Langsung ke konten
Sabtu, 31 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

Kepala Kemenag Kota Malang Gus Shampton Dorong Santri Jadi Penulis Andal: Humor Pesantren Dinilai Bisa Menjadi Media Dakwah dan Literasi

Shampton Masduki, S.Ag., mendorong para santri dan pelajar untuk terus menghidupkan tradisi menulis sebagai bagian penting dalam menjaga serta mengembangkan

Gus Shampton dan Peserta Workshop dan Lomba Menulis Humor

Gus Shampton dan Peserta Workshop dan Lomba Menulis Humor (Foto: Dok.pri Anis Hidayatie)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang, Dr. H. Shampton Masduki, S.Ag., mendorong para santri dan pelajar untuk terus menghidupkan tradisi menulis sebagai bagian penting dalam menjaga serta mengembangkan khazanah keilmuan Islam. Menurutnya, budaya literasi harus menjadi kekuatan utama madrasah dan pesantren dalam melahirkan generasi intelektual yang mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Gus Shampton, sapaan akrabnya, saat membuka Lomba Menulis Cerita Humor Santri yang dipusatkan di MAN 2 Kota Malang. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya mendorong kreativitas santri sekaligus memperkuat budaya literasi di lingkungan pendidikan Islam.

Dalam arahannya, Gus Shampton mengingatkan kembali sebuah ungkapan hikmah dalam tradisi keilmuan Islam, qayyidul ‘ilma bil kitab (ikatlah ilmu dengan tulisan). Ungkapan tersebut, menurutnya, mengandung pesan penting bahwa ilmu pengetahuan perlu didokumentasikan agar dapat diwariskan, dipelajari, dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.

Baca juga: Kepala Kemenag Kota Malang Gus Shampton Ajak Lawan Narasi Pesantren Negatif Pada Peserta Lomba Menulis Cerita Santri di MAN 2 Kota Malang dengan Karya

Baca juga: Kepala Kemenag Kota Malang Gus Shampton Singgung Trans7 saat Apresiasi Lomba Menulis Cerita Santri di MAN 2 Kota Malang

Ia mencontohkan kejayaan ulama Nusantara yang dikenal luas hingga tingkat internasional berkat kedalaman ilmu dan karya tulis mereka. Salah satunya adalah Syekh Nawawi Banten, yang karya-karyanya menjadi rujukan pembelajaran Islam, termasuk di berbagai lembaga pendidikan luar negeri.

”Nusantara dahulu sangat dikenal di seantero dunia berkat kedalaman ilmu dan kitab-kitab karya ulamanya. Tulisan karya ulama kita, seperti Syekh Nawawi Banten, bahkan dipelajari hingga kampus-kampus luar negeri. Dulu ulama-ulama kita menjadi rujukan pengajar di Masjidil Haram berkat otoritas keilmuan dan karya tulisnya,” jelas Gus Shampton di hadapan para pengasuh ma’had, guru, serta santri MAN 2 Kota Malang.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa keberlangsungan khazanah pemikiran Islam selama berabad-abad tidak terlepas dari tradisi pencatatan dan pembukuan ilmu yang dilakukan secara sistematis. Termasuk di dalamnya pemikiran Mazhab Syafi'i maupun periwayatan hadis yang bersumber dari para sahabat Nabi Muhammad SAW.

Melalui tradisi menulis, ilmu tidak hanya tersimpan dalam ingatan seseorang, tetapi juga dapat diwariskan secara lebih terstruktur dan dipelajari lintas generasi.

Humor Santri, Kreativitas yang Bisa Menjadi Media Dakwah

Secara khusus, Gus Shampton memberikan perhatian terhadap tema lomba, yakni cerita humor santri. Menurutnya, humor merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan pesantren. Tradisi guyonan di kalangan santri bahkan kerap menjadi cara cerdas untuk menyampaikan nasihat, mencairkan suasana, dan menyelesaikan persoalan tanpa harus menimbulkan ketegangan.

Ia menilai, humor yang dibangun dengan kecerdasan, kepekaan sosial, dan pesan moral dapat menjadi karya literasi yang menarik sekaligus memiliki nilai edukasi.

”Santri itu kaya dengan humor. Banyak persoalan rumit bisa terselesaikan dengan guyon yang sarat makna. Potensi ini menjadi sarana yang sangat menarik bila diasah ke dalam karya tulisan yang bernas,” tuturnya.

