Langsung ke konten
Sabtu, 19 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Nasional

Kepala Kemenag Kota Malang Gus Shampton Singgung Trans7 saat Apresiasi Lomba Menulis Cerita Santri di MAN 2 Kota Malang

Kepala Kemenag Kota Malang Gus Shampton Singgung Trans7 saat Apresiasi Lomba Menulis Cerita Santri di MAN 2 Kota Malang

MALANG — Lantai 4 Gedung Olimpiade MAN 2 Kota Malang, Rabu (29/10/2025), terasa hangat dan penuh semangat dengan berlangsungnya Acara Apresiasi Pemenang Lomba Menulis Cerita Santri 2025 bertajuk “Santri Indonesia Berbudi Bahasa Mulia.” Kegiatan yang diikuti sekitar 60 peserta dari 44 lembaga pesantren dan madrasah ini menjadi momentum penting dalam menghidupkan kembali budaya literasi di kalangan santri Kota Malang.

Acara dibuka dengan  pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Minhaju Dikri Anik , dilanjutkan menyanyikan Indonesia Raya dipimpin Tri Susanti Indriani , dan dipandu oleh Anis Hidayatie .

Dalam sambutannya, Kepala MAN 2 Kota Malang, Dr. H. Samsudin, M.Pd. , menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya lomba tersebut.

“Kegiatan ini merupakan kesempatan emas bagi para santri untuk berkreasi. Santri tidak hanya dituntut fasih dalam ilmu agama, tetapi juga harus mampu menulis dan berkarya. Literasi adalah jalan menuju peradaban,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Kemenag Kota Malang, Gus H. Achmad Shampton, S.HI., M.Ag. , dalam pelatihannya memberi pemberitaan salah satu stasiun televisi nasional, Trans7, yang sempat menampilkan narasi negatif tentang dunia pesantren. Ia menegaskan bahwa santri harus melawan pemberitaan seperti itu dengan karya, bukan dengan kemarahan.

“Menulis adalah budaya para ulama kita. Dahulu mereka menyampaikan pesan dakwah dan ilmu melalui tulisan, yang kemudian menjadi buku-buku besar yang kita warisi sampai hari ini,” ujar Gus Shampton.

“Kegiatan positif seperti lomba menulis ini harus terus diberitakan dan di- branding dengan baik, agar masyarakat luas memiliki pilihan berita yang positif tentang pesantren. Jangan biarkan pihak lain menulis cerita kita secara keliru — tulislah kisahmu sendiri dengan pena dan kejujuran,” tegasnya disambut tepuk tangan peserta.

Gus Shampton juga menambahkan bahwa tulisan memiliki kekuatan yang melampaui waktu.

“Suatu saat kita akan meninggalkan dunia ini, tetapi tulisan kita akan tetap hidup dan dikenang. Oleh karena itu, khasanah menulis harus terus dipertahankan,” pesannya.

Ia pun menutup pelatihannya dengan mengutip pesan Imam Al-Ghazali,

“Kalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.”

 Melalui kegiatan ini, Kemenag Kota Malang berharap semangat literasi dapat menjadi perlawanan terhadap sifat pemberitaan yang tidak adil tentang pesantren. Dunia pesantren diharapkan semakin produktif menulis dan menyebarkan narasi kebaikan.

“Tulisan adalah bentuk dakwah yang halus namun kuat. Dari pena santri, lahirlah peradaban yang mencerahkan,” pungkas Gus Shampton.

Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan penyerahan buku ber-ISBN karya Enny Wahyuni, M.Pd. , guru Bahasa Indonesia MAN 2 Kota Malang, kepada Kepala Madrasah sebagai simbol penguatan budaya literasi di lingkungan pendidikan.

Iklan

Momen berikutnya diisi oleh Gus Bayhaqi Kadmi , Ketua Dewan Juri, yang membedah karya para peserta dengan penuh semangat. Dalam penilaiannya, Gus Bayhaqi menekankan pentingnya orisinalitas , sudut pandang cerita (angle) , dan gaya bahasa yang hidup .

“Penulis yang hebat lahir dari pembaca yang baik. Banyak naskah yang sudah menunjukkan kekuatan cerita dan kedalaman rasa. Dari 60 naskah yang masuk, beberapa di antaranya sangat kuat, menyentuh, dan jujur ​​dari hati seorang santri,” ungkapnya.

Ia menambahkan, tulisan yang baik bukan hanya indah, tetapi juga menggugah dan membawa pembaca pada nilai-nilai kemanusiaan.

Acara puncak berlangsung meriah saat pengumuman dan penyerahan hadiah kepada enam pemenang terbaik , disertai pemutaran video profil karya mereka. Para pemenang menerima trofi, sertifikat, hadiah tunai, dan kaos sponsor dari panitia.

Turut menghadirkan sejumlah tokoh pendidikan dan perwakilan pesantren di Kota Malang, yang memberikan dukungan atas inisiatif Kemenag dan MAN 2 Kota Malang dalam mengembangkan budaya literasi santri.

Acara ditutup dengan doa oleh Miftachul Ula, BISS., M.Ag. , serta foto bersama seluruh peserta dan panitia sebagai simbol kebersamaan dan semangat berkarya.

Komentar Pembaca

Kolom komentar untuk artikel ini sudah ditutup.