THAILAND | JATIMSATUNEWS.COM: Peran aktif dunia akademik Indonesia di kancah internasional kembali dibuktikan oleh Universitas Brawijaya (UB). Guru Besar Fakultas Pertanian UB, Prof. Syahrul Kurniawan, S.P., M.P., Ph.D., bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dipercaya menjadi delegasi resmi Indonesia dalam ajang Expert Group Meeting bertajuk “Innovative Space Applications for Crop Biodiversity and Resilient Agriculture” di Bangkok, Thailand.
Sidang bergengsi yang diinisiasi oleh United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UN ESCAP) ini berlangsung pada 26–27 Oktober 2026 di United Nations Conference Centre (UNCC). Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari sidang ke-30 Intergovernmental Consultative Committee (ICC-30) on the Regional Space Applications Programme for Sustainable Development in Asia and the Pacific (RESAP).
Kehadiran Prof. Syahrul dalam forum internasional ini merupakan undangan khusus dari Director Information and Communications Technology and Disaster Risk Reduction Division UN ESCAP, Kiyoung Ko. Dalam delegasi tersebut, pihak BRIN diwakili oleh Prof. Danang Surya Candra, Ph.D. dari Pusat Riset Geoinformatika (PRGI).
Baca juga: Dua Mahasiswi FTIK UIN Malang Raih Juara 2 Podcast Communications Festival 2026

Paparkan Hasil Riset Pemantauan Keanekaragaman Tanaman Lewat Remote Sensing
Pada hari pertama pelaksanaan kegiatan, tepatnya dalam sesi bertajuk Session 1: Innovative Applications for Crop Biodiversity, Prof. Syahrul mendapat kesempatan emas untuk menyampaikan materi utama. Di hadapan para delegasi mancanegara, ia memaparkan makalah berjudul “Field Survey and Crop Diversity Monitoring in Indonesia”.
Dalam paparannya, Prof. Syahrul menjelaskan secara komprehensif mengenai perkembangan hasil survei lapangan serta pemantauan keanekaragaman tanaman di Indonesia. Ia menuturkan bahwa pencapaian tersebut didukung penuh oleh pemanfaatan teknologi penginderaan jauh (remote sensing) dan Geo-AI sebagai bagian integral dari riset kolaborasi bertajuk proyek CropBio.
Sesi pemaparan tersebut turut diisi oleh sejumlah pakar terkemuka dunia, seperti Prof. Yuan Zeng dari Aerospace Information Research Institute, Chinese Academy of Sciences (AIRCAS), serta Prof. Nathaniel R. Alibuyog dari Mariano Marcos State University (MMSU) Filipina yang membahas asesmen keanekaragaman tanaman di wilayah masing-masing.

UB Pimpin Sesi Strategis CropBio Joint Analysis Workshop
Memasuki hari kedua, peran delegasi Indonesia semakin diperhitungkan tatkala Universitas Brawijaya dipercaya untuk memimpin jalannya sesi pembuka dalam CropBio Joint Analysis Workshop yang bersifat terbatas.

Dalam sesi bertajuk “Reflections on the Protocol for Crop Diversity Monitoring”, tim UB memaparkan draf protokol pemantauan keanekaragaman tanaman CropBio. Protokol ini dirancang agar fleksibel dan dapat diterapkan di berbagai negara, sekaligus memandu proses peninjauan serta revisi bersama seluruh peserta sidang.
Rangkaian workshop kemudian dilanjutkan dengan analisis data lintas negara yang dipimpin langsung oleh pihak AIRCAS, diskusi mendalam mengenai protokol penilaian biodiversitas bersama MMSU, hingga perumusan rencana kerja tahun 2027.
“Perkembangan teknologi geospasial dan artificial intelligence telah berkembang pesat dalam berbagai bidang, termasuk dalam monitoring biodiversitas tanaman pangan, namun harus diiringi dengan suatu protocol terstandarisasi agar dapat diterapkan oleh berbagai negara dan stakeholders,” ujar Prof. Syahrul menegaskan pentingnya standarisasi riset global.
Perkuat Komitmen Global Lewat Pencapaian SDGs
Melalui forum strategis ini, integrasi data observasi lapangan dengan teknologi satelit dinilai menjadi instrumen krusial dalam menghadapi ancaman krisis pangan global, perubahan iklim, serta degradasi lahan di kawasan Asia dan Pasifik.
Keterlibatan aktif Prof. Syahrul bersama BRIN menegaskan komitmen nyata Universitas Brawijaya dalam memperluas jejaring riset internasional. Kontribusi ini sekaligus menjadi wujud nyata dukungan UB terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2.4 dalam mewujudkan sistem produksi pangan berkelanjutan.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.