Langsung ke konten
Jumat, 30 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Kolom

Bangga Menjadi Bagian dari UIN Maliki Malang: Mengapresiasi Sebuah Perjalanan Besar

Saya melihat UIN Maliki Malang sedang menjalani sebuah perjalanan besar. Ada banyak perubahan, peningkatan, dan capaian yang patut kita apresiasi.

Prof. Dr. Fauzan Zenrif

Prof. Dr. Fauzan Zenrif (Foto: Dok.pri Prof. Dr. Fauzan Zenrif)

JATIMSATUNEWS.COM: Menjadi bagian dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang merupakan kebanggaan tersendiri. Sebuah universitas tidak tumbuh dan berkembang dalam satu malam. Di balik setiap kemajuan terdapat perjalanan panjang, kerja keras, pengorbanan, pemikiran, dan komitmen banyak orang. Apa yang hari ini dapat kita saksikan sebagai sebuah prestasi merupakan hasil dari ikhtiar bersama yang terus dirawat, dikembangkan, dan disempurnakan dari waktu ke waktu.

Saya melihat UIN Maliki Malang sedang menjalani sebuah perjalanan besar. Ada banyak perubahan, peningkatan, dan capaian yang patut kita apresiasi. Universitas ini terus berusaha memperkuat reputasi, meningkatkan mutu akademik, mengembangkan tata kelola kelembagaan, memperluas jejaring internasional, serta membangun berbagai inovasi untuk masa depan. Semua itu merupakan alasan yang cukup bagi kita untuk menumbuhkan rasa bangga sekaligus memperkuat komitmen untuk ikut membesarkannya.

Sebuah universitas tidak tumbuh dengan sendirinya. Di balik setiap capaian terdapat perencanaan, keputusan, kerja keras, koordinasi, pengorbanan, dan komitmen banyak orang. Ada pimpinan yang menentukan arah, ada jajaran manajemen yang menerjemahkan kebijakan, ada dosen yang menjaga tradisi akademik, ada tenaga kependidikan yang memastikan pelayanan berjalan, ada mahasiswa yang membawa nama universitas melalui berbagai prestasi, serta alumni dan mitra yang turut memperluas pengaruh dan reputasi institusi.

Baca juga: Usia 65 UIN Maliki: Bahasa Arab Harus Bicara dengan Zaman

Baca juga: Dari Kampus Sederhana ke Panggung Dunia: Ujian Sesungguhnya UIN Maliki Malang di Usia 65 Tahun

Karena itu, keberhasilan UIN Maliki Malang bukan semata-mata cerita tentang seorang rektor atau satu periode kepemimpinan. Ia adalah cerita tentang perjalanan kolektif sebuah universitas yang dibangun oleh banyak generasi.

Menengok perjalanan, merayakan pencapaian

Jika kita menengok perjalanan UIN Maliki Malang, kita akan menemukan sebuah transformasi yang luar biasa. Kampus yang sekarang dikenal sebagai universitas Islam negeri dengan reputasi nasional dan internasional ini memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Setiap fase telah memberikan kontribusi penting bagi pembentukan identitas dan kemajuan institusi.

Saya ingin memulai dari masa kepemimpinan Prof. Dr. H. Imam Suprayogo ketika masih berstatus STAIN Malang. Pada masa inilah fondasi transformasi besar universitas mulai dibangun secara sistematis. STAIN Malang tidak hanya diarahkan untuk berkembang sebagai sekolah tinggi agama Islam, tetapi mulai memiliki cita-cita besar menjadi universitas Islam yang unggul.

Perubahan itu bukan pekerjaan sederhana. Dibutuhkan keberanian untuk merumuskan visi, membangun sumber daya manusia, memperluas jaringan kerja sama, mengembangkan sarana dan prasarana, serta merancang model pendidikan tinggi Islam yang memiliki karakter tersendiri.

Salah satu warisan penting periode ini adalah pengembangan Ma’had Sunan Ampel Al-Aly. Pembangunannya dimulai pada 4 April 1999 dan mulai dioperasikan pada 26 Agustus 2000. Kehadiran Ma’had menjadi bagian penting dari identitas UIN Maliki Malang, yakni mengintegrasikan tradisi akademik perguruan tinggi dengan tradisi pendidikan pesantren. Gagasan integrasi keilmuan dan pembentukan karakter Ulul Albab juga menjadi fondasi filosofis pengembangan universitas.

Transformasi kelembagaan berlangsung melalui fase STAIN Malang, Universitas Islam Indonesia Sudan (UIIS) pada 2002, hingga menjadi UIN Malang pada 2004. Perjalanan ini kemudian dilanjutkan dengan penguatan kelembagaan, pengembangan kampus, dan identitas universitas yang semakin matang hingga periode kepemimpinan Prof. Imam berakhir pada 2013.

