MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Ada yang berbeda dalam Haul Mergosono ke-13 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah (PPSS) Nurul Huda, Jalan Kolonel Sugiono Gang 3B, Kota Malang, Ahad (27/9/2026) lalu.
Di tengah rangkaian doa dan tausiyah, kisah tentang sosok Abah KH Ahmad Masduqi Mahfudz dan Umik Nyai Hj. Chasinah Chamzawi kembali menghidupkan kenangan para santri dan alumni.
Bukan sekadar kisah tentang seorang ulama dan istrinya. Cerita yang disampaikan keluarga dan putra-putra beliau menghadirkan gambaran tentang kasih sayang kepada santri, kedisiplinan, kecintaan terhadap ilmu, hingga doa yang terus dipanjatkan untuk para santri bahkan menjelang akhir hayat.Baca juga: Baca juga: Hadir Haul Mergosono ke-13, Kepala MAN 2 Kota Malang H Samsudin Sampaikan Bukan Sekadar Mengenang
Haul Mergosono ke-13 menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini. Ratusan santri dan alumni hadir, seolah kembali pulang kepada orang tua yang pernah mendidik dan membimbing mereka.
Umik Tetap Mengingat Santri di Pengujung Kehidupan
Salah satu kisah paling menyentuh disampaikan Gus Shampton dalam sambutannya pada acara Temu Alumni Haul Mergosono ke-13.
Ia mengisahkan kondisi Umik Chasinah menjelang wafat. Saat itu, kondisi kesehatan Umik sudah menurun akibat tumor otak yang memengaruhi kesadarannya. Namun ada satu hal yang menurut Gus Shampton tidak pernah dilupakan Umik.
Yakni mendoakan para santri.
“Umik jelang dipanggil. Sholatnya kurang sempurna, karena tumor di otaknya berkurang kesadaran. Satu hal yang Umik tidak pernah lupa adalah mendoakan njenengan semua,” tutur Gus Shampton di hadapan para alumni.
Setiap kali masuk waktu salat, Umik masih mengingat kewajibannya.
“Aku wayahe sholat,” demikian yang disampaikan Gus Shampton menggambarkan ucapan Umik.
Setelah salat, lanjutnya, Umik kembali mendoakan para santri.
“Karena santri-santri itu anakku. Karena itu adalah amanat Gusti Allah,” tutur Gus Shampton.
Bagi Gus Shampton, sikap tersebut merupakan salah satu keteladanan yang paling sulit untuk ditiru.
Kasih sayang Umik kepada santri tidak berhenti ketika para santri telah meninggalkan pesantren. Bahkan ketika kondisi fisiknya sudah melemah, doa untuk mereka tetap menjadi bagian dari kehidupannya.
Ratusan Alumni, Bukti Kesetiaan kepada Guru
Temu alumni menjadi salah satu bagian yang memperkuat suasana haru Haul Mergosono ke-13.
Ratusan alumni dan santri hadir dari berbagai daerah. Kehadiran mereka, menurut Gus Shampton, merupakan bentuk hubungan batin yang tetap terjaga antara guru dan murid.
“Alhamdulillah saya mengapresiasi, berterima kasih. Ini bagian dari bukti kesetiaan dari anak kepada orang tuanya, karena Abah menganggap santri-santri itu adalah anak kedua. Alhamdulillah mereka hari ini bisa hadir,” ujarnya seusai acara inti.
Ia berharap hubungan tersebut tidak berhenti pada kegiatan haul, tetapi terus menjadi mata rantai yang menghubungkan alumni dengan ajaran dan keteladanan Abah.
Pesannya sederhana: melestarikan ajaran Abah, terutama kedisiplinan dalam berjamaah dan memperbanyak sholawat.
“Yang penting tetap melestarikan ajaran Abah, disiplin berjamaah dan sholawat,” pesannya.
Lampu Merah dan Teguran Abah
Selain kisah tentang Umik, Gus Shampton juga menceritakan bagaimana kedisiplinan Abah KH Ahmad Masduqi Mahfudz membentuk karakter anak-anaknya dan para santri.
Ia mengenang sebuah kejadian ketika dirinya pernah menerobos lampu merah.
“Saya pernah menerobos lampu merah. Lampu merah itu saya terabas,” kenangnya.
Namun tindakan tersebut langsung mendapat teguran dari Abah.
“Lampu abang kok mbok trabas ae,” demikian teguran Abah.
Ketika dijawab, teguran berikutnya justru lebih dalam.
“Imanmu ora jangkep.”
Bagi Gus Shampton, teguran sederhana itu bukan hanya soal aturan lalu lintas. Abah mengajarkan bahwa kedisiplinan merupakan bagian dari iman dan harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.
“Itu yang sama-sama kita contoh, kita jadikan teladan,” ujarnya.
Datang Jam 06.00, Demi Santri Menyerap Ilmu
Kisah lain menunjukkan besarnya kecintaan KH Ahmad Masduqi Mahfudz terhadap ilmu dan pendidikan.
Gus Shampton menceritakan, ketika Abah menjadi dosen, beliau bahkan datang pada jam ke-0 sekitar pukul 06.00 pagi.
