Langsung ke konten
Minggu, 1 November 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

Bahasa dan Aksara Jawa Terancam Punah, Komisi E DPRD Jatim Ajak Guru Bergerak Selamatkan Budaya

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Keprihatinan mendalam atas nasib bahasa dan aksara Jawa yang kian terpinggirkan di tanah kelahirannya sendiri mendorong Ketua

Sesi foto bersama pimpinan dan narasumber dalam acara sosialisasi penguatan peran guru bahasa Jawa di Kabupaten Malang.

Sesi foto bersama pimpinan dan narasumber dalam acara sosialisasi penguatan peran guru bahasa Jawa di Kabupaten Malang. (Foto: Istimewa)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Keprihatinan mendalam atas nasib bahasa dan aksara Jawa yang kian terpinggirkan di tanah kelahirannya sendiri mendorong Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, Dr. Dra. Sri Untari Bisowarno, M.AP., mengambil langkah sigap. Ia secara khusus mengundang perwakilan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa untuk membedah akar permasalahan sekaligus mencari solusi konkret atas tantangan dunia pendidikan di lapangan.

Ketua Komisi E DPRD Jatim, Dr. Dra. Sri Untari Bisowarno, M.AP., saat menyampaikan paparan materi di hadapan para guru.
Ketua Komisi E DPRD Jatim, Dr. Dra. Sri Untari Bisowarno, M.AP., saat menyampaikan paparan materi di hadapan para guru. (Foto: Istimewa)

Jeritan Batin Generasi Modern dan Krisis Identitas

Menurut Sri Untari, langkah strategis ini berawal dari kegelisahan serta jeritan batin pribadinya melihat pergeseran pola komunikasi yang terjadi di tengah keluarga modern saat ini. Ia menilai bahwa peralihan bahasa pengantar di rumah dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia, bahkan pengenalan bahasa asing sejak bayi, telah membuat generasi Z dan Alpha kehilangan akar identitas budayanya.

Suasana pemaparan materi oleh narasumber yang disimak secara antusias oleh para peserta.
Suasana pemaparan materi oleh narasumber yang disimak secara antusias oleh para peserta. (Foto: Istimewa)

”Batin saya menjerit, bahasa Jawa kok sudah jadi bahasa kesekian. Padahal kita ini orang Jawa, hidup di kultur Jawa. Saat ini di dalam rumah sudah beralih ke bahasa Indonesia, bahkan keluarga modern mengenalkan bahasa Inggris sejak bayi. Akhirnya anak-anak tidak mengenali siapa dirinya,” ungkap Sri Untari dengan nada prihatin.

Baca juga: Mahasiswa PBA UIN Malang Hadirkan Pembelajaran Bahasa Arab Kreatif di MTsN 2

Baca juga: Mahasiswa PBA UIN Malang Praktik Mengajar di MTsN 2, Terapkan Pembelajaran Bahasa Arab Humanistik

Iklan

Politisi senior tersebut menambahkan, jati diri suatu bangsa sesungguhnya tercermin dari ras, bahasa, aksara, serta sistem nilai kebudayaannya. Ia menyoroti ragam tutur bahasa Jawa seperti krama dan krama inggil yang kini semakin langka dituturkan, serta aksara Jawa yang kian tersingkirkan oleh dominasi aksara Latin dan bahasa Inggris.

”Seolah-olah sekarang bahasa dan aksara Jawa itu seperti tamu, padahal dia pemilik rumah ini. Sementara itu, aksara Jawa hilang karena literasi yang digunakan mayoritas beraksara Latin dan bahasa Inggris,” tegasnya.

Tantangan Nyata di Sekolah dan Komitmen Solusi Konkret

Pertemuan bersama para pendidik bahasa Jawa angkatan kedua tersebut difokuskan untuk memetakan berbagai kendala teknis pembelajaran di sekolah. Berdasarkan masukan yang dihimpun, terungkap sejumlah persoalan krusial seperti minimnya tenaga pendidik berlatar belakang linier serta terbatasnya ketersediaan buku pedoman belajar yang aplikatif.

”Banyak ditemui di sekolah tidak ada guru khusus bahasa Jawa. Guru mata pelajaran lain terpaksa diminta mengajar bahasa Jawa. Selain itu, ketersediaan buku panduan yang konkret dan relevan masih sangat dibutuhkan oleh teman-teman guru,” paparnya.

Seluruh peserta MGMP Bahasa Jawa berfoto bersama menunjukkan komitmen dalam menjaga kelestarian budaya.
Seluruh peserta MGMP Bahasa Jawa berfoto bersama menunjukkan komitmen dalam menjaga kelestarian budaya. (Foto: Istimewa)

Menanggapi berbagai persoalan tersebut, Untari mendorong optimalisasi peran forum MGMP Bahasa Jawa agar terus aktif menginventarisasi hambatan di lapangan sekaligus merumuskan penguatan kurikulum muatan lokal. Pihaknya di Komisi E DPRD Jatim bersama para pegiat budaya berkomitmen penuh untuk mengawal seluruh aspirasi ini ke ranah kebijakan pemerintah daerah demi menyelamatkan warisan leluhur.

”Sebagai wakil rakyat di DPRD Provinsi, wajib bagi saya mendengarkan keluhan ini. Seluruh aspirasi dan kesulitan para guru bahasa Jawa kami catat secara langsung agar dapat dicarikan solusi nyata demi menyelamatkan kebudayaan kita,” pungkasnya. (mut)

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.