Langsung ke konten
Kamis, 29 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Nasional

Riset Psikologi UM: Tangguh Secara Akademik Belum Tentu Kebal dari Dampak Perundungan

Dokumentasi Kegiatan Mahasiswa Dalam Riset Tangguh Secara Akademik Belum Tentu Kebal dari Dampak Perundungan

Dokumentasi Kegiatan Mahasiswa Dalam Riset Tangguh Secara Akademik Belum Tentu Kebal dari Dampak Perundungan (Foto: Dok. Penulis)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Isu kesehatan mental mahasiswa menjadi perhatian penting dalam dunia pendidikan tinggi. Tekanan akademik, pengalaman perundungan (bullying), serta kemampuan individu untuk bangkit menghadapi kesulitan merupakan sejumlah faktor yang perlu dikaji untuk memahami kesejahteraan psikologis mahasiswa. Berangkat dari isu tersebut, Rizka Fibria Nugrahani, S.Psi., M.Si., dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang (UM), sedang melaksanakan penelitian berjudul “Beyond Academic Resilience: Bullying Experiences as a Moderator of Suicidal Tendencies Among University Students.”

Penelitian ini melibatkan 388 mahasiswa program sarjana (S1) di Indonesia sebagai responden. Penelitian berfokus pada hubungan antara ketahanan akademik (academic resilience), pengalaman perundungan (bullying experiences), dan kecenderungan bunuh diri (suicidal tendencies) pada mahasiswa. Secara khusus, penelitian ini mengkaji apakah pengalaman perundungan berperan sebagai variabel moderator dalam hubungan antara ketahanan akademik dan kecenderungan bunuh diri.

Ketahanan akademik merupakan kemampuan mahasiswa untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit ketika menghadapi tantangan dalam proses pembelajaran. Kemampuan ini penting dalam membantu mahasiswa menghadapi tuntutan perkuliahan, kegagalan akademik, tekanan penyelesaian tugas, maupun berbagai hambatan selama menjalani pendidikan tinggi. Namun, ketahanan akademik tidak dapat dipandang sebagai satu-satunya faktor yang menentukan kondisi psikologis mahasiswa.

Pengalaman perundungan dapat menjadi faktor sosial yang turut memengaruhi kesejahteraan psikologis. Perundungan, baik dalam bentuk verbal, relasional, fisik, maupun melalui media digital, berpotensi menimbulkan tekanan emosional dan mengganggu rasa aman serta keterhubungan sosial mahasiswa. Oleh karena itu, penelitian ini menempatkan pengalaman perundungan sebagai faktor yang perlu diperhatikan untuk memahami bagaimana ketahanan akademik berkaitan dengan kecenderungan bunuh diri.

Melalui pendekatan tersebut, penelitian ini tidak hanya berfokus pada kemampuan individu dalam menghadapi tekanan akademik, tetapi juga mempertimbangkan lingkungan sosial yang melingkupi kehidupan mahasiswa. Perspektif ini penting karena mahasiswa yang memiliki kemampuan bertahan dalam bidang akademik tetap dapat menghadapi kerentanan psikologis ketika mengalami tekanan interpersonal atau perundungan.

Baca juga: Magister Sains Psikologi Universitas Brawijaya Sambut Mahasiswa Baru untuk Dorong Riset Berdampak

Baca juga: Pengabdian Masyarakat Dosen Psikologi UM dan UPDN Nganjuk: Edukasi Pergaulan Sehat dan Literasi Digital Remaja

Menghubungkan Ketahanan Akademik dengan Kesehatan Mental

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kesehatan mental mahasiswa di Indonesia. Dengan melibatkan 388 mahasiswa S1, penelitian ini berupaya memperluas kajian tentang faktor individual dan pengalaman sosial yang relevan dalam memahami kecenderungan bunuh diri pada populasi mahasiswa.

Iklan

Analisis terhadap peran moderasi pengalaman perundungan diharapkan dapat memberikan gambaran apakah hubungan antara ketahanan akademik dan kecenderungan bunuh diri berbeda berdasarkan pengalaman perundungan yang dialami mahasiswa. Temuan penelitian nantinya dapat menjadi salah satu dasar untuk mengembangkan strategi pencegahan yang tidak hanya menekankan penguatan kapasitas individu, tetapi juga mendorong terciptanya lingkungan kampus yang aman, suportif, dan bebas dari perundungan.

Meski demikian, hasil penelitian tetap perlu ditafsirkan berdasarkan temuan empiris yang diperoleh. Hubungan statistik antarvariabel tidak dengan sendirinya membuktikan hubungan sebab-akibat. Hasil analisis akan menjadi dasar untuk menentukan implikasi ilmiah dan rekomendasi yang sesuai bagi perguruan tinggi.

Mendukung Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs)

Penelitian ini memiliki keterkaitan dengan sejumlah tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang dicanangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being)

Penelitian ini berkaitan langsung dengan upaya mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis mahasiswa. Kajian mengenai ketahanan akademik, pengalaman perundungan, dan kecenderungan bunuh diri dapat memperkaya bukti ilmiah yang dibutuhkan untuk mengembangkan pendekatan pencegahan, deteksi dini, serta dukungan psikologis di lingkungan perguruan tinggi. Kontribusi ini sejalan dengan target SDG 3, khususnya Target 3.4, yang mencakup peningkatan kesehatan mental dan kesejahteraan.

SDG 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education)

Pendidikan berkualitas tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga dengan tersedianya lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan mahasiswa secara menyeluruh. Dengan mengkaji pengalaman perundungan dan ketahanan akademik, penelitian ini dapat menjadi landasan bagi pengembangan kebijakan kampus yang lebih responsif terhadap kebutuhan psikologis mahasiswa. Hal ini selaras dengan semangat SDG 4 untuk memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas serta mendukung kesempatan belajar bagi semua.

Iklan

SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh (Peace, Justice and Strong Institutions)

Pengalaman perundungan juga berkaitan dengan kualitas interaksi sosial dan rasa aman dalam lingkungan pendidikan. Penelitian ini dapat mendukung upaya membangun budaya kampus yang menghargai martabat individu, menolak kekerasan, dan memperkuat mekanisme pencegahan serta penanganan perundungan. Kontribusi tersebut sejalan dengan SDG 16, terutama upaya mengurangi kekerasan dan menciptakan lingkungan sosial yang lebih aman.

Mendorong Kampus yang Lebih Peduli terhadap Kesehatan Mental

Melalui penelitian ini, penguatan kesehatan mental mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga menjadi perhatian bersama bagi perguruan tinggi, dosen, tenaga kependidikan, konselor, dan komunitas mahasiswa. Dukungan sosial, akses terhadap layanan konseling, mekanisme pelaporan perundungan yang aman, serta edukasi mengenai kesehatan mental merupakan beberapa aspek yang dapat dipertimbangkan dalam pengembangan kebijakan kampus.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu psikologi, khususnya psikologi pendidikan dan psikologi kesehatan, sekaligus memperkuat basis ilmiah untuk merancang intervensi yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa di Indonesia.

Penelitian ini menegaskan pentingnya melihat mahasiswa secara utuh, bukan hanya berdasarkan prestasi dan ketahanan akademiknya, tetapi juga melalui pengalaman sosial dan kondisi psikologis yang menyertai perjalanan pendidikan mereka. Dengan demikian, perguruan tinggi diharapkan dapat terus mengembangkan lingkungan pendidikan yang tidak hanya mendorong keberhasilan akademik, tetapi juga menjaga kesehatan mental, rasa aman, dan kesejahteraan seluruh mahasiswa.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.