaksikan orang lain meraih impiannya, sementara impian kita sendiri tidak pernah sungguh-sungguh diperjuangkan.
Berhentilah menjadikan pencapaian orang lain sebagai alasan untuk meragukan diri sendiri. Jadikan itu inspirasi untuk melangkah, lalu fokuslah membangun masa depan melalui usaha nyata.
Sebab, waktu terbaik untuk memperbaiki diri bukanlah ketika kita berhasil melampaui orang lain, melainkan ketika kita menyadari bahwa masa depan kita terlalu berharga untuk dihabiskan hanya dengan membandingkan.***
Editor: YAN


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.