MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Haul ke 13 KH Masduki Mahfud, pengasuh Pesantren Nurul Huda Mergosono Malang telah usai 3 hari lalu. Namun catatan kesan terhadap pelaksanaan masih membekas. Diantaranya dari Kepala MAN 2 Kota Malang, H. Samsudin.
Hadir khusus ikut memperingati Haul Mergosono ke-13 Ahad 27/9/2027 lalu H Samsudin mengungkapkan kesan istimewanya yakni untuk kembali belajar dari keteladanan para ulama. Khususnya Almaghfurlah KH. Ahmad Masduqi Mahfudz.
Kamad Samsudin menyebutkan kehadiran dalam kegiatan haul bukan sekadar untuk mengenang sosok ulama yang telah wafat, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menyambung kembali nilai-nilai keilmuan, perjuangan, keikhlasan, dan pengabdian yang telah diwariskan kepada para santri, alumni, serta masyarakat.
Baca juga: MAN 2 Kota Malang Raih 1.139 Prestasi dalam Setahun, Kepala Madrasah Samsudin Ungkap Rahasianya
“Alhamdulillah, saya bisa ikut dalam kegiatan di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Huda. Ini luar biasa. Beliau, guru yang sangat saya hormati, telah mengajarkan banyak hal kepada para santri,” ungkap H. Samsudin Rabu 30/9/2026.
Ia menilai, keteladanan KH. Ahmad Masduqi Mahfudz tidak berhenti pada masa ketika beliau masih hidup. Nilai-nilai yang diajarkan justru terus tumbuh melalui para santri, alumni, masyayikh, tokoh masyarakat, dan generasi yang pernah mendapatkan sentuhan keilmuan dari Kyai
Menurutnya haul menjadi ruang untuk kembali mengingat sekaligus melakukan refleksi: sejauh mana ilmu yang telah diwariskan para ulama mampu diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Pada hari ini kita bisa bersama-sama dengan para santri, para masyayikh, dan tokoh-tokoh masyarakat. Ini menjadi motivasi bagi kita untuk terus menjadikan keilmuan sebagai bagian dari kehidupan dan menjadi ruh dalam setiap aktivitas kita,” tuturnya.
Bagi H. Samsudin, kisah kehidupan KH. Ahmad Masduqi Mahfudz menyimpan banyak pelajaran yang relevan bagi dunia pendidikan. Seorang pendidik tidak hanya dituntut untuk mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan contoh melalui sikap, akhlak, kesabaran, dan pengabdian.
Nilai itulah yang menurutnya perlu terus dibawa ke lingkungan madrasah. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, akhlak, kepedulian, dan semangat memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Banyak hal yang bisa kita pelajari dari kisah dan perjuangan beliau. Apa yang dilakukan beliau selama ini sangat menginspirasi kita,” jelasnya.
Ia berharap momentum Haul Mergosono tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi mampu menjadi pengingat bagi generasi sekarang untuk meneruskan mata rantai keilmuan dan perjuangan para ulama.
Sebab, ketika seorang ulama telah wafat, yang semestinya terus hidup bukan hanya namanya, tetapi juga ilmu, akhlak, keteladanan, dan manfaat yang pernah diberikan.
“Insya Allah, kita bisa belajar banyak hal dari beliau. Semoga keteladanan dan ilmu yang telah beliau wariskan terus menjadi motivasi bagi kita dalam menjalankan kehidupan, khususnya dalam mendidik dan membimbing generasi penerus,” pungkas H. Samsudin.
Haul akhirnya menjadi sebuah ruang refleksi bahwa menghormati ulama bukan hanya dengan mengenang namanya, tetapi juga dengan berusaha meneruskan nilai-nilai kebaikan yang telah diajarkan.
” Dari sanalah warisan seorang ulama tetap hidup dan memberikan manfaat lintas generasi,” ucap H Samsudin. Ans


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.