MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 dan Dies Natalis ke-65, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menerima penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dengan jumlah profesor bidang Bahasa Arab terbanyak di Indonesia. Sebuah capaian yang patut disyukuri. Saat ini, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki sebelas profesor bidang Bahasa Arab, sebuah kekuatan akademik yang tidak dimiliki perguruan tinggi lain di Indonesia dalam kategori tersebut.
Namun, ada hal menarik setelah piagam penghargaan itu saya unggah di grup WhatsApp. Beragam komentar bermunculan. Ada yang bernada apresiatif, ada pula yang menyampaikan kritik dan pertanyaan. Di antaranya, “Percoyo…”, “Di waktu yg tepat”, “UIN Maliki antitesa: idza katsura rakhusa”, “Gitu itu masih dalam kewajaran”, dan “Kan punya prodi doktoral pendidikan bahasa Arab…”.
Saya justru memandang beragam komentar tersebut sebagai sesuatu yang menarik. Sebuah prestasi memang layak dirayakan, tetapi juga pantas didiskusikan secara kritis. Sebab, penghargaan bukanlah garis finis yang menandai selesainya perjuangan. Ia justru bisa menjadi titik awal untuk menempuh tanggung jawab yang lebih besar. Kebanggaan perlu disertai keberanian untuk mengevaluasi diri.
Baca juga: Usia 65 UIN Maliki: Bahasa Arab Harus Bicara dengan Zaman
Dari kuantitas menuju kualitas
Memiliki sebelas profesor Bahasa Arab tentu merupakan kebanggaan bagi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Akan tetapi, kebanggaan itu tidak boleh berhenti pada angka dan piagam. Sebelas profesor bukan sekadar sebelas gelar akademik, melainkan sebelas pusat keunggulan keilmuan, sebelas sumber inspirasi bagi generasi muda, dan sebelas kekuatan potensial yang semestinya memberikan dampak nyata bagi perkembangan Bahasa Arab di Indonesia.
Di sinilah pertanyaan mendasar perlu diajukan: sejauh mana keberadaan para profesor tersebut telah memberikan manfaat bagi masyarakat? Apakah mereka telah menghasilkan karya-karya inovatif yang memudahkan masyarakat mempelajari Bahasa Arab? Apakah penelitian mereka telah berkontribusi terhadap pembaruan metode pembelajaran, pengembangan bahan ajar, dan peningkatan kompetensi guru Bahasa Arab? Ataukah gelar profesor justru berisiko menjadi puncak pencapaian pribadi yang membuat seseorang merasa cukup dengan apa yang telah diraih?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk mereduksi kebanggaan, apalagi meremehkan capaian akademik. Sebaliknya, pertanyaan tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap makna sesungguhnya dari jabatan profesor. Semakin tinggi kedudukan akademik seseorang, semakin besar pula tanggung jawab keilmuan dan sosial yang melekat padanya.
Membongkar mitos bahwa Bahasa Arab itu sulit
Salah satu tantangan besar pembelajaran Bahasa Arab di Indonesia adalah persepsi bahwa Bahasa Arab merupakan bahasa yang sulit dipelajari. Persepsi ini tidak sepenuhnya lahir tanpa alasan. Pengalaman belajar yang terlalu menekankan hafalan kaidah, analisis gramatikal, dan penguasaan teori tanpa penggunaan bahasa yang memadai dapat membuat pembelajaran terasa berat dan jauh dari kebutuhan nyata.
Di sinilah para profesor Bahasa Arab ditantang untuk menghadirkan pendekatan yang lebih efektif, komunikatif, kontekstual, dan menyenangkan. Mereka perlu membuktikan bahwa Bahasa Arab dapat dipelajari secara bertahap, sistematis, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Bahasa Arab tidak seharusnya hanya menjadi bahasa yang dipahami kaidahnya, tetapi juga bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi, mengakses ilmu pengetahuan, dan membangun hubungan dengan dunia internasional.
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki modal yang kuat untuk memimpin gerakan ini. Pengalaman pengembangan pembelajaran Bahasa Arab melalui program intensif dan lingkungan kebahasaan di kampus dapat menjadi sumber inovasi yang terus disempurnakan. Namun, keberhasilan sebuah model tidak cukup diukur dari seberapa lama program berlangsung atau seberapa banyak mahasiswa mengikutinya. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh kompetensi berbahasa mereka berkembang dan apakah pengalaman baik tersebut dapat direplikasi di lembaga pendidikan lain.
Para profesor perlu hadir sebagai pemecah masalah, bukan hanya penghasil teori. Mereka harus mampu menjembatani temuan penelitian dengan kebutuhan nyata guru, siswa madrasah, santri pesantren, mahasiswa, dan masyarakat luas.
Menghadapi kecerdasan buatan
Tantangan berikutnya datang dari perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Kini, berbagai pekerjaan kebahasaan dapat dibantu oleh AI: menyusun kalimat, menerjemahkan teks, memberikan harakat, membuat materi ajar, menyusun soal ujian, meringkas bacaan, hingga membantu menulis artikel berbahasa Arab.
Situasi ini menghadirkan pertanyaan serius: jika berbagai pekerjaan kebahasaan dapat dilakukan dengan bantuan AI, apa peran strategis guru dan profesor Bahasa Arab pada masa mendatang?
