MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Potensi singkong di Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, mulai diarahkan menjadi peluang usaha bernilai tambah. Tim dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang bersama Pemerintah Desa Sumberpetung dan Pemerintah Kecamatan Kalipare mengembangkan olahan tepung Modified Cassava Flour (Mocaf) melalui program pengabdian masyarakat yang menyasar kader UMKM dan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
Program yang berawal dari kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) tersebut diarahkan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah singkong menjadi tepung mocaf dan beragam produk pangan. Tidak berhenti pada penguasaan teknik produksi, pendampingan juga dirancang untuk membuka peluang usaha melalui pengembangan produk, pengemasan, hingga pemasaran digital.
Camat Kalipare menyambut positif inisiatif tersebut. Menurutnya, kondisi wilayah Kalipare memiliki potensi pertanian yang mendukung pengembangan singkong sebagai bahan baku mocaf. Jika dikelola secara serius, komoditas ini berpeluang menjadi alternatif penggerak ekonomi masyarakat.
Baca juga: FTAB UB dan BRIN Teken Kerja Sama Pengembangan Material Fungsional Berkelanjutan
“Sebenarnya wilayah Kalipare ini sangat cocok untuk tanaman tebu dan singkong. Kalau potensi pengolahan mocaf ini diseriusi, saya yakin hasilnya bisa lebih bagus daripada tebu dan dapat menjadi alternatif pendorong ekonomi warga,” ujarnya saat berdiskusi dengan tim pengabdi UIN Malang dan perangkat desa.
Ia juga menilai mocaf memiliki prospek sebagai alternatif bahan pangan berbasis sumber daya lokal. Selain dikenal sebagai tepung bebas gluten, pemanfaatannya diharapkan dapat memperluas diversifikasi pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap tepung terigu impor.
Meski memiliki potensi bahan baku dan dukungan kondisi alam untuk pengeringan singkong, pengembangan mocaf di Kalipare tetap menghadapi tantangan. Sebagian lahan pertanian warga telah beralih ke komoditas tebu sehingga ketersediaan singkong perlu diperhitungkan untuk memenuhi kebutuhan produksi. Karena itu, kemitraan pasokan bahan baku lokal menjadi salah satu strategi yang disiapkan agar kegiatan usaha dapat berjalan secara berkelanjutan.
Perwakilan tim pengabdi UIN Malang menjelaskan bahwa pendampingan dirancang untuk memperkuat rantai produksi dari hulu hingga hilir. Setelah masyarakat mengenal teknologi dasar pembuatan tepung mocaf, program lanjutan akan diarahkan pada diversifikasi produk pangan, pengemasan, dan pemasaran berbasis digital.
“Kami merencanakan pelatihan lanjutan untuk pengolahan mocaf menjadi berbagai kue dan jajanan sehat. Setelah warga mahir membuat tepung dan olahannya, kami dampingi dalam pembuatan kemasan yang menarik serta pemasaran digital agar produk ini memiliki daya saing hingga luar daerah,” ungkap perwakilan akademisi UIN Malang.
Pemerintah Desa Sumberpetung turut menyambut baik pola pendampingan yang menitikberatkan pada keterampilan praktis tersebut. Produk turunan mocaf, seperti kue kering, brownies, dan jajanan tradisional, diharapkan tidak hanya dimanfaatkan untuk konsumsi rumah tangga, tetapi juga dikembangkan menjadi produk usaha kelompok PKK dan UMKM desa.
Melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan kelompok masyarakat, pengembangan mocaf di Sumberpetung diarahkan menjadi model pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal. Jika pendampingan produksi, ketersediaan bahan baku, dan akses pasar dapat berjalan beriringan, singkong tidak hanya menjadi hasil pertanian, tetapi juga sumber nilai tambah bagi perekonomian desa.



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.