MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Keprihatinan mendalam atas nasib bahasa dan aksara Jawa yang kian terpinggirkan di tanah kelahirannya sendiri mendorong Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, Dr. Dra. Sri Untari Bisowarno, M.AP., mengambil langkah sigap. Ia secara khusus mengundang perwakilan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa untuk membedah akar permasalahan sekaligus mencari solusi konkret atas tantangan dunia pendidikan di lapangan.

Jeritan Batin Generasi Modern dan Krisis Identitas
Menurut Sri Untari, langkah strategis ini berawal dari kegelisahan serta jeritan batin pribadinya melihat pergeseran pola komunikasi yang terjadi di tengah keluarga modern saat ini. Ia menilai bahwa peralihan bahasa pengantar di rumah dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia, bahkan pengenalan bahasa asing sejak bayi, telah membuat generasi Z dan Alpha kehilangan akar identitas budayanya.

”Batin saya menjerit, bahasa Jawa kok sudah jadi bahasa kesekian. Padahal kita ini orang Jawa, hidup di kultur Jawa. Saat ini di dalam rumah sudah beralih ke bahasa Indonesia, bahkan keluarga modern mengenalkan bahasa Inggris sejak bayi. Akhirnya anak-anak tidak mengenali siapa dirinya,” ungkap Sri Untari dengan nada prihatin.
Baca juga: Mahasiswa PBA UIN Malang Hadirkan Pembelajaran Bahasa Arab Kreatif di MTsN 2
Baca juga: Mahasiswa PBA UIN Malang Praktik Mengajar di MTsN 2, Terapkan Pembelajaran Bahasa Arab Humanistik
Politisi senior tersebut menambahkan, jati diri suatu bangsa sesungguhnya tercermin dari ras, bahasa, aksara, serta sistem nilai kebudayaannya. Ia menyoroti ragam tutur bahasa Jawa seperti krama dan krama inggil yang kini semakin langka dituturkan, serta aksara Jawa yang kian tersingkirkan oleh dominasi aksara Latin dan bahasa Inggris.
”Seolah-olah sekarang bahasa dan aksara Jawa itu seperti tamu, padahal dia pemilik rumah ini. Sementara itu, aksara Jawa hilang karena literasi yang digunakan mayoritas beraksara Latin dan bahasa Inggris,” tegasnya.
Tantangan Nyata di Sekolah dan Komitmen Solusi Konkret
Pertemuan bersama para pendidik bahasa Jawa angkatan kedua tersebut difokuskan untuk memetakan berbagai kendala teknis pembelajaran di sekolah. Berdasarkan masukan yang dihimpun, terungkap sejumlah persoalan krusial seperti minimnya tenaga pendidik berlatar belakang linier serta terbatasnya ketersediaan buku pedoman belajar yang aplikatif.
”Banyak ditemui di sekolah tidak ada guru khusus bahasa Jawa. Guru mata pelajaran lain terpaksa diminta mengajar bahasa Jawa. Selain itu, ketersediaan buku panduan yang konkret dan relevan masih sangat dibutuhkan oleh teman-teman guru,” paparnya.

Menanggapi berbagai persoalan tersebut, Untari mendorong optimalisasi peran forum MGMP Bahasa Jawa agar terus aktif menginventarisasi hambatan di lapangan sekaligus merumuskan penguatan kurikulum muatan lokal. Pihaknya di Komisi E DPRD Jatim bersama para pegiat budaya berkomitmen penuh untuk mengawal seluruh aspirasi ini ke ranah kebijakan pemerintah daerah demi menyelamatkan warisan leluhur.
”Sebagai wakil rakyat di DPRD Provinsi, wajib bagi saya mendengarkan keluhan ini. Seluruh aspirasi dan kesulitan para guru bahasa Jawa kami catat secara langsung agar dapat dicarikan solusi nyata demi menyelamatkan kebudayaan kita,” pungkasnya. (mut)


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.