Datang lebih awal bukan karena mengejar tambahan penghasilan. Menurut Gus Shampton, saat itu kehadiran lebih awal tersebut dilakukan agar para santri dan mahasiswa dapat memperoleh kesempatan menyerap ilmu secara maksimal.
Bahkan, waktu tambahan tersebut tidak mendapatkan bayaran.
Kisah tersebut menjadi gambaran bagaimana bagi KH Ahmad Masduqi Mahfudz, mendidik bukan sekadar profesi, tetapi bentuk pengabdian.Gus Niam: Jangan Hanya Bangga Menjadi Keturunan atau Alumni
Kisah tentang Abah juga disampaikan Dr. dr. Moh. S. Niam, M.Kes., mewakili keluarga, dalam sambutan pada acara inti haul.
Ia mengingatkan para keturunan dan alumni agar tidak berhenti pada kebanggaan memiliki hubungan dengan KH Ahmad Masduqi Mahfudz.
Menurutnya, yang lebih penting adalah meneruskan nilai perjuangan dan kemanfaatan yang telah diwariskan.
“Jangan hanya bangga menjadi keturunan atau alumni Abah Masduqi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana meneruskan perjuangan beliau di mana pun kita berada, dengan menghadirkan kemanfaatan bagi umat,” tutur dr. Niam.
Ia juga menceritakan sisi lain dari kepribadian KH Ahmad Masduqi Mahfudz.
Suatu ketika, beliau menyiapkan pompa air untuk mengantisipasi jika sumur di musala mengalami kerusakan. Ketika pompa tersebut hendak dipinjam dan orang yang meminjam menyampaikannya dengan nada marah, KH Ahmad Masduqi Mahfudz justru merespons dengan senyum.
Tidak ada kemarahan yang dibalas dengan kemarahan.
Sebuah tindakan sederhana, tetapi memperlihatkan keluasan hati dan kemampuan mengendalikan emosi.
Keluarga juga mengenang kehati-hatian KH Ahmad Masduqi Mahfudz dalam urusan harta. Sebagai seorang PNS, beliau sangat berhati-hati terhadap penghasilan yang diterima dengan mempertimbangkan aspek halal dan syubhat.
Nilai tersebut menjadi bagian dari warisan moral yang terus dikenang keluarga dan alumni.
Hubungan Guru dan Murid Harus Terus Tersambung
Ketua MUI Kota Malang, KH Isyroqun Bajaj Ahmad, yang merupakan kakak Gus Shampton, juga memberikan pandangannya mengenai pentingnya tradisi haul dan hubungan antara guru dengan murid.
Menurutnya, penghormatan kepada guru merupakan bagian penting dalam tradisi keilmuan Islam.
Ia menilai, tradisi haul juga memiliki fungsi untuk memastikan hubungan antara alumni dengan guru dan pesantren tetap terjaga.
“Tradisi haul memastikan hubungan alumni tetap berjalan. Kebanggaan hubungan dengan guru-guru terus tersambung,” ujarnya.
Ia juga berpesan agar hubungan tersebut diteruskan kepada generasi berikutnya.
Bagi keluarga yang memiliki anak atau cucu usia SMP dan SMA, ia mengajak untuk mempertimbangkan pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Huda.
“Monggo disekolahkan di Nurul Huda ini,” pesannya.
Haul yang Menghidupkan Warisan Abah dan Umik
Haul Mergosono ke-13 digelar dalam suasana khidmat dan dihadiri alumni, santri, keluarga besar pesantren, serta masyarakat dari berbagai daera
Rangkaian kegiatan diisi pembacaan Surat Yasin oleh Dr. KH Zainur Rauf, M.H.I., tahlil yang dipimpin KH Nur Ali Fauzi, serta doa bersama.
Haul juga menjadi momentum mengenang sejumlah tokoh yang telah wafat, yakni Almaghfurlah KH Ahmad Masduqi Mahfudz, Almaghfurlaha Nyai Hj. Chasinah Chamzawi, Almaghfurlaha Nyai Hj. Qibtiyah Zaini, Almaghfurlah KH Mustofa Rodhi, dan Almaghfurlaha Ning Ivada El Ummah.
Puncak kegiatan diisi Mauidhoh Hasanah oleh KH Agoes Ali Masyhuri, Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Sholawat Sidoarjo.
Jamaah diajak memperbanyak cinta kepada para ulama dan orang-orang saleh sekaligus meneladani amal dan perjuangan mereka.
Pada akhirnya, kisah Gus Niam dan Gus Shampton tentang Abah dan Umik memberikan satu pesan kuat: hubungan guru dan santri tidak berhenti ketika seorang guru telah wafat.
Ia terus hidup melalui doa, ilmu, kedisiplinan, akhlak, silaturahmi, dan amal yang diteruskan oleh para murid.
Abah menganggap santri sebagai anak kedua.
Umik tetap mendoakan santri bahkan ketika kesadarannya mulai menurun.
Dan para alumni, puluhan tahun kemudian, kembali berkumpul untuk menunjukkan bahwa kasih sayang dan ilmu yang pernah diberikan ternyata tidak pernah benar-benar hilang.
Haul Mergosono ke-13 pun menjadi bukan sekadar peringatan kematian, melainkan perayaan atas ilmu, kasih sayang, keteladanan, dan mata rantai perjuangan yang terus hidup dari generasi ke generasi.







Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.