MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Evaluasi Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) FTIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tidak hanya diarahkan untuk meninjau pelaksanaan kegiatan, tetapi juga menjadi ruang menyatukan persepsi dan memperkuat karakter panitia. Penekanan tersebut disampaikan Dekan FTIK UIN Malang, Prof. Dr. H. Muhammad Walid, MA., dalam evaluasi PBAK 2026 di Aula Microteaching Lantai 2, Jumat (18/9/2026).
Dalam arahannya, Prof. Walid menekankan pentingnya kesamaan persepsi seluruh panitia dalam menjalankan setiap tahapan kegiatan. Menurutnya, kesamaan arah diperlukan agar koordinasi, pembagian tanggung jawab, dan kerja sama antarpanitia dapat berjalan secara lebih terarah.
“Setiap kegiatan bukan sekadar menyelesaikan agenda, tetapi menjadi ruang untuk belajar, berkolaborasi, dan membangun karakter. Karena itu, seluruh panitia perlu menyatukan persepsi dan menunjukkan nilai-nilai Ulul Albab dalam setiap pelaksanaan kegiatan,” ujar Prof. Walid.
Pesan tersebut menempatkan kepanitiaan PBAK bukan sekadar sebagai pekerjaan teknis. Keterlibatan mahasiswa dalam merancang, mengoordinasikan, melaksanakan, hingga mengevaluasi kegiatan menjadi bagian dari proses belajar di luar ruang kelas.
Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa berhadapan langsung dengan berbagai aspek pengelolaan kegiatan, mulai dari komunikasi antarpanitia, pembagian tugas, penyelesaian persoalan, hingga pengambilan keputusan. Proses itu sekaligus menjadi ruang untuk melatih kepemimpinan, kerja sama, dan tanggung jawab.
Kesamaan persepsi dalam kepanitiaan tidak berarti menghilangkan perbedaan latar belakang, pengalaman, maupun cara berpikir. Sebaliknya, perbedaan tersebut perlu diarahkan pada tujuan yang sama agar setiap unsur dapat menjalankan perannya secara optimal.
Dalam konteks PBAK, proses tersebut memiliki relevansi tersendiri. PBAK menjadi salah satu pintu awal mahasiswa untuk mengenal budaya akademik dan kehidupan kemahasiswaan di perguruan tinggi. Namun, nilai pembelajaran tidak hanya diperoleh mahasiswa yang menjadi peserta. Mahasiswa yang terlibat sebagai panitia juga memperoleh pengalaman menghadapi dinamika organisasi secara langsung.
Karena itu, evaluasi PBAK 2026 tidak berhenti pada pertanyaan apakah seluruh rangkaian kegiatan telah terlaksana. Evaluasi juga menjadi ruang untuk membaca proses yang telah berjalan, mengidentifikasi hal-hal yang perlu diperbaiki, dan memastikan nilai yang ingin dibangun benar-benar hadir dalam pelaksanaan kegiatan.
Penguatan nilai Ulul Albab dalam proses tersebut menempatkan kegiatan kemahasiswaan sebagai bagian dari pembentukan karakter mahasiswa FTIK UIN Malang. Kesamaan persepsi, koordinasi, kekompakan, dan tanggung jawab diharapkan tidak hanya menjadi kebutuhan teknis kepanitiaan, tetapi juga menjadi pengalaman yang membentuk cara mahasiswa bekerja dan menjalankan amanah organisasi.
Dengan demikian, evaluasi PBAK menjadi bagian dari proses perbaikan berkelanjutan. Kegiatan yang telah selesai tidak hanya meninggalkan catatan pelaksanaan, tetapi juga menjadi bahan pembelajaran untuk membangun penyelenggaraan kegiatan kemahasiswaan yang semakin terarah dan selaras dengan karakter Ulul Albab.



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.