OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: Bukan Sekadar Reuni: Saatnya Alumni Bergerak dan Berkontribusi oleh Dr.H.Miftahul Huda, SHI.,M.H., Alumnus STAIN Malang 2001
Dari nostalgia menuju kolaborasi, dari persaudaraan lintas generasi menuju kontribusi nyata bagi almamater.
Tema “From Maliki to the World: Reconnect, Inspire, Contribute” menjadi semangat Reuni Akbar dan Pelantikan Ikatan Alumni (IKA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tahun 2026.
Semangat ini juga diperkuat dengan tagline “Seduluran sak Lawase”, yang menjadikan reuni alumni bukan sekadar ajang temu kangen, melainkan momentum merawat persaudaraan, menyambungkan jejaring, dan membangun kontribusi bersama bagi almamater.
Baca juga: Reuni Akbar IKA UIN Malang, Dekan FKIK: Alumni Harus Jadi Kekuatan Strategis Kampus
Sorotan
Reuni Akbar Alumni UIN Malang 2026
Reuni selalu menghadirkan kerinduan dan kenangan. Bagi keluarga besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, mulai generasi IAIN, STAIN, UIS hingga UIN, pertemuan lintas generasi memiliki makna tersendiri.
Ingatan tentang ruang kuliah, obrolan di kantin, diskusi, perjuangan menyelesaikan skripsi, hingga kebersamaan dengan teman seperjuangan menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk karakter dan identitas alumni.
Namun, kampus bukan sekadar ruang untuk mengenang masa lalu. Almamater terus tumbuh dan berkembang, sementara para alumninya telah berkiprah di berbagai bidang, mulai pendidikan, pemerintahan, bisnis, media, keagamaan hingga sosial kemasyarakatan.
Melalui profesi dan pengabdian masing-masing, alumni turut membawa nama baik institusi di tengah masyarakat.
Karena itu, reuni semestinya tidak berhenti pada romantisme masa kuliah. Pertemuan ini harus menjadi ruang refleksi sekaligus titik awal membangun masa depan bersama.
Reuni Bukan Sekadar Temu Kangen
Selama ini, reuni kerap dipahami sebagai ajang melepas rindu, bertukar cerita, dan mengenang masa-masa indah ketika masih menjadi mahasiswa. Pandangan tersebut tentu tidak keliru. Akan tetapi, apabila reuni hanya berhenti pada nostalgia, ada potensi besar yang justru terlewatkan.
Dalam konteks perguruan tinggi, alumni merupakan aset strategis yang memiliki peran penting dalam mendukung pengembangan institusi. Kekuatan sebuah universitas tidak hanya tercermin dari kualitas akademik, fasilitas pendidikan, maupun prestasi kelembagaannya, tetapi juga dari sejauh mana para alumninya mampu berkontribusi bagi masyarakat dan tetap terhubung dengan almamater.
Di sinilah pentingnya keberadaan Ikatan Alumni (IKA). Organisasi alumni seharusnya tidak sekadar menjadi wadah berkumpul, melainkan menjadi jembatan kolaborasi antara universitas, alumni, mahasiswa, dan masyarakat.
Alumni yang telah berpengalaman dapat membuka kesempatan magang, berbagi informasi pekerjaan, dan memberikan pendampingan karier.
Alumni di bidang usaha dapat membangun kemitraan ekonomi, sementara mereka yang berkiprah di pemerintahan, pendidikan, dan dunia sosial dapat membuka ruang kerja sama yang lebih luas.
Kepedulian terhadap almamater juga dapat diwujudkan melalui beasiswa, bantuan pendidikan, pengembangan fasilitas kampus, serta program pemberdayaan mahasiswa. Potensi ini perlu dihimpun dan dikelola secara terorganisasi agar memberikan manfaat berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, momentum Reuni Akbar Temu Alumni dan Pelantikan Ketua IKA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada 1 November 2026, dengan Dr. M. Hasanuddin Wahid atau akrab disapa Cak Udin, Anggota Komisi XI DPR RI periode 2024–2029, sebagai ketua terpilih, perlu menjadi titik tolak penguatan kembali peran organisasi alumni.
Pelantikan pengurus bukanlah akhir proses organisatoris, melainkan awal tanggung jawab dan pengabdian. Kepengurusan baru diharapkan menghadirkan program yang relevan, inklusif, dan menjawab kebutuhan alumni maupun almamater. IKA harus hadir bukan hanya melalui struktur organisasi, tetapi melalui karya dan manfaat nyata.
