Malang |JATIMSATUNEWS.COM: Reuni selalu punya cerita. Ada yang datang untuk bertemu teman lama, mengenang masa kuliah, bernostalgia tentang dosen, atau sekadar ingin tahu kabar teman-teman seperjuangan. Ada yang sekarang menjadi pejabat, pengusaha, akademisi, profesional, dan ada pula yang masih terus berjuang membangun kehidupannya. Semua punya cerita dan kenangan yang sama tentang almamater UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Namun, kalau kita membaca hasil aspirasi alumni dalam kegiatan reuni, ada pesan yang lebih menarik daripada sekadar keinginan untuk bertemu kembali. Alumni ternyata tidak hanya ingin bernostalgia. Mereka juga ingin tetap terhubung, membangun jaringan, saling membantu, mendapatkan peluang, dan berkontribusi bagi almamater.
Dari 1.407 respons tentang harapan alumni, sebanyak 683 atau sekitar 48,5 persen menginginkan silaturahmi dan temu kangen. Selain itu, ada yang mengharapkan jejaring dan kolaborasi, kontribusi bagi almamater dan masyarakat, pengembangan karier, serta kegiatan alumni yang berkelanjutan.
Baca juga: MEMAKNAI KEBERDAMPAKAN DALAM KERANGKA VISI KONVERGENSI UIN MALIKI
Dalam usulan kegiatan juga muncul keinginan untuk mengadakan seminar, berbagi pengalaman, pertemuan rutin, membangun jaringan wilayah, membuka peluang kerja, mengembangkan usaha, serta kegiatan sosial dan beasiswa.
Artinya, alumni ingin tetap menjadi bagian dari keluarga besar UIN Maliki, bukan hanya ketika ada reuni, tetapi juga dalam kehidupan dan perjalanan masa depan mereka.
Pertanyaannya, setelah reuni selesai, apa yang harus dilakukan?
Universitas Harus Terus Hadir bagi Alumni
Menurut saya, universitas perlu mengubah cara pandang terhadap alumni. Alumni bukan sekadar orang yang pernah kuliah dan kemudian meninggalkan kampus setelah memperoleh gelar. Mereka adalah bagian dari kekuatan universitas yang tersebar di berbagai bidang kehidupan.
Ada alumni yang menjadi pejabat, pengusaha, akademisi, guru, profesional, penggerak pesantren, dan aktivis sosial. Mereka memiliki pengalaman, keahlian, jaringan, dan peluang yang bisa dikembangkan bersama.
Karena itu, universitas perlu melakukan beberapa hal.
Pertama, membangun database alumni yang terintegrasi. Jangan hanya mencatat nama dan tahun kelulusan, tetapi juga profesi, keahlian, tempat bekerja, bidang usaha, serta potensi kontribusinya. Universitas harus mengenali kekuatan alumninya.
Kedua, membantu pengembangan karier alumni. Universitas perlu menghubungkan alumni dengan perusahaan, lembaga pemerintah, sekolah, pesantren, industri, dan dunia usaha melalui pusat informasi karier, pelatihan kompetensi, rekrutmen, serta peluang kerja.
Ketiga, melibatkan alumni dalam kegiatan akademik. Alumni yang telah berpengalaman dapat menjadi dosen tamu, mentor, pembicara, mitra penelitian, dan pendamping mahasiswa. Dengan demikian, pengalaman nyata di dunia kerja dapat memperkaya proses pembelajaran di kampus.
Keempat, membuka ruang kolaborasi bisnis. Universitas dapat memfasilitasi temu bisnis, promosi produk, katalog usaha alumni, inkubasi kewirausahaan, dan kerja sama dengan perusahaan milik alumni.
Kelima, memfasilitasi gerakan sosial dan beasiswa. Alumni yang ingin membantu mahasiswa kurang mampu atau sesama alumni perlu diberi ruang melalui mekanisme yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Intinya, universitas jangan hanya menghasilkan alumni, tetapi juga harus terus menjadi bagian dari perjalanan dan perkembangan kehidupan alumninya.
KAMALIKI Harus Naik Kelas
Jika universitas bertanggung jawab membangun sistem dan menyediakan ruang kolaborasi, KAMALIKI (Ikatan Alumni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang) memiliki tugas menggerakkan para alumni.
Menurut saya, KAMALIKI harus lebih dari sekadar organisasi reuni. KAMALIKI harus menjadi rumah bersama yang membuat alumni merasa memiliki tempat untuk berkomunikasi, saling membantu, mengembangkan karier, membangun usaha, dan berkontribusi.
Ada empat strategi yang bisa dikembangkan.
Pertama, membangun jaringan alumni berdasarkan wilayah dan profesi. Alumni perlu dihubungkan melalui komunitas daerah maupun komunitas profesi, seperti pengusaha, akademisi, pendidik, birokrat, praktisi hukum, dan profesional. Tidak harus semuanya menjadi organisasi formal. Yang penting ada komunikasi dan kegiatan nyata.
