MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Pendidikan masa depan tidak cukup hanya berorientasi pada kelulusan dan pencapaian akademik. Sistem pendidikan juga dituntut mampu membentuk manusia yang adaptif, terus belajar, peduli terhadap lingkungan, serta memiliki kesempatan berkembang sesuai potensi masing-masing.
Gagasan tersebut mengemuka dalam International Conference on Islamic Education (ICIED) 2026 yang digelar Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Rabu (9/9/2026). Mengusung tema “Building an Inclusive and Sustainable Educational Ecosystem”, konferensi internasional tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi pendidikan, mahasiswa, dan pemangku kebijakan untuk membahas arah pendidikan di tengah perubahan global.
Dekan FTIK UIN Malang, Prof. Dr. H. Muhammad Walid, MA., menegaskan bahwa pendidikan berkelanjutan harus memiliki kemampuan untuk terus bertumbuh, beradaptasi, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.
Menurutnya, keberlanjutan pendidikan tidak cukup hanya ditopang kualitas pendidik. Diperlukan ekosistem yang memungkinkan berbagai unsur pendidikan untuk terus belajar, berkembang, dan saling terhubung, mulai dari sekolah, pesantren, perguruan tinggi, dunia industri, hingga masyarakat.
Dalam kerangka ICIED 2026, Prof. Muhammad Walid menempatkan inklusivitas, keberlanjutan, dan ekosistem pendidikan sebagai tiga gagasan penting yang perlu diperhatikan dalam membangun pendidikan masa depan.
Pertama, inklusivitas. Pendidikan harus menjadi hak semua orang dengan memberikan kesempatan dan pelayanan yang setara tanpa membatasi peserta didik berdasarkan latar belakang tertentu.
Namun, pendidikan inklusif tidak berhenti pada persoalan akses. Setiap peserta didik juga perlu mendapatkan ruang untuk berkembang sesuai karakteristik, kebutuhan, kemampuan, dan potensinya. Dengan demikian, peserta didik tidak semata-mata ditempatkan sebagai objek pembelajaran, tetapi sebagai individu yang memiliki keunikan dan kapasitas untuk terus berkembang.
Kedua, keberlanjutan. Menurut Prof. Muhammad Walid, keberhasilan pendidikan tidak hanya dapat diukur dari kelulusan, pencapaian akademik, atau kemampuan menyelesaikan studi tepat waktu. Pendidikan juga harus membentuk manusia yang mampu terus belajar, beradaptasi, dan memberikan kontribusi di tengah perubahan masyarakat.
Karena itu, proses pendidikan perlu memperhatikan perkembangan teknologi, kebutuhan masa depan, kelestarian lingkungan, sekaligus kesejahteraan mental peserta didik dan pendidik. Lingkungan pendidikan idealnya tidak hanya produktif, tetapi juga sehat, aman, dan manusiawi.
Ketiga, ekosistem pendidikan. Pendidikan tidak dapat dibangun oleh guru atau lembaga pendidikan secara sendiri-sendiri. Di dalamnya terdapat peserta didik, pendidik, orang tua, teknologi, infrastruktur, lembaga pendidikan, masyarakat, dunia industri, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Seluruh unsur tersebut perlu bergerak dalam arah yang saling mendukung. Ketika hubungan antarelemen berjalan dengan baik, pendidikan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk merespons perubahan sekaligus menjaga keberlanjutannya.
Dalam konteks tersebut, ICIED 2026 juga memiliki arti strategis sebagai ruang untuk memperluas jejaring dan kolaborasi internasional. Pertemuan akademisi dan praktisi dari berbagai latar belakang membuka peluang pengembangan kerja sama di bidang penelitian, publikasi ilmiah, program pendidikan, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Prof. Muhammad Walid menilai forum akademik seperti ICIED tidak semestinya berhenti pada presentasi teori dan hasil penelitian. Konferensi perlu menjadi ruang bagi peserta untuk bertukar pengalaman, menemukan perspektif baru, dan membangun kolaborasi yang dapat diterjemahkan menjadi program maupun solusi bagi persoalan pendidikan.
Dengan demikian, ICIED 2026 tidak hanya mempertemukan gagasan akademik, tetapi juga memperkuat pandangan bahwa masa depan pendidikan membutuhkan keterhubungan antarlembaga dan antarpemangku kepentingan.
Pendidikan yang inklusif memastikan setiap individu memperoleh ruang untuk berkembang. Keberlanjutan menjaga agar pendidikan mampu terus beradaptasi, sementara ekosistem memastikan seluruh unsur bergerak bersama menghadapi perubahan.



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.