Langsung ke konten
Rabu, 21 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

MTs Almaarif 01 Singosari Kembangkan Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi dalam Pembelajaran PAI dan Bahasa Arab

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: MTs Almaarif 01 Singosari terus meningkatkan kualitasnya dalam menghadirkan pendidikan Islam yang tidak hanya berorientasi pada

Suasana jalannya Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi di MTs Almaarif 01 Singosari.

Suasana jalannya Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi di MTs Almaarif 01 Singosari. (Foto: Humas MTs Almaarif 01 Singosari)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: MTs Almaarif 01 Singosari terus meningkatkan kualitasnya dalam menghadirkan pendidikan Islam yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, penguatan nilai-nilai kemanusiaan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Ekoteologi dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab yang diselenggarakan pada Sabtu, 17 Oktober 2026, di kantor MTs Almaarif 01 Singosari.

Kegiatan ini melibatkan jajaran pimpinan madrasah, guru rumpun PAI dan Bahasa Arab sebagai praktisi pendidikan, tim peneliti Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, serta para murid madrasah yang mengalami dan merasakan dampak proses pembelajaran.

Dalam forum tersebut, tim peneliti memaparkan hasil penelitian mengenai pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta dan ekoteologi dalam pembelajaran PAI dan Bahasa Arab di MTs Almaarif 01 Singosari.

Baca juga: Karya Kerenfest 2026 MTs Almaarif 01 Singosari, Hadirkan Pembelajaran Berbasis Pengalaman yang Kreatif dan Menyenangkan

Baca juga: Apresiasi Pelaksanaan OMI 2026, Kemenag Pantau Langsung di MTs Almaarif 01 Singosari

FGD ini menjadi ruang dialog antara akademisi dan praktisi pendidikan untuk menggali pemikiran, pengalaman, pandangan, serta masukan konstruktif guna menyempurnakan pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pendidikan Islam masa kini.

Para murid MTs Almaarif 01 Singosari mengikuti jalannya kegiatan FGD dengan penuh antusias.
Para murid MTs Almaarif 01 Singosari mengikuti jalannya kegiatan FGD dengan penuh antusias. (Foto: Humas MTs Almaarif 01 Singosari)

Menanamkan Nilai Kasih Sayang dan Kepedulian Ekologis

Pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta dan ekoteologi dilandasi pemahaman bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari penguasaan pengetahuan dan pencapaian akademik. Pendidikan juga harus mampu menumbuhkan sikap, karakter, tanggung jawab, dan kepedulian peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

Iklan

Kurikulum Berbasis Cinta menekankan penanaman nilai kasih sayang, kepedulian, penghormatan, dan kemanusiaan dalam proses pembelajaran. Sementara itu, ekoteologi menghubungkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dengan nilai-nilai keagamaan, sehingga menjaga alam menjadi bagian dari pengamalan ajaran Islam.

Kedua pendekatan tersebut memiliki relevansi kuat dengan karakter pendidikan di madrasah. Pembelajaran agama tidak hanya diarahkan agar peserta didik memahami materi secara konseptual, tetapi juga mampu menerjemahkan nilai-nilai keislaman menjadi perilaku nyata, baik dalam hubungan dengan Allah Swt., sesama manusia, maupun lingkungan.

Implementasi Nyata Melalui Budaya Madrasah dan Sinergi Bersama

MTs Almaarif 01 Singosari telah mengimplementasikan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta dan ekoteologi melalui integrasi dalam berbagai mata pelajaran yang meliputi Pendidikan Agama Islam (PAI) yaitu Akidah Akhlak, Al-Qur’an Hadis, Fikih, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), Bahasa Arab, dan mata pelajaran lainnya.

Integrasi tersebut diperkuat melalui budaya madrasah yang mendorong tumbuhnya kepedulian, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kebiasaan menjaga lingkungan. Dengan demikian, nilai-nilai yang dipelajari di ruang kelas diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi berkembang menjadi kebiasaan dan karakter peserta didik.

Lingkungan madrasah yang hijau dan mendukung turut menjadi modal penting dalam penguatan pendidikan ekoteologi. Budaya peduli lingkungan yang telah berjalan, program 5K/7K, serta gerakan Tansah Kelingan menjadi bagian dari ikhtiar madrasah dalam membangun lingkungan pendidikan yang berkarakter dan berkelanjutan.

Iklan

Penguatan implementasi juga didukung melalui pendampingan, FGD, dan lokakarya bagi guru, serta penggunaan model pembelajaran yang aktif dan variatif. Pendekatan tersebut memberikan ruang bagi peserta didik untuk terlibat langsung dalam proses belajar, mengembangkan pemikiran kritis, membangun kepedulian, dan membiasakan perilaku positif.

Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Cinta dan ekoteologi di MTs Almaarif 01 Singosari tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, terutama pimpinan madrasah, guru, dan orang tua wali murid. Sinergi tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun kesinambungan pendidikan antara pembelajaran di madrasah dan pembiasaan karakter di lingkungan keluarga.

Kepala Madrasah Dwi Retno Palupi M. Pd menyampaikan rasa syukurnya MTs Almaarif 01 Singosari bisa memberikan inspirasi untuk lingkungan sekitar madrasah.

Kurikulum KBC dan eko teologi telah dikembangkan dan dilaksanakan bersama di MTs Almaarif 01 Singosari dalam implementasinya pada proses pembelajaran dan budaya madrasah melalui program madrasah adiwiyata dan Ramah anak.

Melalui FGD ini, pengalaman implementasi di madrasah menjadi bahan refleksi bersama bagi peneliti dan praktisi pendidikan untuk mengidentifikasi praktik baik, tantangan, serta peluang pengembangan kurikulum yang lebih kontekstual dan berkelanjutan.

Pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta dan ekoteologi menjadi bagian dari ikhtiar MTs Almaarif 01 Singosari dalam membangun pendidikan Islam yang menyelaraskan kecerdasan intelektual, kematangan akhlak, nilai kemanusiaan, dan tanggung jawab ekologis.

Melalui integrasi nilai dalam pembelajaran dan budaya madrasah, MTs Almaarif 01 Singosari berupaya menumbuhkan generasi yang tidak hanya berilmu dan berakhlak mulia, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap sesama, menghargai perbedaan, serta bertanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.