Penulis: Prof. Dr. H. Baharuddin Amaq Abdillah, M.Pd.
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Pada usia ke-65 tahun UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, ada satu pertanyaan penting yang patut direnungkan oleh setiap insan pendidikan: masihkah pendidik memiliki peran strategis ketika teknologi mampu menyediakan hampir seluruh informasi dan pengetahuan yang dibutuhkan manusia?
Jika selama menjalankan profesi sebagai ustaz, mu’addib, guru, dosen, atau bahkan profesor, kita hanya menempatkan diri sebagai penyampai ilmu pengetahuan, suatu saat peran itu akan semakin mudah tergantikan. Google dan Artificial Intelligence (AI) mampu menyajikan informasi dengan cepat, luas, dan canggih. Dalam hal akses pengetahuan, manusia bahkan tidak selalu lebih unggul daripada teknologi.
Namun, ceritanya akan berbeda ketika kita hadir sebagai pendidik sekaligus murabbi sejati. Pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari pikiran pengajar ke pikiran peserta didik. Pendidikan adalah proses membentuk adab, karakter, iman, dan akhlak. Di dalamnya ada keteladanan, sentuhan kemanusiaan, doa, serta nilai-nilai religius yang tumbuh melalui hubungan antara pendidik dan peserta didik.
Baca juga: Fakultas Syariah UIN Malang Bekali Tendik dan Sekprodi dengan Pelatihan Artificial Intelligence
Baca juga: Peningkatan Kepatuhan Pajak dengan Artificial Intelligence : Akankah Keberadaan Fiskus Terancam?
Teknologi dapat memberikan jawaban, tetapi tidak memiliki nurani untuk menimbang makna dan tanggung jawab moral di balik sebuah keputusan. AI dapat menyajikan pengetahuan, tetapi pembentukan kepribadian membutuhkan pendampingan, keteladanan, dan keterlibatan manusia. Di sinilah peran pendidik menemukan relevansinya: bukan sekadar membuat peserta didik tahu, melainkan membantu mereka tumbuh menjadi manusia yang berilmu sekaligus berkarakter.
Karena itu, kehadiran Google dan AI semestinya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai instrumen yang harus digunakan secara tepat. Persoalan utamanya bukan sekadar apakah seseorang mampu mengoperasikan teknologi, tetapi apakah ia memiliki arah, tujuan, dan kemampuan berpikir untuk memanfaatkan informasi secara bertanggung jawab.
Penggunaan teknologi menuntut kemampuan menemukan, memilah, menata, menganalisis, dan menyajikan informasi. Proses tersebut membutuhkan pola pikir yang sistematis, analitis, kritis, dan reflektif. Maka, tugas penting seorang maha guru atau pendidik bukan lagi mendominasi penyampaian informasi, melainkan melatih peserta didik agar mampu mengolah pengetahuan, menguji kebenaran informasi, menghubungkan berbagai perspektif, dan menemukan solusi atas persoalan yang dihadapi.
Peserta didik tidak boleh berhenti pada kemampuan memperoleh jawaban dari AI. Mereka harus dibimbing untuk mempertanyakan jawaban tersebut: apakah benar, apakah relevan, apa dasar argumentasinya, dan bagaimana konsekuensinya jika diterapkan dalam kehidupan nyata? Sebab, kecanggihan teknologi tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan. Informasi yang melimpah juga tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman berpikir.
Lebih dari itu, pendidikan harus melahirkan pembelajar mandiri (independent learner). Melalui pendampingan yang tepat, guru membantu peserta didik membangun rasa ingin tahu, mengembangkan inisiatif, dan memiliki tanggung jawab atas proses belajarnya sendiri. Mereka tidak terus-menerus bergantung pada penjelasan guru, apalagi sepenuhnya menyerahkan proses berpikir kepada mesin.
Namun, kemandirian belajar tidak berarti berjalan sendirian. Pendidikan juga harus menumbuhkan kemampuan berkolaborasi dan bekerja sama dalam tim. Interaksi sosial menjadi ruang penting untuk melatih empati, menghargai perbedaan, membangun komunikasi, serta mengembangkan keterampilan interpersonal. Pengalaman belajar bersama manusia lain juga mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak cukup dijalani melalui layar gawai (screen time) dan interaksi digital.
Pada akhirnya, tantangan pendidikan di era AI bukanlah berlomba dengan mesin dalam hal kecepatan mengakses informasi atau kecanggihan mengolah data. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan teknologi tetap berada dalam kendali nilai-nilai kemanusiaan. Kita membutuhkan generasi yang cakap menggunakan teknologi, tetapi tidak kehilangan nalar kritis, kepekaan sosial, adab, dan tanggung jawab moral.
Inilah momentum refleksi 65 tahun UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Perguruan tinggi Islam harus terus memperkuat perannya bukan hanya sebagai tempat mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan manusia beradab. Sebab, ketika teknologi semakin mampu menjawab pertanyaan, pendidik justru dituntut semakin mampu menuntun manusia menemukan makna, menentukan arah, dan mengambil keputusan secara bijaksana.
Ilmu pengetahuan dapat diakses melalui teknologi, tetapi kebijaksanaan, keteladanan, dan pembentukan adab harus terus dihidupkan melalui pendidikan. Di situlah pendidik akan selalu dibutuhkan.



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.