Langsung ke konten
Minggu, 16 Agustus 2026
Headline KAI Daop 7 Madiun Tambah Kapasitas Rangkaian, Akomodir Lonjakan Penumpang Libur Panjang HUT ke-81 RI
Nasional

Kenalan dengan Kajian Keilmuan ‘Occupational Health Psychology’ Penyelamat Mental Gen Z di Dunia Kerja

OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: Bekerja adalah kegiatan yang paling banyak menyita waktu kita sebagai orang dewasa bahkan lebih lama dari aktivitas lainnya selain tidur. Karena waktunya yang begitu panjang, dinamika pekerjaan punya pengaruh yang sangat besar terhadap kesehatan kita secara keseluruhan. Di sinilah peran penting Occupational Health Psychology sebagai ilmu yang mengkaji hubungan antara dunia kerja dan kesejahteraan manusia. Di Amerika Serikat saja, Biro Statistik Tenaga Kerja mencatat ada 5.333 pekerja yang mengalami kecelakaan fatal di tempat kerja dalam satu tahun, belum termasuk puluhan ribu orang yang meninggal karena penyakit akibat kerja, serta jutaan lainnya yang cedera dan terpaksa absen.

Selain fisik, pekerjaan juga sangat memengaruhi kesehatan mental kita. Berdasarkan survei tahunan Stress in America dari American Psychological Association (APA), pekerjaan konsisten menjadi sumber stres nomor satu selama lebih dari sepuluh tahun terakhir. Apalagi bagi generasi muda atau Gen Z saat ini yang sering kali terjebak dalam hustle culture, tuntutan target yang tidak realistis, dan berujung pada kelelahan mental parah (burnout).

Apa Itu Occupational Health Psychology (OHP)?

Secara sederhana, Occupational Health Psychology adalah bidang ilmu yang mempelajari hubungan antara pekerjaan dan kesehatan mental maupun fisik karyawan. Tujuannya jelas: memahami bagaimana lingkungan kerja memengaruhi kondisi psikologis pekerja, lalu merancang langkah nyata agar tempat kerja menjadi tempat yang aman dan sehat.

Kalau Psikologi Industri dan Organisasi (PIO) biasanya lebih fokus pada bagaimana perusahaan bisa berjalan produktif dan efisien, Occupational Health Psychology hadir sebagai penyeimbungnya. Bidang keilmuan ini memastikan bahwa kesejahteraan dan kebahagiaan karyawan bukan sekadar pajangan slogan perusahaan, melainkan benar-benar diterapkan dalam keseharian.

Ilustrasi penerapan Occupational Health Psychology dalam sesi kolaborasi kelompok dan kesehatan kerja
Kegiatan kolaboratif yang mempererat kebersamaan dan komunikasi antarpeserta.

Sejarah Singkat: Evolusi Occupational Health Psychology

Dulu, dunia kerja hanya memikirkan keselamatan fisik pekerja, misalnya bagaimana caranya agar pekerja pabrik tidak celaka dengan menyediakan alat pelindung diri (APD) dan aturan keselamatan mesin.

Namun, seiring berjalannya waktu, para ahli menyadari bahwa tekanan psikologis seperti atasan yang toksik, beban kerja berlebihan, dan rasa terisolasi ternyata sama merusaknya dengan kecelakaan fisik. Akhirnya, melalui perkembangan disiplin Occupational Health Psychology, pada awal tahun 1990-an bidang ini resmi diakui sebagai ilmu tersendiri untuk menjawab masalah kesehatan mental di tempat kerja yang semakin mendesak.

Rumus Dasar: Model Job Demands-Resources (JD-R)

Untuk memahami bagaimana sebuah pekerjaan bisa bikin stres atau justru bikin semangat, para praktisi Occupational Health Psychology menggunakan teori bernama JD-R Model:

  • Job Demands (Tuntutan Pekerjaan): Segala hal di pekerjaan yang menguras tenaga, pikiran, dan emosi kita (contohnya: beban kerja menumpuk atau tenggat waktu yang ketat). Kalau terlalu berlebihan, ini akan memicu burnout dan merusak kesehatan.
  • Job Resources (Sumber Daya Pekerjaan): Segala hal yang justru membantu kita menyelesaikan tugas dan membuat kita merasa didukung (contohnya: atasan yang pengertian, jadwal kerja yang fleksibel, atau kejelasan tugas). Hal inilah yang membuat kita lebih semangat dan menikmati pekerjaan (work engagement).

Ketika kita punya sumber daya yang cukup untuk menghadapi tuntutan pekerjaan, kita tidak hanya terhindar dari stres, tapi juga bisa meraih kesuksesan karier secara utuh baik dari segi pencapaian maupun kepuasan hidup.

Tiga Tantangan Utama dalam Dunia Kerja Modern

Berdasarkan riset mutakhir dalam bidang Occupational Health Psychology, ada tiga isu besar yang paling sering memengaruhi kesehatan mental dan karier pekerja saat ini:

A. Stres Akibat Ekonomi

  1. Job Insecurity: Rasa cemas karena takut kehilangan pekerjaan atau takut kehilangan fasilitas dan kesempatan berkembang di tempat kerja saat ini.
  2. Underemployment: Kondisi di mana seseorang bekerja di bawah kualifikasi pendidikannya (misalnya gajinya kecil atau bidang kerjanya tidak nyambung sama sekali), yang sering kali bikin frustrasi.

