Langsung ke konten
Jumat, 4 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Artikel

Mata Kuliah Kebrawijayaan dan Upaya Menjaga Sejarah Kerajaan Singhasari di Kalangan Mahasiswa FIA UB

 

Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2026

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM :

Sejarah
Singhasari dan Tantangan Generasi Muda

Kerajaan
Singhasari merupakan salah satu bagian penting dalam sejarah Malang yang
menyimpan banyak nilai budaya dan historis. Tokoh-tokoh seperti Ken Arok dan
Ken Dedes bukan hanya dikenal sebagai bagian dari cerita kerajaan, tetapi juga
menjadi simbol perjalanan sejarah dan identitas budaya masyarakat Jawa Timur,
khususnya Malang. Namun, di tengah perkembangan era digital yang semakin cepat,
sejarah lokal perlahan mulai kehilangan perhatian dari generasi muda.

Mahasiswa
saat ini lebih akrab dengan budaya populer yang tersebar melalui media sosial
dibandingkan sejarah daerahnya sendiri. Padahal, sejarah lokal memiliki peran
penting dalam membentuk identitas budaya dan rasa memiliki terhadap daerah
asal. Menurut Koentjaraningrat (2009), kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa,
dan karsa manusia yang diwariskan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu,
pemahaman terhadap sejarah lokal menjadi bagian penting dalam menjaga
keberlanjutan budaya suatu daerah.

Sebagai
bentuk pengenalan budaya lokal kepada mahasiswa, Program Studi Administrasi
Publik Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya menghadirkan mata
kuliah Kebrawijayaan. Mata kuliah ini tidak hanya membahas sejarah Kota Malang
dan Kerajaan Singhasari, tetapi juga mengkaji hubungan sejarah antara
Singhasari dan Majapahit, mengenal sosok Bhre Wijaya sebagai pendiri Kerajaan
Majapahit, memahami berdirinya hingga masa kejayaan Majapahit, serta
mempelajari nilai-nilai yang terkandung dalam Sumpah Palapa Gajah Mada.

Selain
itu, mahasiswa juga diajak memahami sistem tata negara dan administrasi
pemerintahan Majapahit, proses suksesi kepemimpinan, transformasi Majapahit,
hingga bagaimana Universitas Brawijaya mengambil semangat Bhre Wijaya dan
Majapahit sebagai bagian dari identitas universitas. Dengan demikian, mata
kuliah Kebrawijayaan tidak hanya berfokus pada sejarah masa lalu, tetapi juga
menghubungkannya dengan kontribusi Universitas Brawijaya bagi bangsa dan negara
di masa depan.

Iklan

Mata
kuliah ini pada dasarnya bertujuan menanamkan semangat ke-Brawijaya-an kepada
mahasiswa melalui pendekatan sejarah, dokumen, artefak, dan berbagai sumber
kebudayaan yang berkaitan dengan Singhasari dan Majapahit. Menurut Poesponegoro
dan Notosusanto (2019), Kerajaan Singhasari dan Majapahit memiliki peran
penting dalam perkembangan politik, budaya, dan administrasi pemerintahan di
Nusantara. Oleh karena itu, pemahaman terhadap sejarah kedua kerajaan tersebut
menjadi salah satu cara untuk memperkuat identitas dan wawasan kebangsaan
mahasiswa.

Mata
Kuliah Kebrawijayaan sebagai Sarana Pengenalan Sejarah

Berdasarkan
hasil wawancara yang dilakukan kepada mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi,
mata kuliah Kebrawijayaan dinilai cukup membantu mahasiswa dalam memahami
sejarah Kerajaan Singhasari. Narasumber 1 menyampaikan bahwa mata kuliah
tersebut membahas sejarah Singhasari secara cukup detail, mulai dari
perkembangan kerajaan hingga hal-hal unik yang membuat sejarah tersebut menarik
untuk dipelajari.

Menurut
Narasumber 1, pembelajaran dalam mata kuliah Kebrawijayaan membantu mahasiswa
memahami sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia, khususnya Kerajaan Singhasari
yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Malang. Hal ini menunjukkan bahwa
pendidikan di perguruan tinggi dapat menjadi media efektif untuk memperkenalkan
sejarah lokal kepada generasi muda.

Tidak
hanya meningkatkan pemahaman, mata kuliah Kebrawijayaan juga mampu menumbuhkan
ketertarikan mahasiswa terhadap budaya lokal. Narasumber 1 mengungkapkan bahwa
setelah mengikuti pembelajaran, ia menjadi lebih tertarik mempelajari sejarah
dan budaya Malang karena menemukan banyak fakta baru yang sebelumnya tidak
diketahui. Hal tersebut membuktikan bahwa sejarah lokal sebenarnya memiliki
potensi untuk menarik perhatian mahasiswa apabila dikemas melalui pembelajaran
yang tepat.

Pelestarian
Sejarah Kerajaan Lokal melalui Pendidikan

Melihat
kondisi tersebut, mata kuliah Kebrawijayaan sebenarnya memiliki potensi besar
sebagai sarana pelestarian sejarah lokal di lingkungan perguruan tinggi. Namun,
efektivitasnya perlu terus ditingkatkan melalui inovasi pembelajaran yang lebih
interaktif dan dekat dengan kehidupan mahasiswa.

Mata
kuliah Kebrawijayaan memiliki peran penting dalam meningkatkan pemahaman
mahasiswa terhadap sejarah Kerajaan Singhasari, Majapahit, serta budaya lokal
Malang. Berdasarkan hasil wawancara, pembelajaran dalam mata kuliah ini mampu
menambah pengetahuan sekaligus menumbuhkan ketertarikan mahasiswa terhadap
sejarah lokal.

Iklan

Namun,
masih terdapat beberapa hal yang perlu ditingkatkan, terutama dalam metode
penyampaian pembelajaran agar lebih interaktif, relevan, dan dekat dengan
kehidupan mahasiswa masa kini. Dengan pengembangan metode pembelajaran yang
lebih menarik, mata kuliah Kebrawijayaan dapat menjadi sarana yang lebih
efektif dalam menjaga dan melestarikan sejarah lokal sekaligus menanamkan
semangat Ke-Brawijaya-an kepada generasi muda.
 

Daftar
Pustaka

Koentjaraningrat. (2009).
Pengantar Ilmu Antropologi.
Jakarta: Rineka Cipta.

Poesponegoro, M. D., &
Notosusanto, N. (2019). Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno.
Jakarta: Balai Pustaka.

Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Narasumber 1. (2026). Wawancara
langsung. Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya. Wawancara
dilakukan oleh penulis.

Narasumber 2. (2026). Wawancara
langsung. Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya. Wawancara
dilakukan oleh penulis.

Penulis : Alvinda
Keysha Putritama

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.