Setelah itu, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si. pada periode 2013–2017. Masa ini menjadi bagian dari proses melanjutkan dan memperkuat fondasi yang telah dibangun sebelumnya. Penguatan tradisi akademik, pengembangan sumber daya manusia, serta perluasan bidang keilmuan menjadi bagian dari perjalanan universitas. Salah satu agenda pengembangan yang penting adalah keberlanjutan rencana pendirian Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan yang telah dirintis pada masa sebelumnya dan kemudian memperoleh perkembangan kelembagaan.

Berikutnya, kepemimpinan dilanjutkan oleh Prof. Dr. H. Abd. Haris, M.Ag. pada periode 2017–2021. Pada fase ini, universitas terus bergerak memperkuat tata kelola, kualitas sumber daya manusia, pengembangan akademik, dan infrastruktur. Pembangunan serta pengembangan Kampus III juga menjadi bagian dari kesinambungan agenda pengembangan universitas.

Periode berikutnya dipimpin oleh Prof. Dr. H. M. Zainuddin, M.A. pada 2021–2025. Salah satu orientasi penting pada masa ini adalah mendorong pengakuan internasional dan memperkuat daya saing universitas. Pengembangan riset, publikasi ilmiah, kerja sama internasional, penguatan mutu akademik, dan berbagai indikator reputasi perguruan tinggi menjadi bagian dari agenda yang terus diperjuangkan.

Memasuki 2025, kepemimpinan universitas dilanjutkan oleh Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., untuk periode 2025–2029. Kehadiran beliau juga mencatat sejarah tersendiri sebagai rektor perempuan pertama dalam perjalanan UIN Maliki Malang. Dengan pengalaman panjang dalam pengelolaan universitas, khususnya bidang administrasi umum, perencanaan, dan keuangan, beliau membawa harapan baru untuk melanjutkan sekaligus mengembangkan berbagai agenda strategis universitas.

Iklan

Dalam kepemimpinan sekarang, penguatan universitas integratif, pengembangan reputasi internasional, peningkatan mutu akademik, penguatan riset, dan transformasi tata kelola menjadi bagian dari agenda besar yang terus diupayakan.

Jika kita melihat perjalanan tersebut, kita akan menyadari bahwa UIN Maliki Malang tidak dibangun oleh satu periode kepemimpinan saja. Ia merupakan hasil dari kesinambungan visi, gagasan, keputusan, dan kerja keras dari setiap generasi kepemimpinan.

Setiap etape kepemimpinan adalah kepingan puzzle yang saling melengkapi

Ada satu hal yang menurut saya penting untuk kita pahami dalam melihat perjalanan sebuah universitas: setiap etape kepemimpinan merupakan bagian dari rangkaian sejarah yang saling berhubungan dan saling melengkapi.

Setiap periode kepemimpinan memiliki tantangan, prioritas, karakter, strategi, dan kontribusinya masing-masing. Ada masa ketika perhatian utama diarahkan pada pembangunan fondasi kelembagaan. Ada masa ketika pengembangan sarana dan prasarana menjadi prioritas. Ada pula masa ketika penguatan mutu akademik, internasionalisasi, transformasi digital, riset, dan inovasi menjadi agenda utama.

Saya membayangkan perjalanan ini seperti sebuah puzzle besar. Setiap kepemimpinan membawa kepingan dengan bentuk dan karakter yang berbeda. Kepingan pertama meletakkan fondasi, kepingan berikutnya memperkuat bangunan, kepingan selanjutnya memperluas jangkauan, dan kepingan-kepingan berikutnya menyempurnakan gambaran besar universitas.

Kita tidak mungkin memahami keutuhan gambar hanya dengan melihat satu kepingan. Demikian pula, kita tidak dapat memahami kebesaran UIN Maliki Malang hanya dengan melihat satu periode kepemimpinan.

Prof. Imam Suprayogo telah memberikan fondasi transformasi dan identitas kelembagaan yang sangat penting. Prof. Mudjia Rahardjo melanjutkan penguatan tradisi akademik. Prof. Abd. Haris meneruskan pengembangan kelembagaan dan tata kelola. Prof. M. Zainuddin memperkuat orientasi pengakuan internasional. Sementara Prof. Ilfi Nur Diana melanjutkan perjalanan tersebut dengan berbagai agenda pengembangan dan penguatan universitas integratif.

Tentu saja, penyebutan kontribusi tersebut bukan berarti membatasi jasa setiap pemimpin hanya pada satu bidang. Setiap periode memiliki banyak dimensi kerja dan kontribusi yang saling berkelindan. Namun, melihat perjalanan melalui penekanan masing-masing periode membantu kita memahami bagaimana sebuah institusi terus bertumbuh.

