Tantangan Transisi dari Sekolah ke Dunia Kampus
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Masa transisi dari Sekolah Menengah Atas (SMA) ke dunia perkuliahan kerap kali membuat mahasiswa baru merasa kaget dengan budaya akademik yang berbeda. Tugas teori yang menumpuk sejak semester awal sering kali memicu rasa jenuh hingga berujung pada kebiasaan Sistem Kebut Semalam (SKS). Menyikapi fenomena tersebut, Kepala Bagian Pendidikan dan Pengajaran Umum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, S.Pd., M.Pd., membagikan berbagai tips jitu adaptasi akademik. Hal tersebut disampaikannya di hadapan ribuan mahasiswa baru Gen 26 UMM dalam kegiatan kajian Kamisya yang digelar di Masjid AR Fachruddin UMM, Kamis (22/10/2026).
Di hadapan para mahasiswa, dosen yang akrab disapa Woro ini menegaskan bahwa pola belajar saat di bangku SMA tidak lagi relevan diterapkan di lingkungan kampus. Menurutnya, mahasiswa di perkuliahan dituntut untuk belajar secara mandiri serta mampu memecahkan masalahnya sendiri secara kreatif. “Di kampus, kitalah yang memandu diri sendiri. Kapan tugas harus selesai, kapan dikumpulkan, sampai proyek apa yang mau dikerjakan, semuanya ada di tangan mahasiswa,” ujar Woro menjelaskan.
Kenali Tiga Tipe Mahasiswa dalam Menghadapi Masalah Akademik
Menanggapi keluhan seputar tumpukan tugas, Woro menerangkan bahwa tugas pada awal semester memang didominasi oleh teori sebagai fondasi ilmu dasar. Namun, ia memastikan bahwa pada semester-semester berikutnya, perkuliahan akan beralih ke ranah praktik, mulai dari pembuatan proyek, pemecahan studi kasus, hingga kegiatan riset mendalam. Ia juga mengingatkan bahwa tugas kuliah tidak sekadar berorientasi pada pencarian nilai semata, melainkan sebagai instrumen penting untuk mengukur sikap, pengetahuan, serta keterampilan mahasiswa.
Selain itu, penugasan kelompok juga dirancang untuk menguji mental mahasiswa agar mampu berkolaborasi dengan baik secara tim. Berdasarkan riset yang dilakukannya, Woro memetakan tiga tipe mahasiswa saat berhadapan dengan kendala akademik. Pertama adalah tipe Quieters yang digambarkan sebagai individu mudah menyerah dan hanya sekadar titip nama dalam kelompok. Kedua yakni tipe Campers, yaitu mereka yang sebenarnya memiliki potensi besar namun cepat merasa puas dan cenderung menyerahkan sisa tugas kepada orang lain. Terakhir adalah tipe Climbers, yakni sosok mahasiswa pejuang sejati yang pantang menyerah menyelesaikan berbagai persoalan dalam situasi apa pun.
Strategi Manajemen Waktu dan Pendekatan Spiritual
Agar terhindar dari jebakan SKS dan sukses menjadi golongan Climbers, Woro menyarankan agar mahasiswa menguasai keterampilan pengaturan waktu secara efektif. Ia menjelaskan bahwa mahasiswa perlu cermat memilah aktivitas berdasarkan skala prioritas, mulai dari kegiatan yang penting dan mendesak, penting tetapi tidak mendesak, tidak penting namun mendesak, hingga aktivitas yang sama sekali tidak penting serta tidak mendesak seperti terlalu lama bermain gawai atau nongkrong tanpa arah tujuan yang jelas.
Langkah manajemen waktu tersebut dapat dikombinasikan dengan penerapan teknik Pomodoro, di mana mahasiswa fokus belajar secara intensif tanpa gangguan selama 25 menit disusul waktu istirahat selama 5 menit. Kendati demikian, Woro berpesan agar seluruh teknik pengelolaan waktu tersebut senantiasa berpedoman pada jadwal salat lima waktu sebagai landasan utama dalam menata rutinitas harian. “Produktif bukan cuma soal sibuk mengejar IPK, tapi bagaimana proses belajar kita bisa bermanfaat bagi sesama dan bernilai ibadah. Jangan menunggu waktu luang untuk belajar, tapi luangkanlah waktu untuk belajar agar jadi mahasiswa yang pintar dan kuat spiritualnya,” tutup Woro mengakhiri sesinya.
Caption Gambar:


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.