Langsung ke konten
Sabtu, 31 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

Menutup Hari Santri, MAN 2 Kota Malang Ajak Santri Sulap Guyonan Jadi Karya Literasi

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Kota Malang ditutup dengan kegiatan kreatif yang menggabungkan tradisi pesantren dan

Gus Shampton dan Gus Bay

Gus Shampton dan Gus Bay (Foto: Dok.pri Anis Hidayatie)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Kota Malang ditutup dengan kegiatan kreatif yang menggabungkan tradisi pesantren dan budaya literasi. Melalui agenda Workshop dan Lomba Menulis Kisah Humor Santri, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Malang bersama Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang mengajak para santri menjadikan pengalaman sehari-hari sebagai karya tulis yang menghibur sekaligus sarat pesan moral.

Kegiatan yang digelar di MAN 2 Kota Malang, Sabtu (31/10/2026), tersebut menghadirkan penulis dan humorolog Gus Bayhaqi Kadmi sebagai narasumber utama dan Anis Hidayatie memberi materi pengantar menulis Humor.

Sebanyak 12 ma’had di Kota Malang mengirimkan peserta untuk mengikuti pembinaan kepenulisan sekaligus kompetisi menulis cerita humor.

Baca juga: Hadir Haul Mergosono ke-13, Kepala MAN 2 Kota Malang H Samsudin Sampaikan Bukan Sekadar Mengenang

Baca juga: Khidmad Apel Hari Santri Nasional 2026 MWC NU Lowokwaru Kota Malang

Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang perlombaan, tetapi juga ruang pembelajaran bagi santri untuk mengenali potensi kreatifnya. Para peserta dibimbing mengolah cerita, pengalaman, serta berbagai peristiwa sederhana di lingkungan pesantren menjadi tulisan humor yang menarik, komunikatif, dan memiliki nilai edukasi.

Kepala MAN 2 Kota Malang, Dr. H. Samsudin, M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut diawali dengan pendaftaran peserta dari berbagai ma’had. Setelah itu, peserta mendapatkan pembekalan melalui workshop sebelum mengikuti kompetisi menulis.

Menurut Samsudin, proses pembinaan menjadi bagian penting agar para santri tidak hanya berani menulis, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang berkualitas dan layak dipublikasikan.

“Peserta ini dari 12 ma’had di Kota Malang. Insyaallah anak-anak kita yang telah mengikuti proses pendaftaran ini akan mengikuti proses pembinaan dari narasumber, sekaligus mengikuti lomba selanjutnya,” ujarnya.

Panitia juga menyiapkan apresiasi bagi peserta terbaik berupa 18 medali, terdiri atas tiga medali emas, enam medali perak, dan sembilan medali perunggu.

Ia berharap kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan para santri untuk mengembangkan kemampuan literasi, membangun kepercayaan diri, serta menghasilkan karya yang dapat menjadi kebanggaan masing-masing ma’had.

Gus Shampton: Menulis Harus Menjadi Kebiasaan

Sementara itu, Kepala Kemenag Kota Malang, Gus Shampton, menegaskan bahwa penguatan budaya literasi harus dimulai dari kebiasaan sederhana. Menurutnya, kemampuan menulis tidak harus diawali dengan menghasilkan tulisan yang berat, melainkan bisa dibangun melalui kebiasaan mencatat berbagai hal yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Iklan

Ia mendorong budaya menulis tumbuh di seluruh lingkungan Kemenag, mulai dari pegawai, guru, hingga para siswa dan santri.

“Menulis adalah hal yang sederhana di sehari-hari yang kemudian menjadi sebuah kebiasaan. Pada akhirnya, itu akan mengasah kemampuan menulis bagi seluruh warga kita,” jelas Gus Shampton.

Menurutnya, konsistensi merupakan kunci dalam membangun kemampuan literasi. Ketika seseorang terbiasa mencatat dan menuangkan gagasan, kemampuan menyampaikan pemikiran melalui tulisan akan berkembang secara bertahap.

Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui penerbitan buku yang melibatkan guru dan pegawai di lingkungan Kemenag Kota Malang. Langkah ini sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap siapa pun yang mulai membangun tradisi menulis.

“Walaupun mungkin tulisannya masih tahap belajar, tidak apa-apa. Yang penting kita apresiasi, kita akomodasi, dan itu bisa menjadi dokumen yang penting,” ungkapnya.

Dari Tradisi Guyonan Pesantren Menuju Karya yang Menginspirasi

Pemilihan tema humor santri menjadi daya tarik tersendiri dalam kegiatan tersebut. Kehidupan pesantren yang lekat dengan tradisi kebersamaan, keakraban, dan guyonan menyimpan banyak cerita yang menarik untuk diangkat menjadi karya tulis.

Humor bukan sekadar menghadirkan kelucuan. Jika dikemas dengan baik, cerita humor dapat menjadi media menyampaikan nasihat, kritik sosial, pembelajaran, serta nilai-nilai kehidupan dengan cara yang ringan dan mudah diterima pembaca.

Melalui pendampingan narasumber, para peserta didorong untuk mengembangkan kemampuan membangun alur cerita, memilih diksi, menciptakan kelucuan, hingga menghadirkan punchline yang kuat dan berkesan.

Dengan demikian, kreativitas santri tidak berhenti pada kemampuan bercerita secara lisan, tetapi berkembang menjadi keterampilan menulis yang dapat diwariskan dan dinikmati masyarakat luas.

Iklan

Gus Shampton berharap kegiatan semacam ini mampu melahirkan generasi santri yang tidak hanya gemar membaca, tetapi juga produktif menghasilkan karya.

“Para santri diharapkan tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga mampu menjadi penulis yang menuangkan pengalaman, kreativitas, dan kehidupan pesantren ke dalam karya yang inspiratif serta menghibur,” tandasnya.

Pada kesempatan tersebut, juga dilakukan penyerahan secara simbolis buku hasil karya lomba menulis santri tahun sebelumnya kepada Kepala Kantor Kemenag Kota Malang.

Penyerahan buku tersebut menjadi penanda keberlanjutan gerakan literasi yang telah dibangun. Sekaligus membuktikan bahwa gagasan dan pengalaman santri memiliki nilai untuk didokumentasikan menjadi karya yang dapat dibaca oleh generasi berikutnya.

Melalui kegiatan ini, MAN 2 Kota Malang bersama Kemenag Kota Malang berharap semangat Hari Santri tidak berhenti pada seremoni tahunan. Lebih dari itu, nilai perjuangan, keilmuan, kreativitas, dan tradisi intelektual pesantren diharapkan terus hidup melalui karya.

Sebab, santri tidak hanya memiliki cerita untuk dituturkan, tetapi juga gagasan untuk dituliskan. Dari guyonan sederhana, lahir karya; dari kebiasaan membaca, tumbuh tradisi menulis; dan dari pesantren, diharapkan lahir penulis-penulis hebat yang mampu mewarnai khazanah literasi Indonesia.

Bersama para pemenang
Bersama para pemenang (Foto: Dok. Istimewa Anis Hidayatie)
Kamad H Samsudin memberi Buku kepada Gus Shampton
Kamad H Samsudin memberi Buku kepada Gus Shampton (Foto: Dok. Istimewa Anis Hidayatie)

Bayhaqi Kadmi, Gus Shampton, Kemenag Kota Malang, literasi pesantren, workshop menulis santri.

Meta Description: Menutup Hari Santri 2026, MAN 2 Kota Malang bersama Kemenag menggelar workshop dan lomba menulis humor santri yang diikuti 12 ma’ha

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.