Langsung ke konten
Jumat, 9 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

FTIK UIN Malang Angkat Kurikulum Berbasis Cinta, Perluas Pendidikan Karakter hingga Kepedulian Lingkungan

Seminar Nasional “Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi sebagai Fondasi Pendidikan Karakter” yang digelar Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pemaparan materi oleh narasumber

Pemaparan materi oleh narasumber (Foto: Humas FTIK UIN Malang)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan peserta didik yang unggul secara akademik. Pembentukan karakter, kepedulian terhadap sesama, dan tanggung jawab menjaga lingkungan juga perlu menjadi bagian dari proses pembelajaran. Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional “Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi sebagai Fondasi Pendidikan Karakter” yang digelar Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Selasa (6/10/2026).

Seminar yang berlangsung di Aula Gedung Microteaching itu menghadirkan Dr. H. Mastuki, M.Ag., sebagai narasumber. Kegiatan diikuti dosen PPPK FTIK dan mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI).

Dalam paparannya, Mastuki menekankan pentingnya menempatkan nilai cinta sebagai bagian mendasar dalam pendidikan. Cinta tidak hanya diarahkan kepada Allah Swt. dan sesama manusia, tetapi juga kepada ilmu pengetahuan serta alam dan lingkungan.

Baca juga: FTIK UIN Malang Soroti Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi untuk Pendidikan Karakter

Baca juga: PW LPBH NU Jatim Dorong Pembentukan Satgas PPKS di Lembaga Pendidikan NU

“Kurikulum berbasis cinta menempatkan pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia. Peserta didik tidak hanya diarahkan untuk menjadi cerdas, tetapi juga memiliki kepedulian, empati, tanggung jawab, dan karakter yang kuat,” jelasnya.

Gagasan tersebut menempatkan keberhasilan pendidikan lebih luas daripada capaian nilai akademik. Proses pembelajaran juga perlu membantu peserta didik mengembangkan kepekaan sosial, menghargai perbedaan, dan menggunakan pengetahuan untuk memberikan manfaat bagi kehidupan.

Dalam penerapannya, kurikulum berbasis cinta bukan sekadar penambahan materi pembelajaran. Pendekatan ini menuntut pendidik dan lembaga pendidikan membangun lingkungan belajar yang menghargai potensi, kebutuhan, dan karakter peserta didik.

Ekoteologi Hubungkan Pendidikan Karakter dan Tanggung Jawab Lingkungan

Selain nilai cinta, seminar mengangkat ekoteologi sebagai pendekatan untuk menumbuhkan kesadaran ekologis melalui perspektif keagamaan. Konsep ini menempatkan hubungan Tuhan, manusia, dan alam sebagai dimensi yang saling berkaitan dalam membangun tanggung jawab terhadap kehidupan.

Dalam konteks pendidikan, kesadaran menjaga lingkungan tidak cukup diajarkan sebagai pengetahuan teoritis. Peserta didik juga perlu memahami bahwa merawat alam merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.

Perspektif tersebut memperluas cakupan pendidikan karakter. Jika pembentukan karakter selama ini kerap dikaitkan dengan hubungan antarmanusia, ekoteologi mengajak pendidikan turut memperhatikan cara manusia memperlakukan lingkungan.

Iklan

Dengan demikian, kepedulian ekologis dapat menjadi bagian dari kebiasaan dan perilaku peserta didik, bukan sekadar pengetahuan yang dipelajari di kelas.

Pendidikan Adaptif tanpa Kehilangan Arah Nilai

Seminar tersebut juga menyoroti tantangan pendidikan di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan persoalan lingkungan. Kurikulum dituntut mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, tetapi tetap memiliki pijakan nilai yang kuat.

Nilai keislaman dan kemanusiaan menjadi landasan agar penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi berjalan seiring dengan pembentukan karakter. Melalui pendekatan kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi, pendidikan diarahkan untuk membangun keseimbangan antara kecakapan intelektual, empati, tanggung jawab sosial, dan kesadaran lingkungan.

Seluruh audien seminar
Seluruh audien seminar

Bagi FTIK UIN Malang, gagasan tersebut juga berkaitan dengan praktik pendidikan sehari-hari. Pendidikan karakter tidak hanya dibentuk melalui materi perkuliahan, tetapi juga melalui keteladanan dosen, interaksi antarmahasiswa, serta kebiasaan menjaga lingkungan kampus.

Tantangannya adalah menerjemahkan nilai-nilai tersebut menjadi praktik pembelajaran dan budaya akademik yang konsisten. Dengan begitu, pendidikan tidak berhenti pada upaya meningkatkan kemampuan intelektual, tetapi turut membentuk manusia yang memahami tanggung jawab atas ilmu dan tindakannya.

Melalui seminar nasional ini, FTIK UIN Malang membuka ruang refleksi mengenai pentingnya pendidikan yang mengintegrasikan ilmu, nilai kemanusiaan, dan kepedulian ekologis. Kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi menjadi perspektif untuk memperkuat pendidikan karakter agar relevan dengan tantangan zaman tanpa kehilangan landasan keislaman.

Sumber: ftik.uin-malang.ac.id

Foto profil M. Kholilur Rohman
M. Kholilur Rohman

Pegiat literasi yang berasal dari Kota Sumenep dan Founder Komunitas Maliki Book Party

Lihat semua artikel oleh M. Kholilur Rohman

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.