Malang | JATIMSATUNEWS.COM: Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang, Dr. H. Shampton Masduki, S.Ag., mendorong santri dan pelajar untuk menghidupkan tradisi menulis sebagai bagian dari penguatan budaya literasi. Pesan tersebut disampaikan saat membuka Lomba Menulis Cerita Humor Santri yang digelar di MAN 2 Kota Malang.
Dalam sambutannya, pejabat yang akrab disapa Gus Shampton itu mengingatkan pentingnya tradisi menulis melalui ungkapan hikmah Islam, qayyidul ‘ilma bil kitab atau ikatlah ilmu dengan tulisan.
Menurutnya, kejayaan keilmuan Islam, termasuk di Nusantara, tidak terlepas dari peran para ulama yang mendokumentasikan pemikiran dan pengetahuannya melalui karya tulis. Bahkan, karya ulama Nusantara seperti Syekh Nawawi Banten menjadi rujukan pembelajaran hingga ke berbagai perguruan tinggi di luar negeri.
“Nusantara dahulu sangat dikenal di seantero dunia berkat kedalaman ilmu dan kitab-kitab karya ulamanya. Tulisan karya ulama kita, seperti Syekh Nawawi Banten, bahkan dipelajari hingga kampus-kampus luar negeri. Dulu ulama-ulama kita menjadi rujukan pengajar di Masjidil Haram berkat otoritas keilmuan dan karya tulisnya,” jelas Gus Shampton di hadapan pengasuh ma’had, guru, dan santri MAN 2 Kota Malang.
Ia menambahkan, keberlangsungan khazanah keilmuan Islam selama berabad-abad juga ditopang tradisi pencatatan dan dokumentasi yang kuat. Melalui tulisan, pemikiran, ajaran, serta periwayatan ilmu dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Terkait lomba cerita humor santri, Gus Shampton menilai humor memiliki kedekatan dengan kehidupan pesantren. Guyonan tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga dapat menjadi media menyampaikan nasihat, mencairkan suasana, hingga menyikapi persoalan dengan cara yang lebih bijaksana.
“Santri itu kaya dengan humor. Banyak persoalan rumit bisa terselesaikan dengan guyon yang sarat makna. Potensi ini menjadi sarana yang sangat menarik bila diasah ke dalam karya tulisan yang bernas,” tuturnya.
Gus Shampton juga mengingatkan para ustaz dan pembina madrasah maupun ma’had agar aktif mendampingi proses kreatif santri. Pembimbingan, verifikasi, dan koreksi tulisan diperlukan agar pesan yang disampaikan tidak menimbulkan kesalahpahaman atau mengubah makna ilmu.
“Jangan sampai kesalahan penulisan membuat makna ilmu bergeser. Melalui gelaran literasi dan lomba menulis ini, kita dorong madrasah dan pesantren di Kota Malang menjadi pelopor lahirnya penulis andal. Pesantren harus terus makmur dan menonjol karena karya intelektual serta keilmuannya,” tegasnya.
Pembukaan lomba ditandai dengan pembacaan Ummul Qur’an Surat Al-Fatihah secara bersama-sama. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan buku hasil karya tulis santri.
(Ans)


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.