Baca juga: Muamalah Festival VIII 2026 Dorong Inovasi Hukum Ekonomi Syariah yang Adaptif dan Berdaya Saing
Mengubah Nostalgia Menjadi Kontribusi
Salah satu agenda strategis yang perlu diperkuat melalui reuni adalah pendataan alumni melalui tracer study. Selama ini, perubahan domisili, kesibukan pekerjaan, dan tersebarnya alumni di berbagai wilayah menjadi tantangan tersendiri dalam menghimpun data lulusan.
Padahal, tracer study penting untuk mengetahui perjalanan lulusan setelah menyelesaikan pendidikan, masa tunggu memperoleh pekerjaan, kesesuaian bidang kerja dengan kompetensi keilmuan, serta perkembangan karier mereka.
Informasi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk menyempurnakan kurikulum, meningkatkan kualitas pembelajaran, dan memperkuat kompetensi lulusan agar semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
Reuni akbar merupakan momentum tepat untuk mengoptimalkan pendataan tersebut. Panitia bersama universitas dan IKA dapat menyediakan stan khusus tracer study, kode QR menuju formulir digital, atau tautan pendataan dalam registrasi peserta.
Langkah sederhana ini akan memberikan manfaat jangka panjang apabila ditindaklanjuti secara konsisten. Alumni juga perlu memahami bahwa memperbarui data, berbagi pengalaman, dan membuka jejaring merupakan bentuk kepedulian terhadap almamater. Kontribusi tidak selalu harus berupa materi, tetapi juga gagasan, informasi, dan pengalaman.
Baca juga: Generasi Z dan Jebakan Social Comparison: Ketika Hidup Menjadi Ajang Perbandingan
Seduluran sak Lawase: Menyatukan Lintas Generasi
Tagline “Seduluran sak Lawase” mengandung pesan bahwa persaudaraan tidak semestinya berakhir ketika seseorang meninggalkan kampus.
Perbedaan angkatan, profesi, jabatan, dan tempat tinggal justru menjadi kekayaan yang dapat memperluas jejaring kolaborasi.
Alumni senior memiliki pengalaman dan kebijaksanaan untuk dibagikan. Alumni muda membawa kreativitas dan energi baru. Mahasiswa aktif pun perlu dilibatkan agar kesinambungan jejaring alumni dapat terbangun sejak dini.
IKA harus menjadi rumah bersama bagi seluruh lulusan, tanpa membedakan latar belakang maupun pencapaian. Sebab, organisasi alumni bukan hanya milik mereka yang menduduki posisi strategis, melainkan seluruh keluarga besar almamater.
Persaudaraan tidak cukup dirawat melalui seremoni. Ia membutuhkan komunikasi, kepedulian, dan tindakan nyata.
Dari Maliki untuk Dunia
Keberhasilan reuni tidak semata-mata diukur dari jumlah peserta, kemeriahan acara, atau dokumentasi yang beredar di media sosial. Ukuran yang lebih substantif adalah sejauh mana kegiatan tersebut melahirkan kolaborasi setelah acara berakhir: jejaring semakin kuat, pendampingan karier terwujud, kerja sama lintas profesi berkembang, dan pendataan alumni semakin baik.
Reuni adalah tentang kembali, tetapi bukan untuk berjalan mundur menuju masa lalu. Kembali berarti menemukan akar kebersamaan, memperbarui persaudaraan, dan merumuskan langkah bagi masa depan.
Mari menjadikan Reuni Akbar dan Pelantikan IKA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tahun 2026 sebagai momentum memperkuat organisasi, memperluas jejaring, mendukung generasi penerus, dan meningkatkan kontribusi bagi almamater.
Sebab, kemajuan perguruan tinggi bukan hanya tanggung jawab pimpinan dan sivitas akademika, melainkan juga membutuhkan kepedulian seluruh alumninya.
Almamater tidak hanya hidup dalam kenangan. Ia terus tumbuh melalui karya, pengabdian, dan kontribusi setiap generasi yang pernah menjadi bagian darinya.
From Maliki to the World: Reconnect, Inspire, Contribute.
Merajut kembali memori, mengukir sinergi, menjaga persaudaraan hari ini, esok, dan selamanya.
Seduluran sak Lawase.
***
Editor: YAN


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.