Tidak ada satu kepemimpinan pun yang berdiri sepenuhnya sendiri. Apa yang dikerjakan oleh kepemimpinan sebelumnya menjadi fondasi bagi kepemimpinan berikutnya. Berbagai capaian pada masa sekarang merupakan kelanjutan dari ikhtiar yang telah dirintis sebelumnya, sekaligus menjadi pijakan bagi kepemimpinan yang akan datang.

Karena itu, kita perlu membangun tradisi untuk menghargai setiap etape perjalanan tersebut. Kepemimpinan sebelumnya layak mendapatkan apresiasi atas fondasi dan warisan yang telah diletakkan. Kepemimpinan sekarang layak mendapatkan apresiasi atas berbagai inovasi, keputusan, dan capaian yang sedang dihasilkan. Sementara itu, kepemimpinan mendatang akan memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan, mengembangkan, dan menyempurnakan apa yang telah diwariskan.

Kita boleh memiliki kebanggaan terhadap capaian kepemimpinan hari ini tanpa harus melupakan jasa kepemimpinan sebelumnya. Kita juga dapat menghargai sejarah tanpa kehilangan antusiasme terhadap inovasi dan perubahan yang sedang berlangsung.

Kepemimpinan boleh berganti, tetapi ikhtiar membesarkan universitas harus terus berlanjut. Setiap kepemimpinan bukan untuk memulai semuanya dari awal, melainkan melanjutkan, menyempurnakan, dan melengkapi puzzle besar peradaban akademik UIN Maliki Malang.

Mengapresiasi kerja keras, membangun kebanggaan bersama

Saya percaya bahwa memberikan apresiasi merupakan bagian penting dari budaya akademik dan organisasi. Apresiasi bukan sekadar ungkapan terima kasih, melainkan pengakuan bahwa kerja keras seseorang dan sebuah tim memiliki arti bagi kemajuan bersama.

Iklan

Kita perlu membangun tradisi untuk melihat keberhasilan dengan pikiran terbuka dan hati yang lapang. Ketika ada kemajuan, kita rayakan. Ketika ada prestasi, kita berikan penghargaan. Ketika ada orang yang bekerja keras, kita akui kontribusinya. Ketika ada gagasan baik, kita dukung agar berkembang menjadi program yang bermanfaat.

Budaya apresiasi akan melahirkan energi positif. Orang merasa pekerjaannya bermakna, tim merasa dihargai, dan seluruh warga institusi memiliki alasan untuk terus memberikan kontribusi terbaik.

Saya kira, salah satu modal terbesar UIN Maliki Malang bukan hanya gedung, fasilitas, sistem, atau reputasi akademiknya, tetapi juga manusia-manusia yang bekerja dengan dedikasi di dalamnya. Mereka adalah kekuatan yang memungkinkan semua rencana dan cita-cita universitas diwujudkan.

Oleh karena itu, kebanggaan terhadap universitas perlu dibangun melalui penghargaan terhadap setiap kontribusi. Tidak harus selalu berupa penghargaan formal. Pengakuan, kepercayaan, kesempatan untuk berkembang, dan suasana kerja yang saling menghormati juga merupakan bentuk apresiasi yang sangat berarti. Semakin kuat budaya apresiasi, semakin besar peluang kita membangun lingkungan akademik yang produktif, kolaboratif, dan membanggakan.

Prestasi adalah energi untuk melangkah lebih jauh

Setiap capaian seharusnya menjadi sumber optimisme untuk melangkah ke masa depan. Kita tidak perlu berhenti untuk sekadar menikmati keberhasilan yang sudah diraih. Kita justru perlu menjadikannya energi untuk membangun capaian yang lebih besar. Jika kita melihat capaian UIN Maliki Malang beberapa tahun terakhir, terdapat banyak perkembangan yang patut disyukuri.

Pada periode 2020–2021, UIN Maliki Malang mencatat sejumlah penghargaan dalam bidang kinerja Badan Layanan Umum dan pengembangan internasionalisasi melalui keberadaan mahasiswa asing.

Pada periode 2021–2023, penguatan mutu kelembagaan semakin berkembang melalui sertifikasi ISO 9001:2015, pengakuan dalam pemeringkatan GreenMetric, sertifikasi IQA, AUN-QA, serta pengembangan akreditasi internasional sejumlah program studi.

Tahun 2024 menjadi salah satu momentum penting ketika UIN Maliki Malang tercatat sebagai PTKIN peringkat pertama versi UniRank. Pada tahun yang sama, mahasiswa membukukan 191 prestasi di tingkat provinsi, nasional, dan internasional.