Tentu, jawabannya bukan dengan menolak teknologi. Justru para profesor harus menjadi kelompok terdepan dalam mengembangkan pemanfaatan AI untuk pembelajaran Bahasa Arab. Mereka perlu meneliti ketepatan hasil terjemahan, menguji kualitas teks yang dihasilkan, mengembangkan model pembelajaran berbantuan AI, serta merumuskan etika penggunaannya dalam pendidikan.
AI dapat menghasilkan teks, tetapi hasilnya tetap memerlukan pemeriksaan, penilaian kritis, dan pertimbangan pedagogis. AI dapat membantu menjelaskan kaidah, tetapi guru tetap berperan dalam memahami kesulitan peserta didik, membangun motivasi, dan membimbing proses belajar. Karena itu, tantangan profesor Bahasa Arab bukan sekadar menguasai teknologi, melainkan memastikan bahwa teknologi benar-benar meningkatkan kualitas pembelajaran.
Profesor yang relevan dengan zamannya bukanlah mereka yang merasa terancam oleh AI, melainkan mereka yang mampu menjadikan AI sebagai instrumen untuk melahirkan inovasi yang lebih bermakna.
Bahasa Arab dan kualitas keberagamaan
Ada satu tanggung jawab lain yang tidak kalah penting. Bahasa Arab memiliki kedudukan istimewa bagi umat Islam karena Allah memilihnya sebagai bahasa Al-Qur’an, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Yusuf ayat 2. Bahasa Arab juga merupakan bahasa yang digunakan Nabi Muhammad saw. dalam menyampaikan risalah Islam.
Secara linguistik, Bahasa Arab tentu memiliki karakteristik yang dapat dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di dunia. Namun, kedudukannya dalam memahami sumber utama ajaran Islam memberikan dimensi spiritual dan peradaban yang sangat penting bagi umat Islam.
Karena itu, para profesor Bahasa Arab di lingkungan perguruan tinggi Islam menghadapi pertanyaan yang lebih mendasar: apakah pengembangan ilmu Bahasa Arab turut meningkatkan kualitas pemahaman umat terhadap Al-Qur’an dan hadis? Apakah hasil penelitian mereka membantu masyarakat memahami pesan-pesan keislaman secara lebih tepat, mendalam, dan bertanggung jawab?
Tentu, peningkatan kualitas keberagamaan tidak dapat dibebankan hanya kepada pembelajaran Bahasa Arab. Ada banyak faktor yang memengaruhinya, termasuk pendidikan agama, lingkungan sosial, dan keteladanan. Namun, kemampuan memahami bahasa sumber ajaran Islam secara lebih baik merupakan salah satu pintu penting untuk memperdalam pemahaman tersebut.
Dengan demikian, keunggulan Bahasa Arab di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang semestinya tidak hanya tercermin dalam jumlah profesor dan publikasi ilmiah, tetapi juga dalam kontribusinya terhadap pengembangan literasi keislaman masyarakat.
Profesor harus terus bertumbuh
Tantangan terakhir adalah menjaga agar pencapaian sebagai profesor tidak menjadi alasan untuk berhenti belajar. Gelar guru besar bukanlah tanda bahwa seseorang telah selesai mengembangkan dirinya. Justru, jabatan itu menuntut produktivitas intelektual, keluasan wawasan, kolaborasi lintas disiplin, serta kesediaan untuk terus memperbarui pengetahuan dan kompetensi.
Para profesor perlu terus menghasilkan penelitian yang relevan, menerbitkan karya bermutu, membimbing generasi akademisi berikutnya, membangun jejaring internasional, dan berkontribusi dalam penyelesaian persoalan pendidikan Bahasa Arab. Mereka juga perlu berani mengevaluasi hasil kerjanya sendiri: apakah penelitian yang dilakukan menjawab persoalan nyata, apakah gagasan yang ditawarkan diterapkan, dan apakah manfaatnya dapat dirasakan di luar lingkungan kampus?
Rekor MURI semestinya menjadi momentum untuk membangun ekosistem keunggulan, bukan sekadar kebanggaan institusional. Sebelas profesor dapat menjadi kekuatan besar apabila gagasan dan keahlian mereka disinergikan dalam agenda bersama yang terukur dan berkelanjutan.
Sumpah Pemuda dan sumpah pengabdian keilmuan
Peringatan Dies Natalis ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ke-98 memberikan pesan simbolis yang kuat. Sumpah Pemuda mengajarkan persatuan dan tanggung jawab kebangsaan. Sementara itu, capaian akademik mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan harus diabdikan bagi kemajuan bangsa.
Maka, penghargaan MURI ini hendaknya menjadi cambuk bagi seluruh sivitas akademika, terutama sebelas profesor Bahasa Arab, untuk melangkah lebih jauh. Ukuran keberhasilan kita bukan semata-mata berapa banyak profesor yang dimiliki, melainkan seberapa besar manfaat ilmu mereka bagi masyarakat dan bangsa.
Kebanggaan adalah hak kita, tetapi pengabdian adalah kewajiban kita. Sebab, pada akhirnya, kemuliaan seorang profesor tidak hanya ditentukan oleh gelar yang disandangnya, tetapi juga oleh ilmu yang dikembangkan, perubahan yang dihasilkan, dan kemanfaatan yang ditinggalkannya.
Selamat Dies Natalis ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Semoga rekor MURI ini menjadi awal bagi lahirnya inovasi-inovasi besar dalam pengembangan Bahasa Arab, penguatan pendidikan Islam, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Wallahu A’lam.



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.