FTIK UIN Malang Soroti Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi sebagai Fondasi Pendidikan Karakter
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Pendidikan karakter perlu dibangun melalui relasi yang manusiawi antara pendidik dan peserta didik, sekaligus menanamkan tanggung jawab terhadap lingkungan. Perspektif tersebut menjadi sorotan Seminar Nasional “Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi sebagai Fondasi Pendidikan Karakter” yang digelar Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 6 Oktober 2026.
Seminar yang berlangsung di Aula Gedung Microteaching itu menghadirkan Dr. H. Mastuki, M.Ag., dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta. Kegiatan diikuti dosen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) FTIK dan mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI).
Baca juga: Dekan FTIK UIN Malang: ICIED 2026 Dorong Pendidikan Inklusif, Berkelanjutan, dan Terhubung
Baca juga: Prof. Abdul Hamid Buka ICIED 2026, Dorong Pendidikan Bangun Ekosistem Inklusif dan Berkelanjutan
Dekan FTIK UIN Malang, Prof. Dr. H. Muhammad Walid, M.A., dalam sambutannya menekankan bahwa pendidikan tidak cukup berorientasi pada capaian akademik. Sekolah dan perguruan tinggi juga perlu membentuk peserta didik yang memiliki karakter, kepedulian sosial, serta kesadaran menjaga kelestarian lingkungan.
Menurut Walid, kurikulum berbasis cinta perlu diwujudkan dalam hubungan nyata antara pendidik dan peserta didik. Cinta dalam konteks pendidikan bukan sekadar gagasan normatif, melainkan landasan untuk memahami kebutuhan, karakter, perasaan, dan perkembangan peserta didik.
Pendekatan tersebut menuntut pendidik untuk tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, pemberian tugas, dan evaluasi. Guru juga perlu mempertimbangkan kondisi peserta didik ketika menentukan metode pembelajaran agar proses pendidikan berlangsung lebih manusiawi.
Dengan demikian, pendidikan karakter tidak cukup disampaikan melalui teori. Nilai-nilai seperti empati, penghargaan, kepedulian, dan tanggung jawab perlu tumbuh melalui keteladanan serta pengalaman belajar sehari-hari.
Ekoteologi Perluas Makna Pendidikan Karakter
Selain kurikulum berbasis cinta, seminar mengangkat ekoteologi sebagai perspektif untuk membangun kesadaran ekologis melalui nilai-nilai keagamaan dan spiritualitas.
Dalam perspektif ini, hubungan manusia dengan alam menjadi bagian dari tanggung jawab moral yang perlu ditanamkan melalui pendidikan. Lingkungan tidak semata-mata dipandang sebagai sumber daya untuk dimanfaatkan, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga.
Pendekatan tersebut memperluas cakupan pendidikan karakter. Pembentukan karakter tidak hanya menyangkut hubungan antarmanusia, tetapi juga bagaimana seseorang memperlakukan alam dan bertanggung jawab atas keberlanjutan lingkungan.
Bagi calon pendidik, perspektif ini menjadi bekal untuk mengembangkan pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan, nilai keagamaan, perilaku sosial, dan kepedulian ekologis. Sementara bagi dosen, tema tersebut membuka ruang refleksi terhadap praktik pendidikan dan relevansinya dengan persoalan masyarakat.
Gagasan ini juga beririsan dengan integrasi Ulul Albab yang menjadi bagian dari visi pendidikan UIN Malang, yakni pengembangan kecerdasan intelektual yang berjalan bersama dimensi spiritual dan moral.
Dekan FTIK Harapkan Kurikulum Lebih Berkelanjutan
Dalam sambutannya, Muhammad Walid turut menyoroti dinamika perubahan kurikulum dalam sistem pendidikan Indonesia. Ia berharap kurikulum berbasis cinta tidak hanya menjadi istilah baru yang kemudian berganti mengikuti perubahan kebijakan, tetapi mampu memberikan arah yang lebih berkelanjutan bagi praktik pendidikan.

Harapan tersebut menempatkan implementasi sebagai persoalan penting dalam pengembangan kurikulum. Perubahan tidak cukup diwujudkan melalui dokumen, istilah, atau perangkat pembelajaran, tetapi perlu terlihat dalam cara pendidik membangun relasi dengan peserta didik dan menanamkan nilai-nilai karakter.
Keterlibatan dosen PPPK FTIK dan mahasiswa PAI dalam seminar juga mempertemukan perspektif pendidik dengan calon guru. Forum tersebut menjadi ruang untuk mendiskusikan bagaimana cinta, empati, tanggung jawab, dan kesadaran ekologis dapat diterapkan dalam proses pembelajaran.
Melalui seminar ini, FTIK UIN Malang mengangkat kembali pentingnya pendidikan yang tidak memisahkan kecerdasan akademik dari pembentukan karakter. Tantangannya adalah memastikan nilai-nilai kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi benar-benar hadir dalam praktik pendidikan, baik di ruang kelas maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Sumber: ftik.uin-malang.ac.id



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.