Memasuki 2025, penguatan tata kelola dan kinerja kelembagaan terus dilakukan. Salah satu indikatornya adalah peningkatan nilai Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA) semester pertama menjadi 93,40, dibandingkan 83,08 pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Perjalanan tersebut berlanjut pada 2026. Dalam refleksi satu tahun pengabdian pimpinan universitas, berbagai capaian kembali dipaparkan. Produktivitas penelitian meningkat dari 120 judul pada 2025 menjadi 285 judul pada 2026. Prestasi mahasiswa mencapai 591 penghargaan pada tingkat internasional, nasional, dan provinsi. Sebanyak 129 mahasiswa juga memperoleh sertifikasi kompetensi yang diakui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Pada momentum Lustrum XIII, universitas juga memaparkan perkembangan akreditasi program studi yang mencapai 82 persen berstatus unggul. Di tingkat internasional, UIN Maliki Malang menempati peringkat ketujuh nasional dan peringkat kedua PTKIN dalam Times Higher Education World University Rankings 2026. Sementara itu, dalam kategori Innovation Rank SCImago Institutions Rankings 2026, UIN Maliki Malang menempati posisi ketiga di antara PTKIN.

Semua capaian tersebut patut kita syukuri dan apresiasi. Angka-angka itu bukan sekadar statistik, melainkan gambaran tentang kerja keras, konsistensi, dan semangat untuk membawa universitas ini semakin kompetitif.

Kita juga perlu memahami bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari proses panjang. Ada fondasi yang telah dibangun, kebijakan yang diteruskan, program yang dikembangkan, dan kerja kolektif yang terus diperkuat. Inilah alasan mengapa setiap prestasi seharusnya menjadi kebanggaan bersama.

Iklan

Visi universitas integratif, penguatan reputasi internasional, peningkatan mutu akademik, pengembangan riset, internasionalisasi, transformasi digital, dan penguatan tata kelola merupakan agenda besar yang membutuhkan dukungan seluruh sivitas akademika.

Kita semua memiliki peran. Dosen dapat memperkuat produktivitas dan kualitas penelitian, mengembangkan keilmuan, serta memperluas jejaring akademik. Tenaga kependidikan dapat terus meningkatkan profesionalitas dan kualitas pelayanan. Mahasiswa dapat mengembangkan kompetensi, kreativitas, dan prestasi. Alumni dapat memperluas kontribusi dan jejaring universitas. Pimpinan dan jajaran manajemen dapat menjaga konsistensi arah kebijakan serta memastikan seluruh potensi universitas bergerak dalam satu visi. Tidak ada kontribusi yang terlalu kecil ketika semuanya diarahkan untuk tujuan besar yang sama.

Menjadi bagian dari cerita besar UIN Maliki Malang

Pada akhirnya, saya ingin mengajak seluruh warga UIN Maliki Malang untuk terus menjaga optimisme dan memberikan dukungan terhadap setiap ikhtiar kemajuan universitas.

Kita tidak harus selalu berada pada posisi yang sama untuk memiliki tujuan yang sama. Kita tidak harus mengerjakan hal yang sama untuk memberikan kontribusi yang sama pentingnya. Kita juga tidak harus selalu memiliki cara pandang yang identik untuk dapat bekerja bersama. Yang kita perlukan adalah kesediaan untuk saling menghargai, saling menguatkan, dan menjaga semangat kolektif dalam membesarkan institusi.

Saya bangga melihat berbagai capaian yang telah diraih UIN Maliki Malang. Saya menghargai kerja keras pimpinan dan seluruh jajaran manajemen, para dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta semua pihak yang telah ikut membangun reputasi universitas ini.

Saya juga percaya bahwa setiap orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan universitas ini telah meninggalkan kontribusinya masing-masing. Ada yang meletakkan fondasi, ada yang memperkuat bangunan, ada yang memperluas jangkauan, ada yang menghadirkan inovasi, dan ada pula yang sedang mempersiapkan lompatan berikutnya. Semua memiliki tempat dalam sejarah besar universitas.

Perjalanan tentu masih panjang. Masih banyak cita-cita yang perlu diwujudkan dan kesempatan yang perlu dikembangkan. Namun, kita memiliki alasan yang kuat untuk optimistis. Kita memiliki pengalaman, modal kelembagaan, sumber daya manusia, dan semangat kebersamaan untuk terus bergerak maju.

Mari terus merawat prestasi, menghargai setiap kontribusi, menjaga kesinambungan kepemimpinan, memperkuat kolaborasi, dan membangun kebanggaan sebagai bagian dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sebab, universitas yang besar bukan hanya dibangun oleh mereka yang sedang memimpin, tetapi oleh seluruh generasi yang pernah, sedang, dan akan terus berkontribusi untuk membesarkannya.

Bangga menjadi bagian dari UIN Maliki Malang. Bangga dengan perjalanan yang telah dilalui. Bangga dengan capaian yang sedang diraih. Dan optimistis terhadap masa depan yang akan kita bangun bersama. (Ans)

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.