B. Bentuk Pekerjaan yang Semakin Baru

  1. Pekerjaan Non-Standar: Menjadi pekerja remote, pekerja lepas (freelance), atau karyawan kontrak yang sering kali memiliki kepastian hukum dan perlindungan sosial yang lebih rendah.
  2. Emotional Labor (Beban Emosional): Tekanan psikologis saat kita harus terus-terusan tersiram senyum dan ramah kepada pelanggan padahal sedang penat. Memalsukan emosi (surface acting) jauh lebih melelahkan ketimbang benar-benar berusaha memahami situasi (deep acting).
  3. Konflik Kerja dan Keluarga: Benturan waktu dan energi antara urusan kantor dan urusan rumah tangga, yang bisa diredam jika perusahaan punya budaya yang suportif terhadap keluarga karyawan.

C. Pengalaman Kerja

  1. Pekerjaan yang Bermakna (Meaningful Work): Ketika seseorang merasa pekerjaannya benar-benar sejalan dengan nilai hidupnya dan memberikan dampak positif bagi orang lain.
  2. Iklim Kerja yang Menghargai Usia: Perusahaan yang tidak membeda-bedakan karyawan senior maupun junior, sehingga tercipta kolaborasi lintas generasi yang harmonis.
  3. Ketahanan Karier (Career Resilience): Kemampuan mental seseorang untuk bangkit kembali saat menghadapi guncangan besar dalam karier, seperti di-PHK atau harus pindah jalur pekerjaan secara mendadak.

Menciptakan Kantor yang Sehat

Alih-alih menyuruh karyawan ikut seminar healing setelah mereka telanjur stres berat, pendekatan Occupational Health Psychology fokus mencegah masalah dari akarnya. Perusahaan diajak untuk mendesain ulang cara kerja agar lebih manusiawi. Salah satu contoh panduan globalnya adalah Total Worker Health (TWH), sebuah inisiatif yang menggabungkan keselamatan kerja konvensional dengan program promosi kesehatan mental yang menyeluruh.

Kesimpulan! Kesehatan Mental Bukan Sekadar Tren

Kesehatan mental di tempat kerja bukanlah fasilitas tambahan yang mewah atau sekadar tren kekinian, melainkan kebutuhan dasar yang wajib ada. Hadirnya disiplin Occupational Health Psychology membuktikan bahwa perusahaan tetap bisa maju dan produktif tanpa harus “mengorbankan” kesehatan mental karyawannya. Jadi, kalau kamu adalah bagian dari angkatan kerja muda, sudah saatnya lebih peduli pada kesehatan mental diri sendiri dan menuntut lingkungan kerja yang lebih sehat!

Untuk membaca artikel ulasan Psikologi dan analisis Isu Sosial lainnya di Jawa Timur, Anda dapat menyimak informasi lengkapnya di portal Jatim Satunews.

Referensi Pustaka

  • American Psychological Association (APA). (2021). Stress in America: Coping with change. APA.
  • Bakker, A. B., & Demerouti, E. (2017). Job demands–resources theory: Taking stock and looking forward. Journal of Occupational Health Psychology, 22(3), 273–285.
  • Bureau of Labor Statistics (BLS). (2020). National Census of Fatal Occupational Injuries in 2019. U.S. Department of Labor.
  • National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). (2021). Total Worker Health®: Fundamentals and approach. Centers for Disease Control and Prevention (CDC).
  • Quick, J. C., & Tetrick, L. E. (Eds.). (2011). Handbook of occupational health psychology (2nd ed.). American Psychological Association.
  • Schaufeli, W. B., & Bakker, A. B. (2004). Job demands, job resources, and their relationship with burnout and engagement: A multi-sample study. Journal of Organizational Behavior, 25(3), 293–315.
  • Spector, P. E. (2016). Industrial and organizational psychology: Research and practice (7th ed.). John Wiley & Sons.

Tentang Penulis

Hafizh Akbar Maulana adalah mahasiswa Magister Sains Psikologi Universitas Brawijaya yang aktif sebagai praktisi serta peneliti psikologi terapan. Ia berfokus pada pengembangan Psikologi Positif dan strategi Human Capital, serta berdedikasi tinggi terhadap aplikasi psikologi untuk meningkatkan kesejahteraan individu sekaligus mendorong pertumbuhan organisasi dan industri.

Untuk konsultasi psikologi, pendampingan individu, maupun pengembangan diri, Anda dapat menghubungi layanan resmi via WhatsApp di +62 857-9239-8659.

Foto profil Hafizh A. Maulana
Hafizh A. Maulana

Peneliti & Praktisi Psikologi Terapan. Berfokus pada integrasi pendekatan interdisipliner untuk mengakselerasi pertumbuhan manusia dan kesehatan mental di ranah Industri-Organisasi, Pendidikan, dan Sosial. Berkomitmen membumikan sains psikologi menjadi solusi konkret, berdampak, dan berbasis data.

Lihat semua artikel oleh Hafizh A. Maulana