Karena itu, lomba menulis cerita humor santri dinilai bukan sekadar ajang mengasah kemampuan merangkai kata atau menghadirkan kelucuan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi santri untuk menuangkan pengalaman, mengembangkan kreativitas, serta menyampaikan nilai-nilai kehidupan melalui pendekatan yang ringan dan menghibur.

Iklan

Humor yang baik juga membutuhkan kecermatan dalam memilih kata, membangun alur cerita, serta menghadirkan punchline atau bagian akhir yang memberikan kejutan sekaligus meninggalkan kesan bagi pembaca.

Guru dan Pembina Punya Peran Penting dalam Menjaga Kualitas Tulisan

Di sisi lain, Gus Shampton mengingatkan pentingnya keterlibatan para ustaz, guru, dan pembina dalam mendampingi proses kreatif santri. Pendampingan tersebut diperlukan agar setiap karya yang dihasilkan tidak hanya menarik dari sisi bahasa, tetapi juga benar dari segi makna dan substansi.

Ia meminta para pembina untuk melakukan bimbingan, verifikasi, serta koreksi secara teliti terhadap tulisan para santri. Sebab, kesalahan dalam penggunaan kata maupun penulisan istilah tertentu berpotensi mengubah makna ilmu yang ingin disampaikan.

”Jangan sampai kesalahan penulisan membuat makna ilmu bergeser. Melalui gelaran literasi dan lomba menulis ini, kita dorong madrasah dan pesantren di Kota Malang menjadi pelopor lahirnya penulis andal. Pesantren harus terus makmur dan menonjol karena karya intelektual serta keilmuannya,” tegasnya.

Menurutnya, pesantren tidak hanya memiliki tanggung jawab mencetak generasi yang kuat dalam pemahaman agama, tetapi juga harus mampu melahirkan karya-karya intelektual yang dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Pembukaan lomba secara resmi diawali dengan pembacaan Ummul Qur’an, Surat Al-Fatihah, secara bersama-sama. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan buku hasil karya tulis santri sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan produktivitas literasi di lingkungan madrasah.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan semakin banyak santri yang berani menuangkan gagasan dan pengalaman ke dalam tulisan. Dengan demikian, tradisi literasi pesantren tidak hanya terjaga, tetapi juga terus berkembang mengikuti tantangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal yang menjadi identitas santri.

SEO Keywords: Gus Shampton Masduki, Kemenag Kota Malang, lomba menulis humor santri, MAN 2 Kota Malang, literasi pesantren, budaya menulis santri, pendidikan Islam, cerita humor santri.

Meta Description: Gus Shampton Masduki dorong santri MAN 2 Kota Malang menghidupkan tradisi menulis melalui lomba cerita humor santri dan penguatan literasi pesantren. ANS

Peserta praktik menulis

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang, Dr. H. Shampton Masduki, S.Ag., mendorong para santri dan pelajar untuk terus menghidupkan tradisi menulis sebagai bagian penting dalam menjaga serta mengembangkan khazanah keilmuan Islam. Menurutnya, budaya literasi harus menjadi kekuatan utama madrasah dan pesantren dalam melahirkan generasi intelektual yang mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Gus Shampton, sapaan akrabnya, saat membuka Lomba Menulis Cerita Humor Santri yang dipusatkan di MAN 2 Kota Malang. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya mendorong kreativitas santri sekaligus memperkuat budaya literasi di lingkungan pendidikan Islam.

Iklan

Dalam arahannya, Gus Shampton mengingatkan kembali sebuah ungkapan hikmah dalam tradisi keilmuan Islam, qayyidul ‘ilma bil kitab (ikatlah ilmu dengan tulisan). Ungkapan tersebut, menurutnya, mengandung pesan penting bahwa ilmu pengetahuan perlu didokumentasikan agar dapat diwariskan, dipelajari, dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.

Ia mencontohkan kejayaan ulama Nusantara yang dikenal luas hingga tingkat internasional berkat kedalaman ilmu dan karya tulis mereka. Salah satunya adalah Syekh Nawawi Banten, yang karya-karyanya menjadi rujukan pembelajaran Islam, termasuk di berbagai lembaga pendidikan luar negeri.

