PROBOLINGGO | JATIMSATUNEWS.COM: Pendidikan agama yang kuat belum tentu tercermin dalam perilaku sehari-hari peserta didik. Anak yang rajin beribadah dan belajar mengaji, misalnya, masih bisa mengejek teman yang belum lancar membaca Al-Qur’an, enggan membantu sesama, hingga melakukan tindakan tidak terpuji. Fenomena inilah yang menjadi perhatian Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melalui penguatan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di Kabupaten Probolinggo.
Gagasan tersebut mengemuka dalam program Ngobrol Pendidikan Islam (Ngopi), Program Peningkatan Mutu Pendidikan Islam, yang digelar Jumat (30/10/2026) di Dusun Talang, Desa Bayeman, Kecamatan Tongas, Probolinggo. Mengusung tema “Sosialisasi Implementasi Kurikulum Cinta dalam Mewujudkan Madrasah Bermutu”, kegiatan ini diikuti sekitar 250 peserta dari unsur masyarakat umum.
Hadir sebagai pemateri, Dr. H. Ridwan, S.Ag., M.Pd.I., bersama H. Syaiful Nuri, Anggota DPR RI Komisi VIII.
Dalam pemaparannya, Ridwan memperkenalkan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai pendekatan pendidikan yang menempatkan pembentukan akhlak, kepedulian, dan penghargaan terhadap sesama sebagai bagian penting dari proses pembelajaran. Menurutnya, pendidikan tidak semestinya hanya berorientasi pada capaian akademik dan pengetahuan keagamaan, tetapi juga harus memastikan nilai-nilai tersebut terwujud dalam perilaku peserta didik.
Persoalan tersebut terlihat dari sejumlah perilaku anak di lingkungan masyarakat. Ada peserta didik yang mengejek teman karena belum lancar membaca Al-Qur’an, menunjukkan kepatuhan hanya ketika diawasi, hingga berbohong, menjahili teman, dan mengambil barang milik orang lain tanpa izin.
Tantangan lain muncul dalam hubungan antarpeserta didik. Anak yang memiliki prestasi akademik terkadang enggan membantu teman yang mengalami kesulitan belajar karena khawatir kehilangan waktu atau terganggu pencapaian nilainya.
Jika dibiarkan, pola perilaku tersebut berpotensi berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih serius, seperti perundungan (bullying), intoleransi, dan melemahnya solidaritas. Karena itu, Kurikulum Berbasis Cinta mendorong madrasah untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan manusia.
Dalam perspektif ini, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari kemampuan membaca, berhitung, atau tingginya nilai akademik. Peserta didik juga perlu dibentuk agar mampu menghargai perbedaan, membantu sesama, menunjukkan empati, dan menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman perilaku.
Sementara itu, H. Syaiful Nuri menyoroti pentingnya dukungan kebijakan dalam memperkuat mutu pendidikan Islam. Melalui fungsi pengawasan dan penganggaran, Komisi VIII DPR RI memiliki peran dalam mendorong pengembangan pendidikan madrasah yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pembentukan karakter peserta didik.
Ia juga menyoroti fenomena defisit cinta, yakni kondisi ketika pengetahuan dan praktik keagamaan belum sepenuhnya tercermin dalam perilaku sosial. Karena itu, lingkungan pendidikan perlu dibangun menjadi ruang yang aman, inklusif, dan bebas dari perundungan maupun intoleransi.
Selain penguatan karakter, pemerataan akses pendidikan turut menjadi perhatian. Syaiful Nuri menyampaikan pentingnya pengawalan program bantuan pendidikan pemerintah, termasuk Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB), agar tepat sasaran dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Melalui kegiatan Ngopi di Probolinggo, FTIK UIN Malang memperluas kolaborasi dengan masyarakat, praktisi pendidikan, dan pemangku kebijakan untuk mendorong peningkatan mutu pendidikan Islam. Penguatan inovasi pembelajaran dan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta menjadi bagian dari upaya membangun madrasah yang tidak hanya menghasilkan peserta didik berpengetahuan, tetapi juga berakhlak dan memiliki kepedulian sosial.
Pendidikan bermutu, pada akhirnya, bukan sekadar tentang seberapa banyak ilmu yang dikuasai anak, melainkan juga bagaimana ilmu tersebut membentuk perilaku dan menghadirkan kebaikan bagi sesama.
Sumber: ftik.uin-malang.ac.id



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.