Langsung ke konten
Sabtu, 31 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Kolom

DARI KENANGAN MENJADI TAWA

(Pemateri dapat mengajak peserta tertawa dan mengangkat tangan.) Ternyata pesantren bukan hanya tempat belajar membaca Al-Qur’an, mengaji kitab kuning

Humor ngaji kaum santri

Humor ngaji kaum santri

ARTIKEL |JATIMSATUNEWS.COM: WORKSHOP & LOMBA MENULIS “KISAH HUMOR SANTRI”
Dalam Rangka Menyambut Hari Santri Nasional 2026
Pemateri: Anis Hidayatie
Sabtu, 31 Oktober 2026
Laboratorium Sains MAN 2 Kota Malang
 
Pengantar Menulis Humor SANTRI DAN DUNIA HUMOR

Siapa di sini yang pernah mengalami kejadian lucu selama mondok?
Pernah salah membaca kitab? Pernah ketiduran ketika mengaji? Pernah kehilangan sandal, tetapi justru menemukan sandal yang lebih bagus? Atau pernah antre mandi begitu lama sampai lupa sebenarnya mau mandi atau mau ikut lomba kesabaran?
(Pemateri dapat mengajak peserta tertawa dan mengangkat tangan.)

Ternyata pesantren bukan hanya tempat belajar membaca Al-Qur’an, mengaji kitab kuning, menghafal hadis, dan memperdalam ilmu agama. Pesantren juga merupakan tempat lahirnya banyak cerita.

Baca juga: Wartawan Jatimsatunews Dinyatakan Kompeten di UKW Jenjang Muda 2026

Baca juga: Rektor UIBU Tutup UKW-59, Wartawan JatimSatuNews Kompeten Terbaik

Ada cerita perjuangan, persahabatan, kedisiplinan, kesederhanaan, bahkan kejadian-kejadian lucu yang kalau diingat sekarang bisa membuat kita tertawa sendiri.

Pertanyaannya: Mengapa cerita lucu itu hanya disimpan dalam ingatan, kalau sebenarnya bisa diubah menjadi tulisan yang menghibur banyak orang?
Hari ini kita akan belajar mengubah pengalaman menjadi cerita humor.

1. Pesan Utama Workshop

● Santri boleh serius belajar, tetapi bukan berarti tidak boleh tertawa.

● Humor bukan berarti mengejek orang lain.

● Humor adalah kecerdasan melihat sisi unik kehidupan.

● Pengalaman sederhana bisa menjadi cerita yang luar biasa.

● Menulis humor tidak harus menjadi pelawak. Cukup menjadi orang yang peka terhadap kejadian sehari-hari.

Kalimat kunci: “Santri yang hebat bukan hanya mampu memahami kitab, tetapi juga mampu menceritakan kehidupan dengan indah, cerdas, dan menghibur.”

2. Apa Itu Humor?

Humor adalah kemampuan menangkap sesuatu yang unik, lucu, tidak biasa, atau mengejutkan dalam kehidupan, kemudian menyampaikannya dengan cara yang membuat orang tersenyum atau tertawa.

Humor tidak selalu harus membuat orang tertawa terbahak-bahak. Kadang-kadang humor cukup membuat pembaca tersenyum, mengangguk, lalu berkata: “Wah, ini persis seperti kejadian di pondok saya!”

Ada tiga unsur penting dalam humor:

● Kejadian yang tidak biasa. Misalnya, seorang santri yang sangat rajin bangun pagi, tetapi ternyata rajin mematikan alarm dan melanjutkan tidur.

Iklan

● Kejutan. Pembaca mengira ceritanya akan berakhir biasa saja, ternyata ada kejadian yang tidak terduga.

● Kedekatan dengan kehidupan pembaca. Cerita tentang sandal tertukar, antre kamar mandi, makanan kiriman orang tua, atau teman sekamar biasanya mudah dipahami sesama santri.

3. Humor Bukan Menghina

Ada perbedaan antara humor yang sehat dan humor yang menyakiti.

Contoh yang perlu dihindari: “Temanku memang bodoh, membaca kitab saja tidak bisa.”

Contoh yang lebih santun: “Temanku begitu semangat membaca kitab. Sayangnya, semangatnya berlari lebih cepat daripada kemampuan mengenali huruf Arab Pegon.”

Prinsipnya: Kita boleh menertawakan kejadian, tetapi jangan menjadikan orang lain sebagai korban tertawaan.

4. Mengapa Kehidupan Santri Kaya Humor?

● Drama bangun tidur dan berebut kamar mandi.

● Sandal tertukar setelah salat berjamaah.

● Salah membaca atau salah memahami pelajaran.

● Teman sekamar yang punya kebiasaan unik.

● Antrean makan dan menu sederhana.

● Pengalaman pertama kali mondok.

● Ketika menerima kiriman makanan dari rumah.

● Pengalaman bersama ustaz, ustazah, atau pengasuh.

● Ketika mendapat tugas piket.

● Ketika berusaha menyembunyikan rasa kantuk saat mengaji.

Kejadian sederhana justru sering menjadi bahan humor paling menarik.

“Humor adalah kecerdasan menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan. Menulis humor adalah cara santri mengabadikan kenangan, merawat persahabatan, dan menyebarkan kebaikan melalui tawa.”

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.