”Nusantara dahulu sangat dikenal di seantero dunia berkat kedalaman ilmu dan kitab-kitab karya ulamanya. Tulisan karya ulama kita, seperti Syekh Nawawi Banten, bahkan dipelajari hingga kampus-kampus luar negeri. Dulu ulama-ulama kita menjadi rujukan pengajar di Masjidil Haram berkat otoritas keilmuan dan karya tulisnya,” jelas Gus Shampton di hadapan para pengasuh ma’had, guru, serta santri MAN 2 Kota Malang.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa keberlangsungan khazanah pemikiran Islam selama berabad-abad tidak terlepas dari tradisi pencatatan dan pembukuan ilmu yang dilakukan secara sistematis. Termasuk di dalamnya pemikiran Mazhab Syafi'i maupun periwayatan hadis yang bersumber dari para sahabat Nabi Muhammad SAW.

Melalui tradisi menulis, ilmu tidak hanya tersimpan dalam ingatan seseorang, tetapi juga dapat diwariskan secara lebih terstruktur dan dipelajari lintas generasi.

Humor Santri, Kreativitas yang Bisa Menjadi Media Dakwah

Secara khusus, Gus Shampton memberikan perhatian terhadap tema lomba, yakni cerita humor santri. Menurutnya, humor merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan pesantren. Tradisi guyonan di kalangan santri bahkan kerap menjadi cara cerdas untuk menyampaikan nasihat, mencairkan suasana, dan menyelesaikan persoalan tanpa harus menimbulkan ketegangan.

Ia menilai, humor yang dibangun dengan kecerdasan, kepekaan sosial, dan pesan moral dapat menjadi karya literasi yang menarik sekaligus memiliki nilai edukasi.

”Santri itu kaya dengan humor. Banyak persoalan rumit bisa terselesaikan dengan guyon yang sarat makna. Potensi ini menjadi sarana yang sangat menarik bila diasah ke dalam karya tulisan yang bernas,” tuturnya.

Karena itu, lomba menulis cerita humor santri dinilai bukan sekadar ajang mengasah kemampuan merangkai kata atau menghadirkan kelucuan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi santri untuk menuangkan pengalaman, mengembangkan kreativitas, serta menyampaikan nilai-nilai kehidupan melalui pendekatan yang ringan dan menghibur.

Humor yang baik juga membutuhkan kecermatan dalam memilih kata, membangun alur cerita, serta menghadirkan punchline atau bagian akhir yang memberikan kejutan sekaligus meninggalkan kesan bagi pembaca.

Guru dan Pembina Punya Peran Penting dalam Menjaga Kualitas Tulisan

Di sisi lain, Gus Shampton mengingatkan pentingnya keterlibatan para ustaz, guru, dan pembina dalam mendampingi proses kreatif santri. Pendampingan tersebut diperlukan agar setiap karya yang dihasilkan tidak hanya menarik dari sisi bahasa, tetapi juga benar dari segi makna dan substansi.

Iklan

Ia meminta para pembina untuk melakukan bimbingan, verifikasi, serta koreksi secara teliti terhadap tulisan para santri. Sebab, kesalahan dalam penggunaan kata maupun penulisan istilah tertentu berpotensi mengubah makna ilmu yang ingin disampaikan.

”Jangan sampai kesalahan penulisan membuat makna ilmu bergeser. Melalui gelaran literasi dan lomba menulis ini, kita dorong madrasah dan pesantren di Kota Malang menjadi pelopor lahirnya penulis andal. Pesantren harus terus makmur dan menonjol karena karya intelektual serta keilmuannya,” tegasnya.

Menurutnya, pesantren tidak hanya memiliki tanggung jawab mencetak generasi yang kuat dalam pemahaman agama, tetapi juga harus mampu melahirkan karya-karya intelektual yang dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Pembukaan lomba secara resmi diawali dengan pembacaan Ummul Qur’an, Surat Al-Fatihah, secara bersama-sama. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan buku hasil karya tulis santri sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan produktivitas literasi di lingkungan madrasah.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan semakin banyak santri yang berani menuangkan gagasan dan pengalaman ke dalam tulisan. Dengan demikian, tradisi literasi pesantren tidak hanya terjaga, tetapi juga terus berkembang mengikuti tantangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal yang menjadi identitas santri.

SEO Keywords: Gus Shampton Masduki, Kemenag Kota Malang, lomba menulis humor santri, MAN 2 Kota Malang, literasi pesantren, budaya menulis santri, pendidikan Islam, cerita humor santri.

Meta Description: Gus Shampton Masduki dorong santri MAN 2 Kota Malang menghidupkan tradisi menulis melalui lomba cerita humor santri dan penguatan literasi pesantren. ANS

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.