Kedua, mengembangkan KAMALIKI Career Network. Alumni yang memiliki perusahaan atau bekerja di lembaga strategis dapat berbagi informasi pekerjaan dan membuka peluang bagi alumni lainnya. Alumni senior juga dapat menjadi mentor bagi lulusan baru.
Ketiga, membangun KAMALIKI Business Network. KAMALIKI dapat mempertemukan pengusaha dan pelaku usaha alumni melalui katalog bisnis, promosi produk, temu bisnis, dan kerja sama ekonomi. Yang punya produk bertemu dengan yang punya pasar; yang punya keahlian bertemu dengan yang membutuhkan tenaga profesional.
Keempat, menghidupkan gerakan beasiswa dan solidaritas alumni. KAMALIKI dapat mengembangkan dana beasiswa bagi mahasiswa yang membutuhkan serta gerakan kepedulian untuk membantu sesama alumni dan masyarakat. Kontribusi tidak harus besar. Yang penting ada semangat saling membantu dan pengelolaan yang transparan.
Selain itu, komunikasi alumni jangan hanya ramai menjelang reuni. KAMALIKI perlu memanfaatkan media digital untuk berbagi informasi pekerjaan, peluang usaha, kegiatan sosial, dan pengembangan keilmuan.
Universitas dan KAMALIKI Harus Satu Irama
Universitas memiliki fasilitas, kebijakan, jaringan kelembagaan, dan kekuatan akademik. KAMALIKI memiliki jaringan anggota, pengalaman, kedekatan emosional, dan potensi yang tersebar di berbagai bidang.
Keduanya harus saling melengkapi. Universitas menyediakan ruang dan dukungan kelembagaan, sedangkan KAMALIKI menggerakkan jaringan alumni. Hubungan ini harus dibangun sebagai kemitraan, bukan hubungan saling menunggu.
Untuk memulainya, perlu dibentuk forum koordinasi rutin Universitas–KAMALIKI yang menyepakati program dan pembagian tugas.
Saya mengusulkan tiga program unggulan yang bisa segera dijalankan:
1. KAMALIKI Career Network, untuk menghubungkan alumni dengan peluang kerja dan pengembangan karier.
2. KAMALIKI Business Network, untuk mempertemukan pengusaha dan profesional alumni dalam kerja sama ekonomi.
3. KAMALIKI Scholarship and Social Movement, untuk mengembangkan beasiswa dan gerakan kepedulian sosial.
Program-program tersebut dapat mulai dijalankan melalui agenda 100 hari pertama. Bulan pertama digunakan untuk konsolidasi dan pemetaan potensi alumni. Bulan kedua untuk mengaktifkan jejaring wilayah dan profesi. Bulan ketiga untuk memulai program karier, bisnis, mentoring, dan beasiswa.
Keberhasilannya jangan hanya diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi dari manfaat yang benar-benar dirasakan: peluang kerja yang terbuka, usaha yang berkembang, mahasiswa yang terbantu, dan kolaborasi yang terbangun.
Reuni Boleh Selesai, Persaudaraan Jangan Berhenti
Saya kira, hasil reuni ini memberikan pesan yang sangat jelas. Alumni masih memiliki rasa memiliki terhadap almamater. Mereka ingin bertemu, ingin dekat, ingin saling mengenal, dan ingin tetap menjadi bagian dari keluarga besar UIN Maliki.
Ini adalah modal sosial yang sangat berharga. Jangan sampai setelah reuni selesai, semuanya kembali sibuk dengan urusan masing-masing dan hubungan yang sudah terbangun perlahan menghilang.
Universitas perlu terus membuka pintu bagi alumninya. KAMALIKI perlu terus menghidupkan jaringan dan menggerakkan anggotanya.
Saya membayangkan suatu saat alumni mendapatkan pekerjaan melalui jaringan KAMALIKI, pengusaha alumni berkembang karena bekerja sama, mahasiswa memperoleh beasiswa dari gerakan alumni, dan alumni senior menjadi mentor bagi generasi berikutnya.
Jika itu terwujud, reuni telah menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar temu kangen.
Reuni adalah kesempatan untuk kembali bertemu. KAMALIKI adalah ruang untuk terus terhubung. Universitas adalah rumah bersama untuk terus bertumbuh.
Mari kita ubah rasa bangga terhadap almamater menjadi tindakan nyata. Jangan hanya bangga pernah menjadi bagian dari UIN Maliki. Mari terus menjadi bagian dari kemajuan UIN Maliki.
UIN Maliki dan KAMALIKI: Satu Almamater, Satu Persaudaraan, Banyak Peluang, dan Satu Gerakan untuk Masa Depan. (Ans)


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.