SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM: Terpilihnya kembali Dr. H. Emil Elestianto Dardak, B.Bus., M.Sc., Ph.D., sebagai nakhoda Pengurus Wilayah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jawa Timur masa bakti 2026–2031 menuai apresiasi dan sambutan hangat dari berbagai pihak. Salah satu dukungan datang dari Anggota DPD RI terpilih asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, S.H.I., S.Sos., S.Sos.I., M.E.I.
Senator perempuan yang akrab disapa Ning Lia tersebut menyampaikan ucapan selamat atas dikukuhkannya Emil bersama 85 pengurus MES Jatim di Surabaya. Menurutnya, kesinambungan kepemimpinan ini harus dijadikan batu loncatan berharga guna mengokohkan ekosistem syariah agar dampaknya semakin menyentuh denyut ekonomi masyarakat bawah.
“Selamat kepada Pak Emil Dardak yang kembali dipercaya memimpin MES Jawa Timur. Semoga amanah dan mampu semakin memperkuat ekosistem ekonomi syariah, khususnya agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” tutur Ning Lia saat memberikan keterangan.
Baca juga: PW MES Jatim Hadiri Munas VII Masyarakat Ekonomi Syariah
Baca juga: Puncak ISFO 2026, OJK Dorong Generasi Muda Jadi Penggerak Utama Ekonomi Syariah Nasional
Peraih gelar doktor ekonomi syariah UIN Sunan Ampel Surabaya itu menegaskan, kekuatan riil ekonomi syariah di Jawa Timur bertumpu pada fondasi pelaku UMKM, lingkungan pesantren, koperasi, dan komunitas usaha lokal.
Oleh sebab itu, akselerasi industri halal dinilainya wajib diimbangi dengan kemudahan akses permodalan, penguatan literasi manajerial, percepatan sertifikasi, integrasi digital, hingga keterbukaan akses pasar.
Ning Lia mengingatkan bahwa kesuksesan pembangunan ekonomi tidak semata-mata diukur melalui deretan angka statistik atau kenaikan volume transaksi kelembagaan semata, melainkan dari pemerataan kesejahteraan warga.
“Saya mengapresiasi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada 2026. Di bawah kepemimpinan Ibu Gubernur, keberhasilan pembangunan tidak cukup dilihat dari angka pertumbuhan, tetapi juga dari seberapa jauh masyarakat merasakan manfaat pembangunan secara nyata, termasuk melalui akses pekerjaan dan kesempatan ekonomi,” tegasnya.
Ia mencontohkan konsep efek berganda (multiplier effect) yang nyata terlihat pada momentum keramaian umat, seperti gelaran Muktamar ke-35 NU di Jombang, di mana pergerakan ribuan massa sanggup menghidupkan sektor kuliner, penginapan, transportasi, hingga jasa mikro di sekitarnya.
“Ekonomi syariah jangan hanya menjadi ekosistem yang besar secara kelembagaan, tetapi juga harus kuat di tingkat masyarakat. UMKM, pesantren, koperasi, dan generasi muda harus memiliki ruang untuk tumbuh,” sambungnya.
Dalam pandangannya, penguatan ekosistem halal juga membutuhkan modal sosial yang kokoh, selaras dengan hasil riset disertasinya terdahulu mengenai nilai amanah, ukhuwah Islamiyah, dan konsep at-ta’awun atau gotong royong saling menguatkan antar-pelaku usaha.
“Semoga MES Jawa Timur semakin solid, mampu menjawab kebutuhan pelaku usaha, dan menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai kekuatan ekonomi syariah. Yang paling penting, pertumbuhan ekosistem ini bisa bermuara pada kesejahteraan masyarakat Jawa Timur,” pungkas Ning Lia penuh harap.
Sementara itu, dalam kepengurusan periode keduanya ini, Emil Dardak menegaskan tekadnya untuk memperluas pendampingan sertifikasi halal bagi kalangan pedagang kecil yang selama ini terkendala prosedur administratif. Emil juga terus mendorong pembentukan Halal Industrial Park berstatus Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) guna memperkuat rantai pasok industri sekaligus mengoptimalkan peran perbankan daerah melalui Unit Usaha Syariah (UUS) Bank Jatim.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam kesempatan terpisah turut menekankan urgensi mengintegrasikan potensi pesantren, UMKM, dan korporasi dari hulu hingga hilir demi menjaga reputasi Jawa Timur sebagai barometer utama ekonomi dan keuangan syariah di tingkat nasional.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.