Langsung ke konten
Jumat, 18 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Internasional

Sulap Jelantah Jadi Sabun, Inovasi Dosen UB dan PCIM Thailand Sasar Pelajar Nonthaburi

THAILAND | JATIMSATUNEWS.COM: Langkah nyata dalam mengimplementasikan Tridharma Perguruan Tinggi di kancah global kembali ditunjukkan oleh Universitas

Tim dosen dari Universitas Brawijaya saat memberikan pemaparan materi dan berinteraksi dengan para siswi di Thammislam Foundation School, Nonthaburi, Thailand.

Tim dosen dari Universitas Brawijaya saat memberikan pemaparan materi dan berinteraksi dengan para siswi di Thammislam Foundation School, Nonthaburi, Thailand.

THAILAND | JATIMSATUNEWS.COM: Langkah nyata dalam mengimplementasikan Tridharma Perguruan Tinggi di kancah global kembali ditunjukkan oleh Universitas Brawijaya (UB). Melalui kolaborasi antara Departemen Teknik Biosistem, Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) dengan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Thailand, tim dosen UB sukses menggelar kegiatan pengabdian masyarakat internasional di Thammislam Foundation School, Nonthaburi, pada 2 September 2026.

Mengusung tema “Recycling Waste Cooking Oil into Soap and Candles”, program ini berfokus pada inovasi pemanfaatan limbah rumah tangga berupa minyak jelantah untuk diolah menjadi produk bernilai guna seperti sabun dan lilin. Kegiatan strategis tersebut diketuai langsung oleh Dr.Eng. Akhmad Adi Sulianto, STP., MT., M.Si., didampingi oleh Dr.Agr.Sc. Dimas Firmanda Al Riza, ST., M.Sc. sebagai anggota tim.

Pelaksanaan acara ini juga difasilitasi penuh oleh Bachtiar Rivai dan Nabil selaku perwakilan PCIM Thailand, yang sukses menjembatani sinergi dengan pihak sekolah hingga menuai sambutan antusias dari puluhan guru beserta siswa.

Baca juga: Wartawan Jatimsatunews Dinyatakan Kompeten di UKW Jenjang Muda 2026

Baca juga: Pengabdian 4.144 Mahasiswa KKN UMM 2026 dan KKN MAs se-Indonesia: Menggerakkan Inovasi Desa Melalui Syiar Muhammadiyah

Iklan

Dalam praktiknya di lapangan, tim UB tidak sekadar memaparkan teori, melainkan mengedukasi peserta mengenai ancaman serius dari limbah minyak goreng yang dibuang sembarangan ke tanah maupun saluran air.

Limbah tersebut dijelaskan dapat memicu penyumbatan, pencemaran ekosistem air, hingga peningkatan emisi gas rumah kaca. Sesi kemudian berlanjut pada demonstrasi pembuatan sabun cair, sabun padat, dan lilin aromaterapi, di mana para peserta diajak mempraktikkan langsung teknik penyaringan, penjernihan dengan adsorben alami, proses saponifikasi, hingga pencampuran pewarna dan esens.

Guna menjaga keberlanjutan program, pihak UB juga menyerahkan paket peralatan dan bahan dasar agar sekolah dapat mengembangkannya menjadi program kewirausahaan mandiri.

Menanggapi antusiasme peserta, Dr. Akhmad Adi Sulianto menegaskan bahwa isu minyak jelantah merupakan persoalan universal yang kerap berujung di tempat pembuangan karena dianggap tidak lagi memiliki nilai. Menurutnya, limbah tersebut sejatinya dapat diubah menjadi produk higienis dan bermanfaat melalui sentuhan teknologi tepat guna yang tergolong sederhana.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan dua hal sekaligus. Pertama, kesadaran lingkungan untuk tidak membuang minyak jelantah sembarangan. Kedua, semangat kewirausahaan hijau," ungkap Dr. Akhmad. Lebih lanjut ia berharap para siswa mampu bertransformasi menjadi agen perubahan ekonomi sirkular yang cakap mengolah sampah dapur menjadi peluang usaha. Ia menambahkan bahwa hal tersebut sejalan dengan mandat Departemen Teknik Biosistem dalam meramu rekayasa proses yang solutif, murah, dan mudah diaplikasikan oleh siapa saja.
Apresiasi tinggi pun mengalir dari pihak PCIM Thailand. Bachtiar Rivai menyampaikan rasa terima kasihnya atas ilmu bermanfaat yang dibagikan oleh tim UB, yang dinilai sangat selaras dengan misi dakwah pemberdayaan Muhammadiyah di luar negeri. Ia menuturkan bahwa materi daur ulang ini sangat praktis untuk segera dipraktikkan oleh para siswa. “Kami berharap ini bukan menjadi kegiatan yang pertama dan terakhir. Ini adalah awal yang baik untuk membangun jembatan kolaborasi yang lebih luas antara UB dan PCIM Thailand. Masih banyak potensi pengabdian lain yang bisa kita kembangkan bersama, terutama yang berkaitan dengan teknologi pertanian, energi terbarukan, dan pemberdayaan UMKM binaan PCIM di sini,” tegas Bachtiar.
Program kolaboratif lintas negara ini sekaligus menjadi wujud nyata kontribusi perguruan tinggi terhadap pencapaian *Sustainable Development Goals* (SDGs). Langkah ini tercatat secara langsung mendukung SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 8 terkait Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta manifestasi dari SDG 17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Melalui dedikasi ini, Universitas Brawijaya terus memantapkan langkahnya sebagai World Class University yang berdaya saing dan memberikan solusi nyata bagi masyarakat global.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.