MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Pimpinan Cabang (PC) Pagar Nusa Kabupaten Malang memperkuat kompetensi para pelatih melalui Penataran Pelatih Tahap IV di SMK NU Sunan Ampel, Poncokusumo, Minggu (1/11/2026).
Penataran pelatih ini untuk membangun kesadaran bahwa seorang pendekar tidak lahir hanya dari kerasnya latihan dan penguasaan jurus.
Di balik ketangguhan seorang pesilat, terdapat peran pelatih yang menempa kemampuan fisik, membangun mental, sekaligus menanamkan nilai-nilai kehidupan.
Artinya, atlet pencak silat yang unggul juga berasal dari didikan pelatih yang unggul. Inilah yang diusung Pagar Nusa Kabupaten Malang saat menyelenggarakan Penataran Pelatih Tahap IV.
Baca juga: Baiat 16 Santri Pagar Nusa Ampel Gading, Pengabdian Dimulai dari Akhlak
Sorotan
Penataran Pelatih Tahap IV Pagar Nusa Kabupaten Malang
Diikuti 50 Peserta dari 32 PAC

Kegiatan yang diikuti 50 peserta dari perwakilan 32 Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pagar Nusa se-Kabupaten Malang tersebut menjadi bagian dari strategi penguatan sumber daya manusia untuk menopang peningkatan prestasi atlet.
Pembinaan tidak hanya diarahkan pada penguasaan teknik dan kemampuan fisik, tetapi juga kedalaman spiritual, pembentukan karakter, serta loyalitas terhadap organisasi dan Nahdlatul Ulama (NU).
Ketua Pelaksana Ahmad Bashori, S.Pd., mengatakan, peningkatan prestasi atlet Pagar Nusa Kabupaten Malang di berbagai tingkatan harus diimbangi dengan kualitas pelatih yang memadai.
Menurut dia, pelatih memiliki posisi strategis karena menjadi fondasi dalam membentuk atlet yang potensial dan kompetitif.
“Kami berharap kegiatan ini memberikan dampak secara menyeluruh bagi seluruh PAC Pagar Nusa di Kabupaten Malang,” ujar Bashori.
“Prestasi atlet kita semakin meningkat, baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Karena itu, kegiatan ini sangat penting. Pelatih memiliki peran penting sebagai fondasi untuk membentuk atlet yang potensial,” imbuhnya.
Ia berharap penataran tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menghasilkan peningkatan kualitas pembinaan yang dapat diterapkan di masing-masing wilayah.
Hadirkan 5 Narasumber

Agar dapat memperkuat kapasitas peserta, panitia menghadirkan sejumlah narasumber dengan latar belakang keahlian olahraga dan pencak silat.
Mereka antara lain Coach Suhud Indratno, S.Or., pelatih internasional; Chusnul Chowatim, S.Pd., dari Pengurus IPSI Kabupaten Malang; Basuki Rachmad, S.Pd., pelatih gulat sekaligus ahli sport massage internasional; Ruli Efan Perdana, M.Pd., ahli sport massage; serta Tatok Agus Setiawan, Ketua Bidang Prestasi Pagar Nusa.
Hadir pula Wahyudin, Dewan Pendekar Kecamatan Poncokusumo; Slamet, Dewan Pendekar Kecamatan Pakisaji; dan Muhammad, Ketua PAC Pagar Nusa Pagak.
Kehadiran para pemateri dari berbagai disiplin memperlihatkan bahwa pembinaan pencak silat membutuhkan kompetensi yang semakin luas.
Pelatih tidak cukup hanya menguasai teknik serangan dan pertahanan. Mereka juga perlu memahami kondisi fisik atlet, kebugaran, pemulihan, pencegahan cedera, serta perkembangan metode latihan olahraga.
Namun, kompetensi teknis bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang pelatih.
Baca juga: Pagar Nusa Khidmah di Muskercab III NU Kabupaten Malang 2026
Pagar Nusa Harus Lahirkan Generasi Matang Moral dan Spiritual

Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Malang, Saiful Anam, menegaskan bahwa pendidikan di Pagar Nusa harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.
“Kita tidak sedang mempersiapkan generasi yang hanya pandai bertarung. Kita sedang mendidik generasi yang mampu menjaga kehormatan, merawat persaudaraan, membela kebenaran, dan memberikan manfaat bagi kehidupan,” tegas Saiful.
Menurutnya, pelatih memiliki tanggung jawab lebih besar daripada sekadar mengajarkan gerakan dan teknik pencak silat.
Mereka merupakan pendidik sekaligus teladan yang perilaku dan sikapnya akan menjadi bagian dari proses pembentukan karakter para pesilat.
Dalam tradisi Pagar Nusa yang bernaung di lingkungan Nahdlatul Ulama, kemampuan bela diri harus berjalan beriringan dengan adab dan akhlak.
Nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah menjadi pijakan dalam membangun pribadi yang menghormati guru, menjaga persaudaraan, rendah hati, serta mengutamakan kemaslahatan.
Dengan demikian, semakin tinggi kemampuan seorang pendekar, semestinya semakin besar pula tanggung jawab moralnya.
Kemenangan tidak boleh melahirkan kesombongan, sedangkan kemampuan bela diri tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.
Baca juga: Raih Juara Umum 3 Kejurwil Banyuwangi, Pagar Nusa Kabupaten Malang Jaga Tradisi Juara
Jaga Tradisi, Tingkatkan Prestasi
Meningkatnya capaian atlet Pagar Nusa Kabupaten Malang di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional menjadi modal penting untuk melangkah lebih jauh.
Namun, prestasi yang berkelanjutan membutuhkan sistem pembinaan yang kuat, pemerataan kualitas pelatih, dan regenerasi yang terencana.
Di sinilah Penataran Pelatih Tahap IV menemukan relevansinya. Keterlibatan perwakilan 32 PAC membuka ruang penguatan kapasitas pembinaan hingga tingkat kecamatan.
Harapannya, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta dapat ditularkan kepada pesilat di wilayah masing-masing.
Bagi Pagar Nusa, menjaga tradisi bukan berarti menutup diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan metode olahraga modern. Sebaliknya, tradisi harus menjadi pijakan untuk terus berkembang tanpa kehilangan identitas.
Prestasi dan karakter juga tidak boleh dipertentangkan. Keduanya harus tumbuh bersama. Pagar Nusa membutuhkan pelatih yang mampu mencetak atlet berprestasi, tetapi tetap memahami adab, menghormati lawan, menjunjung sportivitas, dan menjaga kehormatan organisasi.
Sebab, ukuran keberhasilan seorang pelatih bukan semata-mata berapa banyak medali yang berhasil diraih muridnya. Lebih dari itu, keberhasilan juga terlihat dari bagaimana murid-muridnya tumbuh menjadi manusia yang disiplin, berakhlak, mampu mengendalikan diri, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Pada akhirnya, jurus dapat diwariskan melalui latihan, teknik dapat disempurnakan melalui pengalaman, dan prestasi dapat diraih melalui kompetisi. Namun, karakter membutuhkan keteladanan.
Di situlah peran pelatih menjadi penting: bukan sekadar mencetak pesilat yang mampu memenangkan pertandingan, melainkan membentuk pendekar yang tahu untuk apa kekuatan itu digunakan.
Melalui penataran ini, PC Pagar Nusa Kabupaten Malang menegaskan arah pembinaannya: meningkatkan kompetensi, memperkuat regenerasi, menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, dan membangun prestasi tanpa kehilangan jati diri.
Bersama Pagar Nusa, menjaga tradisi, menggapai prestasi.***
Kontributor: Rofii

Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.