JATIMSATUNEWS.COM, SIDOARJO – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Mayjen TNI Trenggono mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dalam menangani kasus dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Putat, Tanggulangin.
Mayjen TNI Trenggono memastikan kondisi para korban terus membaik. Dari 748 santri yang terdampak, sebagian besar telah pulih dan kembali ke pondok pesantren. Hingga Jumat (4/9), tinggal 22 orang yang masih menjalani perawatan di sembilan rumah sakit atau fasilitas kesehatan.
Kondisi tersebut dipastikan langsung oleh Mayjen TNI Trenggono saat melakukan kunjungan ke Kabupaten Sidoarjo, Jumat pagi. Ia datang bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Choiri Fauzi serta lima anggota Tim Kantor Staf Presiden (KSP), yakni Letjen TNI (Purn) Arif Rahman, Letjen TNI (Purn) Alfred Denny Tuejeh, Lindsey Arsari Puteri, Irhamna, dan Irhash Ahmady.
Didampingi Bupati Sidoarjo H. Subandi, Mayjen TNI Trenggono terlebih dahulu meninjau kondisi korban yang masih menjalani perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo. Rombongan kemudian mendatangi Pondok Pesantren Manbaul Hikam Putat, Tanggulangin, untuk melihat kondisi para santri sekaligus menggali informasi mengenai kronologi awal kejadian dari pihak pengasuh pondok.
Dalam kunjungan tersebut, Mayjen TNI Trenggono juga meninjau SPPG Al-Amanah Junwangi yang berada di kompleks Pondok Pesantren Al-Amanah Junwangi, Krian.“Dari laporan pengasuh pondok pesantren, yang terdampak adalah 740-an. Kemudian sampai dengan pagi ini sudah kembali semua, tinggal 22 di sembilan rumah sakit atau tempat kesehatan.
Dan semua sudah dalam kondisi pulih, sudah dalam kondisi baik,” ujar Trenggono.Ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Sidoarjo beserta seluruh jajaran yang bergerak cepat dalam menangani para korban.“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Pak Bupati yang sudah bertindak cepat, sehingga semuanya tertangani dengan baik. Itu yang utama adalah harus tertangani dengan baik,” katanya.
SPPG Kalitengah Disuspend dan Kepala Dapur DicopotSelain memastikan kondisi korban, BGN juga melakukan evaluasi terhadap SPPG Kalitengah, Tanggulangin, yang menjadi penyedia makanan dalam program MBG tersebut.
Mayjen TNI Trenggono menyampaikan permohonan maaf atas dugaan kelalaian atau ketidakpatuhan petugas dapur dalam menjalankan operasional SPPG. Menurutnya, BGN akan melakukan investigasi secara menyeluruh untuk mengetahui penyebab kejadian, termasuk memastikan apakah seluruh standar operasional prosedur (SOP) telah dijalankan.
“Kami juga menyampaikan permohonan maaf kami atas mungkin kelalaian ataupun ketidakpatuhan petugas dapur dalam mengoperasionalkan dapur, sehingga adanya kejadian fatal ini,” ujarnya.
Untuk sementara, BGN memberikan sanksi penghentian operasional atau suspend terhadap SPPG Kalitengah, Tanggulangin. Dapur tersebut tidak diperbolehkan melayani program MBG hingga proses evaluasi dan investigasi selesai. BGN juga mencopot kepala dapur SPPG Kalitengah sebagai bagian dari langkah evaluasi.
“Sementara kita suspend, suspend berat, artinya kita evaluasi, kita adakan investigasi. Kemudian juga kepala dapur kita copot, kita berhentikan. Nanti kita cek apakah ada hal-hal unsur lain yang kira-kira membuat kejadian fatal ini,” tegasnya.
Trenggono menjelaskan bahwa BGN selama ini melakukan pengawasan terhadap operasional dapur SPPG di berbagai daerah. Pengawasan dilakukan secara rutin, termasuk melalui rapat daring setiap pagi bersama para penanggung jawab SPPG di seluruh provinsi.
Menurutnya, pengawasan tersebut mencakup proses penerimaan bahan mentah, pemeriksaan kualitas bahan, proses memasak, hingga pengemasan dan pendistribusian makanan.
“Kami mengecek secara langsung melalui Zoom mulai dari penerimaan barang mentah sampai dengan pengecekan baik-buruknya bahan-bahan ini. Sampai dengan jam 2 malam, itu ada kegiatan mulai dari pembersihan bahan-bahan, masak, sampai dengan pendistribusian, termasuk porsian,” jelasnya.
PPPA Siapkan Pendampingan Trauma Healing. Sementara itu, Menteri PPPA Arifah Choiri Fauzi mengatakan pihaknya siap memberikan pendampingan apabila para santri membutuhkan pemulihan psikologis pascakejadian.
Menurutnya, anak-anak yang mengalami peristiwa tersebut perlu mendapatkan perhatian, terutama jika muncul trauma atau gangguan emosional setelah kejadian.
“Kalau memang pihak pondok pesantren bisa melakukan pendekatan trauma healing untuk anak-anak, ya alhamdulillah. Tapi seandainya masih membutuhkan, kami siap untuk berkolaborasi agar anak-anak ini siap kembali ke sekolah,” ujarnya.
Pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu para santri memulihkan kondisi psikologis dan emosional sehingga mereka dapat kembali mengikuti kegiatan belajar dan aktivitas di lingkungan pondok pesantren dengan baik.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.