MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Enam puluh lima tahun perjalanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang merupakan momentum merayakan sejarah sekaligus refleksi. Di tengah perubahan lanskap pendidikan tinggi global, salah satu pertanyaan penting adalah “sejauh mana kurikulum bahasa Arab di UIN Maliki Malang telah siap internasionalisasi?” Pertanyaan ini tidak cukup dijawab melalui keberadaan kurikulum berbasis learning outcome, penggunaan teknologi digital, atau perluasan kerja sama internasional saja. Lebih mendasar dari itu, kita perlu menguji kemampuan kurikulum dalam mengenali perubahan, mengambil keputusan, melaksanakan inovasi, dan menghasilkan dampak yang relevan bagi masa depan.
Di sinilah pentingnya memahami fenomena curriculum time lag, yakni jeda waktu antara perubahan kebutuhan masyarakat dan kemampuan sistem kurikulum untuk meresponsnya. Dalam konteks pendidikan bahasa Arab, persoalannya bukan semata-mata apakah kurikulum telah berubah, melainkan apakah perubahan itu berlangsung cukup cepat, tepat, dan bermakna untuk menjawab tantangan zaman.
Jeda tersebut dapat dibaca melalui empat dimensi. Pertama, recognition time lag, yaitu keterlambatan mengenali perubahan. Ketika bahasa Arab masih dipahami terutama sebagai objek penguasaan tata bahasa, penerjemahan, dan pemahaman teks, kita berisiko mengabaikan potensinya sebagai bahasa ilmu pengetahuan, diplomasi, komunikasi lintas budaya, ekonomi halal, dan kolaborasi akademik global. Tantangannya bukan meninggalkan nahwu, sharaf, balaghah, atau khazanah keilmuan Islam, melainkan mengontekstualisasikannya agar tetap relevan dengan kebutuhan pembelajar dan perkembangan dunia.
Baca juga: UIN Malang Percepat Internasionalisasi Akademik, Gandeng Guru Besar Mesir Perkuat Kajian Bahasa Arab
Baca juga: Bahasa Arab, Nadi Keilmuan UIN Malang: Menjaga Warisan, Menghidupkan Keunggulan
Kedua, decision-making time lag, yaitu keterlambatan menerjemahkan kesadaran menjadi keputusan. Mengenali perubahan belum tentu diikuti keberanian untuk memperbarui capaian pembelajaran lulusan, struktur kurikulum, strategi pedagogis, sistem evaluasi, dan kemitraan internasional. Internasionalisasi tidak cukup diwujudkan melalui penambahan mata kuliah atau program pertukaran mahasiswa. Ia membutuhkan keputusan akademik yang memastikan kompetensi lulusan dapat diperbandingkan, diakui, dan dikembangkan dalam ekosistem pendidikan global.
Ketiga, implementation time lag, yaitu kesenjangan antara kebijakan dan praktik pembelajaran. Kurikulum yang progresif dapat kehilangan daya transformasinya ketika ruang kelas masih didominasi hafalan, reproduksi pengetahuan, dan evaluasi yang hanya mengukur kemampuan mengingat. Internasionalisasi menuntut pengalaman belajar yang mengembangkan literasi akademik, berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi lintas budaya, dan kemampuan menghasilkan karya. Teknologi digital dan kecerdasan artifisial perlu dimanfaatkan bukan sekadar untuk mempercepat penyampaian materi, tetapi untuk memperdalam pemahaman dan memperluas ruang penciptaan pengetahuan.
Keempat, impact time lag, yaitu jeda antara pelaksanaan perubahan dan munculnya dampak. Keberhasilan kurikulum tidak cukup diukur melalui kelengkapan dokumen atau jumlah program internasional. Kita perlu melihat apakah lulusan mampu berkomunikasi secara profesional, mengakses dan menghasilkan pengetahuan berbahasa Arab, membangun jejaring lintas negara, serta memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Dampak membutuhkan waktu, tetapi harus tetap direncanakan, dipantau, dan dievaluasi melalui indikator yang jelas.
Keempat dimensi tersebut memperoleh relevansi yang semakin kuat ketika dikaitkan dengan OECD Future of Education and Skills 2030, khususnya kerangka OECD Learning Compass 2030. Kerangka ini menekankan pentingnya agensi peserta didik, kolaborasi, kompetensi transformatif, dan kemampuan menghadapi ketidakpastian. Dalam perspektif ini, pembelajar bahasa Arab masa depan bukan sekadar individu yang menguasai sistem bahasa, melainkan subjek yang mampu menggunakan bahasa untuk berpikir, membangun pengetahuan, menciptakan nilai baru, dan mengambil tanggung jawab. Kurikulum perlu mempersiapkan mahasiswa bukan hanya untuk menghadapi dunia yang ada, tetapi juga untuk turut membentuk dunia yang akan datang.
Orientasi global tersebut sejalan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045, yang membutuhkan sumber daya manusia unggul, adaptif, produktif, dan berdaya saing. Pendidikan bahasa Arab dapat berkontribusi melalui penguatan diplomasi, studi kawasan, industri halal, penerjemahan, riset, dan kerja sama internasional. Dengan demikian, internasionalisasi bukan sekadar upaya mengikuti standar global, melainkan strategi untuk memperluas kontribusi Indonesia dalam percakapan keilmuan dan peradaban dunia.
Lebih jauh, arah perubahan ini perlu berlandaskan Sustainable Development Goals (SDGs). SDG 4 tentang pendidikan berkualitas menegaskan pentingnya pembelajaran yang relevan dan berkelanjutan. SDG 8 membuka keterkaitan dengan kesiapan kerja dan produktivitas, SDG 10 mengingatkan pentingnya mengurangi kesenjangan akses terhadap pengetahuan, sedangkan SDG 17 menekankan kemitraan untuk mencapai tujuan. Kurikulum bahasa Arab yang berorientasi keberlanjutan harus memperluas kesempatan belajar, memperkuat kapasitas manusia, dan menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan.
Pada Dies Maulidiyah ke-65 dan Lustrum XIII ini, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki peluang untuk menjadikan internasionalisasi kurikulum bahasa Arab sebagai bagian dari transformasi akademik yang lebih luas. Langkahnya dimulai dengan pemetaan kesenjangan kompetensi, peninjauan kurikulum berbasis bukti, penguatan kapasitas dosen, pembaruan pedagogi, pengembangan kemitraan internasional, dan evaluasi berbasis dampak. Semua itu perlu dilaksanakan tanpa kehilangan akar keilmuan Islam yang menjadi identitas institusi.
Enam puluh lima tahun perjalanan adalah modal sejarah; kesiapan menghadapi masa depan adalah tanggung jawab bersama. Sudah saatnya kita menembus jeda perubahan dan menjadikan kurikulum bahasa Arab sebagai jembatan antara tradisi dan inovasi, identitas dan keterbukaan, serta keunggulan lokal dan kontribusi global.



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.